DI BUKIT Napo, Sulawesi Barat berdiri sebuah kerajaan yang sangat makmur. Namanya Kerajaan Balanipa. Kerajaan Balanipa ini berada di daerah yang subur. Hasil kekayaan alamnya melimpah dan dapat menambah penghasilan rakyatnya.
Kerajaan ini dipimpin oleh seorang yang yang sangat bijaksana dan adil. Kekayaan alam yang diperoleh dibagikan dengan rata, sehingga rakyat pun hidup makmur. Namun di balik sisi baik tersebut, sang raja memiliki nafsu berkuasa yang sangat besar.
Sudah tiga puluh tahun lamanya Raja Balanipa menjalankan roda pemerintahannya. Selama itu pula dua tidak pernah mau turun dari tahtanya. Bahkan, ia menolak mewariskan jabatan raja kepada anak laki-lakinya. Padahal dia punya dua anak laki-laki.
Bukan, Raja Balanipa memerintahkan patihnya untuk membuang kedua buah hatinya tersebut ke negeri seberang. Sebab dia cemas, kalau saja sang anak belakangan merebut kekuasaannya.
Peristiwa itu membuat permaisuri takut bila hamil lagi. Namun apa hendak dikata, beberapa bulan setelah kedua anaknya dibuang, sang permaisuri kembali hamil. Permaisuri lantas gelisah dan resah. Terlintas di benaknya kondisi bayinya bila berjenis kelamin laki-laki. Dia pasti akan kembali dibuang oleh sang raja. Senasib dengan kedua kakaknya.
Ia sempat bertanya dalam hati, apakah dia akan mengabarkan kehamilannya kepada sang raja? Namun dia tetap mengabarkan hal tersebut karena takut sang Raja Balanipa murka. Mengetahui hal tersebut, sang raja tak memberi respons gembira. Seperti sudah ditebak, dia kembali cemas bila kelak anaknya adalah laki-laki. .
Pada suatu hari, Raja Balanipa dan hulubalangnya berburu ke negeri Mosso dalam waktu yang lama. Sebelum meninggalkan istana, sang raja berpesan kepada Panglima Puang Mosso untuk menjaga keluarganya. Ia juga memerintahkan bila permaisuri melahirkan bayi laki-laki, bayi itu harus kausingkirkan jauh-jauh. Namun, jika bayi itu perempuan, rawatlah bayi itu dengan baik. Kendati sang panglima kaget dengan perintah tersebut, tapi dia tak berani membantah sang raja.
Beberapa bulan ditinggal sang raja, tibalah saatnya permaisuri melahirkan. Panglima Puang Mosso cemas sembari berdoa semoga sang anak berjenis kelamin perempuan. Sehingga tidak berbuat dosa membuang seorang anak. Doa yang sama juga terus dipanjatkan oleh sang permaisuri. Namun doa tersebut tidak terkabulkan, sang permaisuri kembali melahirkan bayi laki-laki. Bedanya, bayi itu memiliki tanda fisik, yaitu lidah berwarna hitam dan berbulu.
Tentu kehadiran bayi laki-laki tersebut membuat permaisuri semakin cemas. Dengan hati yang gundah, permaisuri menyampaikan hal tersebut kepada Panglima Puang Mosso yang sudah dari tadi mondar mandir di luar ruang persalinan. Mendengar kabar tersebut, Panglima Puang Mosso hanya bisa pasrah. Namun di lubuk hatinya, dia tak tega membuang bayi tersebut.
Demi keselamatan sang bayi, Panglima Puang Mosso lantas menawarkan ke permaisuri untuk menyembunyikan bayi tersebut ke kerabatnya di tempat yang jauh. Jika kelak Raja Balanipa kembali dari berburu dia akan menyampaikan bahwa bayi itu sudah meninggal dan membuat gundukan tanah di dekat taman istana sebagai kuburan sang bayi. Dengan berlinang air mata, permaisuri setuju meski harus berpisah dengan buah hatinya.
Saat itu juga Panglima Puang Mosso langsung menuju ke negeri seberang, di Pulau Salemo, untuk menyerahkan bayi permaisuri kepada kerabatnya yang bernama Puang Tala. Kepada Panglima Puang Mosso, Puang Tala berjanji akan merawat bayi laki-laki ini itu seperti merawat anaknya sendiri.
Tak lama setelah Panglima Puang Mosso kembali ke istana, ketika bulan purnama, Raja Balanipa kembali dari berburu. Panglima menyambut kedatangan Raja Balanipa dengan cemas karena harus berbohong soal banyi laki-lakinya. Setelah memberi penjelasan, sang raja lantas meminta Puang Mosso agar diantarkan ke makam bayi laki-lakinya. Seusai berdoa dan puas mengamati makam tersebut, Raja dan Panglima Puang Mosso kembali ke istana.
Nun jauh di Pulau Salemo, bayi laki-laki Raja Balanipa tumbuh menjadi pemuda yang tampan nan gagah perkasa. Di bawah bimbingan ayah angkatnya Puang Tala, bayi tersebut menjelma jadi pemuda yang pintar dan tidak sombong. Berbagai ilmu dipelajarinya dengan tekun. Sehingga menjadi pemuda yang baik hati, tangkas, dan cerdas. Hal itu terdengar sampai ke telinga Raja Gowa. Sehingga akhirnya, ia diangkat menjadi panglima dengan gelar Manyambungi.
Sejak menjadi panglima, Kerajaan Gowa menjadi sangat terkenal dan semakin makmur. Kehebatan ilmu perang Panglima Manyambungi membuat Kerajaan Gowa selalu menang dalam berperang. Negeri-negeri kecil di sekitar Kerajaan Gowa segan dan takut untuk bertarung. Sehingga mereka akhirnya tunduk kepada Raja Gowa. Pangeran Manyambungi juga sangat sangat menyayangi rakyat Gowa. Ia pun tak ragu-ragu untuk membela kaum yang lemah. Tak heran jika rakyat juga sangat kagum dan bangga kepadanya.
Berbeda dengan kondisi Kerajaan Balanipa yang sangat memprihatinkan. Rakyat Balanipa hidup dengan penuh penderitaan lantaran sang raja sudah semakin dibutakan oleh kekuasaan. Raja Balanipa sudah tidak memperhatikan rakyatnya lagi. Di sisi lain dia semakin menua. Hingga akhirnya ajal pun menjemputnya. Sejak Raja Balanipa wafat, ia diganti oleh Raja Lego, seorang raja yang sangat kejam dan bengis. Ia sering menganiaya rakyat dan membebaninya upeti yang besar. Akhirnya semakin lama hidup rakyat Balanipa semakin menderita.
Suatu hari, sejumlah rakyat Balanipa diam-diam mengadakan musyawarah untuk menyingkirkan Raja Lego. Namun mereka tahu bahwa di negerinya tidak ada yang berani melawan Raja Lego. Muncullah ide untuk meminta bantuan Panglima Manyambungi yang kehebatannya termasyur hingga ke Balanipa. Namun mereka tak tahu Manyambungi sebenarnya adalah anak Raja Balanipa.
Rakyat Balanipa akhirnya mengutus orang untuk menemui Panglima Manyambungi di Kerajaan Gowa. Utusan tersebut akhirnya berhasil dan menceritakan maksud dan tujuannya. Panglima Manyambungi tertegun mendengar cerita utusan tersebut. Ia teringat kisah hidupnya yang merupakan anak buangan dari Kerajaan Balanipa. Panglima Puang Mosso yang sesekali menjenguknya bahkan menyebut dirinya adalah anak raja.
Manyambungi lantas bersedia membantu rakyat Balanipa tersebut. Namun dia meminta agar dipertemukan lebih dulu Panglima Puang Mosso yang sudah bertahun-tahun tak lagi menemuinya. Sang utusan lantas pamit dan berjanji membawa Panglima Puang Mosso ke Kerajaan Gowa.
Panglima Puang Mosso pun akhirnya tiba di Kerajaan Gowa. Hatinya berdebar ketika bertatap mata dengan anak yang dia antar ke Pulau Salemo untuk dirawat oleh kerabatnya Puang Tala. Ia bertanya-tanya apakah benar dialah anak tersebut? Puang Mosso lantas teringat ciri fisik anak tersebut, yakni lidah berwarna hitam dan berbulu.
Dengan sungkan, Puang Mosso meminta Panglima Manyambungi menjulurkan lidahnya. Dan ternyata, lidah Manyambungi berbulu dan berwarna hitam. Puang Mosso lantas girang dan sangat yakin bahwa panglima yang gagah di hadapannya adalah putra Raja Balanipa. Anak yang terbuang karena nafsu kekuasaan sang ayah.
Pada hari yang telah ditentukan, Panglima Manyambungi beserta pasukan perangnya dan utusan dari Kerajaan Balanipa segera menuju ke Bukit Napo untuk melawan Raja Lego. Manyambugi yang kemudian dijuluki To Dilaling lantas disambut dengan gembira oleh warga Balanipa. Mereka membantu pasukanya menyerang Raja Lego. Pertempuran sengit pun tidak dapat dihindarkan lagi. Akhirnya, To Dilaling berhasil menyingkirkan Raja Lego dan pasukannya. Kemenangan tersebut membuat To Dilaling dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Balanipa di Bukit Napo.
TRI S
Sumber: Bahan disunting dari Buku Panglima To Dilaling oleh Ririen Ekoyanantiasih 2016 (gln.kemdikbud.go.id)
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.