Tarian
Tarian
Tari Tradisional Lampung Lampung
Tari Sembah Sigeh Penguten
- 15 Maret 2020

Tari Sembah Sigeh Penguten

Lampung merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Sama halnya dengan berbagai daerah di Indonesia, Lampung juga memiliki kebudayaan khas daerahnya sendiri. Lampung memiliki dua suku besar yaitu Suku Lampung Pesisir dan Suku Lampung Pepadun. Kedua suku ini memiliki beberapa perbedaan dimulai dari adat istiadat, dialek, sampai baju adat dan juga upacara adatnya. Secara garis besar, tari yang paling populer di khalayak umum bernama Tari Sembah Sigeh Penguten. Tari ini merupakan salah satu tari pelengkap ritual dan acara-acara adat. Berdasarkan UU No. 5 Tahun 2007 tentang 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, seni tari masuk ke dalam bagian seni dimana ekspresi artistik individu, yang berbasis warisan budaya maupun berbasis kreativitas penciptaan baru, yang terwujud dalam berbagai bentuk kegiatan dan atau medium. Selain seni tari, seni ini dapat juga berupa pertunjukkan, seni rupa, seni sastra, film seni musik dan seni media.

Tari Sembah Sigeh Penguten memiliki beberapa versi mengenai cerita sejarah yang ada di baliknya. Berdasarkan asal usulnya, tarian ini dipengaruhi oleh Tari Gending Sriwijaya yang berasal dari Sumatera Selatan. Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa tari ini diilhami dari tari tepak yang berasal dari Mesuji Wiralaga. Mesuji adalah sebuah daerah yang terletak di bagian utara Provinsi Lampung. Dahulu kala daerah ini dipimpin oleh seorang pesirah yang bernama Pangeran Muhammad Ali. Wilayah ini memiliki tari penyambutan yang disebut Tari Tepak. Tarian ini akan disajikan pada saat penyelenggaraan acara seperti perkawinan adat, pengangkatan seseorang dan juga penyambutan tamu. Setelah itu Tari Tepak ini dikenal sebagai Tari Sembah atau Tari Sigeh Penguten. Pada tahun 1989 telah diadakan pertemuan seluruh ketua adat yang ada di Provinsi Lampung. Pertemuan ini bertujuan untuk membentuk identitas budaya yang ada di Lampung. Hari itu merupakan hari Tari Sigeh Penguten ditetapkan sebagai identitas budaya masyarakat Lampung.

Tari Sigeh Penguten berfungsi sebagai tari pembuka sebagai bentuk ucapan selamat datang dan terimakasih dari tuan rumah kepada tamu yang telah hadir. Tarian ini ditarikan oleh sekelompok orang berjumlah ganjil dimana salah satu penari yang ada di tengah akan memegang tepak. Tepak adalah kotak berwarna keemasan dan di dalamnya berisi daun sirih yang nantinya akan diberikan kepada salah seorang tamu yang dianggap penting dan mewakili seluruh tamu yang hadir. Tarian ini diiringi dengan tabuh gupek dan tabuh tari. Para penari juga memiliki kostum sendiri dimulai dari aksesoris kepala hingga aksesoris pendukung lainnya seperti gelang, papan jajar, dan buah jukum. Kostum untuk menari Tari Sigeh Penguten adalah baju kurung berwarna putih dengan kain tapis dan juga selendang sebagai pelengkap. Aksesoris kepala seperti siger dan sanggul juga diperlukan untuk menambah keestetikan dari seni tari ini.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu