Sejarah
Tempoyak adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Jambi. Dapat di definisikan penamaan tempoyak berasal dari kata poyak yang merupakan cara pengolahan durian yaitu dengan cara mengoyak. Makanan ini sangat popular di Sumatera, terutama di daerah Jambi. Terciptanya tempoyak berawal dari kebudayaan merantau yang sudah sangat melekat di masyarakat Jambi. Bahkan di Sumatra, merantau merupakaan hal umum yang sering dilakukan. Untuk perbekalan selama di daerah perantauan, maka dibuatlah makanan dengan pengolahan sedemikian rupa sehingga dapat awet meskipun disimpan dalam waktu yang lama. Salah satunya adalah tempoyak.
Fermentasi Tempoyak
Pengolahan makanan dengan metode fermentasi bertujuan untuk memberikan cita rasa unik sekaligus mengawetkan makanan yang di fermentasi. Fermentasi merupakan salah satu cara pengolahan makanan yang sudah ada sejak zaman dahulu. Hampir sebagian besar makanan nusantara juga menggunakan metode ini dalam pengolahan makanan kas daerah. Proses fermentasi ini juga berperan dalam membantu makanan agar memiliki umur simpan yang cukup lama. Seperti yang sudah diketahui, tempoyak merupakan hasil fermentasi daging durian.yang melibatkan bakteri asam laktat dengan adanya penambahan sedikit garam. Fermentasi yang terjadi pada pembuatan tempoyak berjalan secara spontan. Fermentasi spontan terjadi selama 2-7 hari dan hasil fermentasi ini akan memberikan padatan semisolid dengan aroma asam yang kuat. Fermentasi tempoyak dilakukan dalam wadah tertutup. Secara tradisional pembuatan tempoyak serupa dengan pembuatan kimchi. Fermentasi dilakukan pada wadah yang terbuat dari tanah liat dan di peram dalam tanah. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, dapat menggunakan wadah lain seperti toples. Fermentasi ini akan menghasilkan cita rasa unik perpaduan antara asam dari hasil fermentasi dan manis dari buah durian.
Cara Pembuatan
Bagaimana caranya membuat tempoyak? Caranya sangat mudah. Ambil daging durian yang sudah sangat matang, buang bijinya, masukkan ke dalam toples lalu beri sedikit garam dan cabai rawit untuk mempercepat proses fermentasi. Tutup rapat dan simpanlah dalam suhu ruang 27 derajat. Diamkan selama satu minggu. Setelah satu minggu, buka dan aduk rata. Tempoyak sudah bisa digunakan untuk bahan masakan. Untuk membuat gulai tempoyak ikan patin, bahanbahan yang digunakan, antara lain, 2 potong ikan patin segar, 20 gram tempoyak, 1 ruas kunyit, 10 biji cabai merah keriting, 2 siung bawang putih, 4 siung bawang merah, 1 sendok makan garam kasar, 2 sendok makan gula, ½ liter air, 2 batang serai, 2 lembar daun salam, dan 5 biji terung panjang. Cara memasaknya: 1) Untuk membuat kuahnya, haluskan bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, dan garam. Lalu, tumis bumbu tersebut bersama tempoyak. Tambahkan air dan biarkan hingga mendidih. 2) Masak ikan patin di wajan berbeda. Masukkan serai, irisan terung, daun salam, gula, dan ikan patin yang sudah dibersihkan. Biarkan sampai mendidih. 3) Angkat ikan patin ke dalam mangkuk lalu siramkan kuah tempoyak. Tempoyak ikan patin siap disantap. Aroma duriannya yang khas menjadi lebih nikmat di lidah ketika perpaduan rasa pedas, manis, dan asamnya menyatu.
Daftar Pustaka Haruminori, Amanda, Nathania Angelia, and Andrea Purwaningtyas. 2018. “Makanan Etnik Melayu: Tempoyak.” Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya 19 (2): 125. https://doi.org/10.25077/jaisb.v19.n2.p125-128.2017. Rini Febriani Hauri. 2017. Kuliner Khas Jambi, Sedap Nian Oi.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...