Peuyeum merupakan nama makanan khas yang dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat Sunda. Sebutan peuyeum berbeda dengan masyarakat di luar Sunda yang lebih akrab memanggil peuyeum dengan sebutan tape. Keberadaan peuyeum di masyarakat Sunda ini tidak hanya peyeum singkong melainkan juga terdapat peuyeum ketan. Peuyeum ketan sangat akrab dengan masyarakat sunda karena peuyeum ketan seolah sudah menjadi salah satu sajian makanan tradisional yang secara rutin disajikan saat acara-acara tertentu misalnya acara hajatan pernikahan. Tape ketan atau peuyeum ketan juga memiliki variasi seperti tape ketan putih dan tape ketan hitam.
Tape ketan hitam merupakan tape hasil fermentasi ketan hitam yang telah dicampur dengan ragi dan kemudian didiamkan selama beberapa hari untuk nantinya menghasilkan fermentasi yang baik berupa kandungan alkohol, dimana kandungan alkohol ini akan membuat tape ketan hitam akan terasa manis dan menyegarkan. Kandungan alkohol yang ada pada tape ketan hitam inilah yang membuat pengonsumsi tidak dianjurkan untuk mengonsumsi dalam porsi yang banyak. Tape ketan hitam ini selain disajikan saat ada acara hajatan juga biasa dikonsumsi dengan dipadukan ice cream, es campur, campuran cendol hingga diolah kembali menjadi wajik dan dodol. Dalam membuat peuyeum khususnya peuyeum ketan hideung, ada beberapa bahan yang perlu disiapkan dan langkah-langkah yang perlu dilakukan. Alat dan bahan yang perlu disiapkan yaitu:
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, maka proses pembuatan tape ketan hitam dapat segera dilakukan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pembuatan tape ketan hitam ini diantaranya:
Tape ketan hitam memiliki beberapa kandungan nutrisi yang terkandung di dalamnya, seperti energi, asam folat, vitamin E, sodium, karbohidrat, protein, kalori, serat, magnesium, potasium, niacin, kalsium, tembaga, mangan dan zat besi. Melihat dari kandungan gizi yang ada dalam tape ketan hitam, tentunya tape ketan hitam memiliki manfaat bagi kesehatan. Manfaat-manfaat dari tape ketan hitam bagi kesehatan diantaranya yaitu mampu meningkatkan kekebalan tubuh, dapat menurunkan kadar kolestrol yang ada dalam tubuh, mencegah terbentuknya sel-sel penyebab munculnya kanker, kandungan zat besi yang ada dalam tape ketan hitam akan mampu mengobati penyakit anemia, kandungan serat akan melancarkan sistem pencernaan, menyehatkan pencernaan, mampu membuat kulit menjadi lebih sehat dan menjaga kesehatan kulit.
Sumber
Redaksi Manfaat. (2020). 28 Manfaat Tape Ketan Hitam untuk Kesehatan Tubuh. Dipetik March 17, 2020, dari Manfaat.co.id: https://manfaat.co.id/manfaat-tape-ketan-hitam
Sari, N. M. (2020, January 28). 7 Manfaat Tape Ketan Hitam untuk Kesehatan Serta Cara Membuatnya. Dipetik March 17, 2020, dari Liputan 6: https://hot.liputan6.com/read/4165568/7-manfaat-tape-ketan-hitam-untuk-kesehatan-serta-cara-membuatnya
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...