Tarian
Tarian
Tarian Adat Jawa Timur jombang
tarian remo
- 2 Januari 2016
Sejarah Tari Remo
Tari Remo berasal dari Jawa Timur. Tepatnya berasal dari Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur. Pada awal mulanya tarian ini sering digunakan sebagai pembuka acara Ludruk. Seiring dengan perkembangannya, tarian ini kemudian banyak digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan atau di tampilkan pada upacara-upacara serta festival kesenian.
Pada saat ini Tari Remo tidak hanya dibawakan oleh laki-laki saja. Melainkan bisa juga dibawakan oleh seorang wanita. Tari Remo yang dibawakan oleh wanita namanya adalah Remo Putri atau Tari Remo Perempuan.
Gerakan Tari Remo memiliki ciri khas unik yaitu gerakan kaki yang sangat dinamis dan aktif. Gerakan-gerakan tari pada Tari Remo kemudian didukung oleh lonceng yang sengaja di pasang di pergelangan kaki penari. Ini akan berbunyi terus-menerus saat penari melangkah atau menghentakkan kaki di panggung. Selendang atau sampar juga sering di manfaatkan sebagai bagian dari tarian. Ekspresi wajah, gerakan kepala, dan kuda-kuda penari biasanya sering di padukan dengan gending yang mengiringinya.
 
Musik Pada Tari Remo
Musik yang mengiringi tarian ini adalah gending, gambang, seruling, gender, kenong, slentem, gong, dan kempul.
Jenis irama atau suara yang terdengar dari musik pengiring Tari Remo sedikit terdengar seperti musik walang kekek atau gedong rancak.
 
Busana Tari Remo
Busana Tari Remo memiliki 4 jenis busana dan satu jenis busana tambahan. Jenis busana tersebut diantaranya adalah busana
·         gaya jombangan
·         busana gaya surabayan
·         busana gaya malangan
·         busana gaya sawunggaling, serta
·         busana untuk remaja putri.
Masing-masing gaya busana memiliki ciri khas tersendiri tergantung dari tempat dan asalnya.
Budaya busana gaya surabayan contohnya, busana Tari Remo gaya surabayan biasanya terdiri dari ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang biasanya berwarna hitam dan celana gantung sebetis. Selain itu, busana surabayaan dilengkapi juga dengan sarung batik pesisiran. Pada bagian pinggang digunakan stagen untuk menyelipkan keris. Busana ini juga biasanya dilengkapi dengan dua selendang yang di letakkan di pinggang serta di baru.
Untuk Tari Remo putri, penarinya biasanya menggunakan sanggul lengkap dengan selendang dan menggunakan busana khas Jombang serta Surabaya. Keindahan gerak kaki serta mimik muka dan gerak tangan yang diiringi gending tropongan atau julajuli membuat tarian ini sangat indah dan menarik.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker