Tarian
Tarian
Tarian Daerah Istimewa Yogyakarta Jogjakarta
Tarian Srimpi Muncar
- 7 Januari 2021

Srimpi Muncar merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), diciptakan pada 1857, dan disempurnakan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). ‘Muncar’ berarti gemilang atau bersina. Tarian ini dibawakan oleh empat penari putri, beksan ini mengambil cuplikan cerita dari Kagungan Dalem Serat Menak.

Dikisahkan Dewi Adaninggar, putri Cina dari negeri Tartaripura berperang melawan Dewi Kelaswara dari negeri Kelan untuk memperjuangkan cinta Wong Agung Jayengrana. Kedua putri yang sepadan itu saling adu ketangkasan dan kekuatan hingga akhirnya Dewi Kelaswara memenangkan pertarungan. Karena adanya tokoh putri Cina ini, Srimpi Muncar juga dikenal sebagai Srimpi Cina. Dalam pementasan, kedua tokoh tersebut dibedakan terkait ragam gerak, tata busana, dan tata riasnya. Keduanya membawa senjata; keris untuk Dewi Kelaswara dan cundrik untuk Dewi Adaninggar. Dua senjata ini digunakan dalam adegan peperangan.

Naskah Tari: Catatan mengenai Srimpi Muncar dimuat dalam beberapa manuskrip yang kini disimpan di perpustakaan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta. Naskah Serat Beksa Bedhaya Utawi Srimpi dengan kode BS (Bedhaya Srimpi) 7 mencatat berbagai gerakan tari dan petunjuk musik (jumlah gongan), salah satunya Srimpi Muncar yang dimuat dalam subjudul Srimpi Kelaswara Gendhing Muncar.

Serat Kandha Bedhaya Utawi Srimpi berkode BS 9 juga memuat narasi dan iringan musik gamelan. Srimpi Muncar tercatat di bawah subjudul Srimpi (Gendhing Muncar).

Naskah lain ditemukan dalam Serat Kandha Bedhaya Utawi Srimpi BS 13 dan Serat Pasindhen Srimpi Utawi Bedhaya BS 16, dengan subjudul Srimpi Cina (Gendhing Muncar). Naskah-naskah tersebut memuat teks sindhenan (lirik vokal sindhen) dan kandha (narasi).

Musik Pengiring: Ginupita, kusuma kang andon jurit, Sang Dyah Retna Kelaswara, Lawan Sang Dyah Adaninggar, Pan samya digdayanira Datan kuciweng yuda.

Terjemahan: Diceritakan, sang putri yang sedang berperang (Dialah) Sang Dyah Retna Kelaswara dengan Sang Dyah Adaninggar Keduanya sama-sama sakti (maka) tidaklah mengecewakan/meragukan dalam peperangan.

Sepenggal bait tersebut merupakan Bawa Swara Sekar Tengahan Sari Mulat yang dilantunkan sebagai pembuka pementasan Srimpi Muncar. Lewat syair ini kedua tokoh cerita diperkenalkan. Layaknya tari Srimpi pada umumnya, Srimpi Muncar mengambil nama dari gendhing utama yang digunakan, yaitu Gendhing Muncar Laras Pelog Pathet Barang. Adapun urutan gendhing yang dibawakan adalah:

1.* Lagon Wetah Laras Pelog Pathet Barang,

  1. Ladrang Gati Bima Laras Pelog Pathet Barang,
  2. Lagon Jugag Laras Pelog Pathet Barang,
  3. Kandha Beksa Srimpi Muncar,
  4. Bawa Swara Sekar Tengahan Sari Mulat,
  5. Gendhing Muncar Laras Pelog Pathet Barang,
  6. Ladrang Grompol Laras Pelog Pathet Barang,
  7. Ayak-ayak Laras Pelog Pathet Barang,
  8. Srepegan Laras Pelog Pathet Barang,
  9. Ketawang Mijil Sulastri Laras Pelog Pathet Barang,
  10. Ayak-ayak Laras Pelog Pathet Barang,
  11. Lagon Jugag Laras Pelog Pathet Barang,
  12. Ladrang Gati Layar Laras Pelog Pathet Barang.*

Gendhing Muncar dibunyikan dengan seperangkat gamelan serta tambahan instrumen musik barat, seperti biola, terompet, trombon, dan tambur. Instrumen tersebut dimainkan untuk mengiringi bagian kapang-kapang Srimpi, saat penari berbaris masuk dan keluar dari ruang pementasan. Selain itu juga mengiringi bagian balungan lamba dan balungan nglagu Ladrang Grompol Laras Pelog Pathet Barang.

Gerak Sojah: Srimpi Muncar memiliki ragam gerak khusus yang dinamakan sojah. Gerak ini juga terdapat dalam Srimpi Teja. Kedua tari tersebut mengisahkan cerita yang hampir sama, yakni pertikaian yang melibatkan putri Cina. Gerak sojah menunjukkan bahwa sang putri Cina gugur dalam peperangan. Gerakan ini diawali dengan tawing kiri njimpit sampur, posisi badan membungkuk seperti bersujud, kemudian beralih tawing kanan njimpit sampur di hadapan Dewi Kelaswara.

Pakaian dan Rias Penari: Tokoh Dewi Adaninggar mengenakan busana yang meliputi kain motif cindhe, baju lengan panjang dengan kerah tegak berbahan satin, sampur cindhe, mahkota pupuk berupa kain yang disulami koin-koin emas, cundhuk mentul, rambut klabangan dan sanggul. Aksesoris lain yang dipakai adalah kain slempang, rimong, gelang tangan, subang, gelang kaki, cincin, senjata cundrik, slepe, dan kelat bahu. Rias wajah dibuat cantik dengan penegasan garis ujung mata ke arah telinga untuk memberi kesan sipit. Pipi dan kelopak mata dirias rona kemerahan untuk mempertegas aura putri Cina.

Tokoh Dewi Kelaswara memakai kain motif parang gurdha latar putih, baju rompi beludru dengan hiasan sulam bordir keemasan. Kepalanya dilengkapi aksesoris jamang dengan hiasan bulu burung kasuari, sumping ron, cundhuk mentul, jungkat, sanggul gelung sinyong yang diberi ceplok (bunga) jebehan serta pelik, dan subang. Aksesoris lainnya adalah sampur cindhe, kalung sungsun, slepe, kelat bahu, gelang tangan, dan senjata keris. Matanya dirias dengan gaya jahitan, sementara pipi depan telinga diberi tempelan godheg.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah