Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur Manggarai
skolong dan cue
- 12 Desember 2014

Skolong adalah seorang anak laki­laki tampan yang telah dijodohkan dengan saudara sepupunya yang masih berada dalam kandungan. Namun, ketika saudara sepupunya telah lahir dan beranjak dewasa, Skolong menolak untuk menikahinya. Sebaliknya, saudara sepupu Skolong yang bernama Cue itu terus membujuk dan mengejar­ngejarnya agar mau menikah dengannya. Mengapa Skolong tidak mau menikah dengan Cue? Lalu, berhasilkah Cue membujuk Skolong? Ikuti kisahnya dalam cerita Skolong dan Cue berikut.

* * *

Alkisah, di Kampung Manggarai, di daerah Nusa Tenggara Timur, ada seorang laki­laki tampan yang

bernama Skolong Rebo Todo. Orang­orang di sekitarnya memanggilnya Skolong. Selain tampan, ia juga anak yang rajin. Setiap hari ia selalu membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang.

Bagi masyarakat setempat, para orang tua memiliki kebiasaan menjodohkan anak­anak mereka dari

keluarga terdekat. Begitu pula yang terjadi dalam keluarga Skolong. Kedua orang tuanya berencana akan menjodohkannya dengan anak bibinya, meskipun anak bibinya itu masih dalam kandungan atau belum lahir.

Pada suatu hari, Skolong disuruh oleh kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah bibinya yang sedang hamil tua.

“Skolong, Anakku! Pergilah ke rumah bibimu dan tinggallah di sana! Saat ini bibimu sedang hamil tua. Kelak jika bibimu melahirkan seorang anak perempuan, kamu boleh menikahi putrinya. Aku dan ibumu bersama bibimu telah sepakat untuk menjodohkan kalian,” ujar ayah Skolong. Skolong pun menuruti permintaan ayahnya. Setelah berpamitan, berangkatlah ia ke rumah bibinya. Setibanya di sana, ia pun disambut baik oleh paman dan bibinya. Sejak kehadirannya di rumah itu, segala pekerjaan paman dan bibinya menjadi ringan. Skolong sangat rajin membantu bibinya mencari kayu bakar di hutan dan membantu pamannya bekerja di ladang. Tak heran, jika paman dan bibinya sangat sayang kepadanya. Bibinya sangat berharap bayi yang ada di dalam kandungannya adalah anak perempuan, sehingga ia dapat menikahkannya dengan Skolong. Tak terasa, sudah sebulan lebih Skolong tinggal di rumah bibinya. Usia kandungan bibinya pun memasuki bulan kesembilan. Skolong berharap bibinya melahirkan seorang putri yang cantik. Beberapa minggu kemudian, bibinya pun melahirkan seorang bayi. Namun, bayi yang dilahirkan bukanlah seorang putri yang cantik, melainkan sebuah cue (ubi hutan yang berbulu), yaitu sejenis tanaman umbi­umbian yang sering tumbuh liar di tengah hutan. Anehnya, bayi yang berwujud cue itu bisa menangis layaknya bayi manusia. Paman dan bibinya merasa sangat sedih atas nasib yang menimpa bayi mereka. Meski demikian, mereka tetap menerima Cue sebagai anak. Mereka akan merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Lain halnya dengan Skolong, ia sangat kecewa atas kejadian itu. Kini harapannya untuk memperistri putri bibinya telah pupus. Namun, ia tidak ingin mengecewakan hati paman dan bibinya. Ia memutuskan untuk membantu mereka merawat dan membesarkan Cue. Setelah Cue dewasa, barulah ia akan memohon diri untuk kembali ke rumah orang tuanya. Waktu terus berjalan. Cue pun tumbuh menjadi besar dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bulu yang panjang. Meski demikian, ia dapat berbicara dan berjalan dengan cara menggulingkan tubuhnya. Kondisi Cue tersebut semakin membuat Skolong tidak mau menikahinya. Pada suatu hari, Skolong berpamitan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Paman dan bibinyaberusaha untuk mencegahnya. Mereka berharap agar Skolong bersedia menikah dengan Cue. Namun, Skolong tetap menolak.

“Maafkan saya, Paman, Bibi! Saya belum dapat menerima Cue menjadi istri saya. Saya harus kembali ke rumah orang tua saya,” ucap Skolong seraya memohon diri.

Ketika Skolong akan meninggalkan halaman rumah bibinya, tiba­tiba Cue menghadangnya.

“Kakak! Adik mau ikut bersama Kakak,” rengek Cue.

“Kamu jangan ikut, Adik! Kamu di sini saja menemani ayah dan ibumu! Mereka sangat menyayangimu,” ujar Skolong.

“Tidak, Kakak! Adik tetap akan ikut bersama Kakak. Adik mencintai Kakak,” kata Cue dengan tegas. Berkali­kali Skolong membujuknya, dan bahkan mengancam akan membunuhnya, namun Cue tetap

bersikeras ingin ikut bersamanya. Lama­kelamaan, Skolong pun semakin kesal.

"Hai, makhluk aneh! Ibuku tidak suka padamu karena kamu sebuah cue. Bentuk badanmu jelek sekali, tidak berkaki dan tidak bertangan. Bagaimana kamu bisa membantu ibuku? Lagi pula, badanmu kotor dan penuh dengan bulu," hardik Skolong.

Usai menghardik Cue, Skolong pun melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah orang tuanya. Cue pun membuntutinya. Di tengah perjalanan, Cue terkadang mendahuluinya tanpa sepengetahuannya. Ia mengira Cue masih berada di belakangnya. Ketika akan melewati sebuah kampung, Skolong bertemu dengan sebuah rombongan manusia yang berjalan dari arah berlawanan. Rombongan tersebut dipimpin oleh seorang gadis yang cantik jelita, yang tak lain adalah Cue yang menjelma menjadi manusia, namun Skolong tidak mengetahui hal itu. Ia memerintahkan ketua rombongan itu agar membunuh sebuah cue yang sedang mengikutinya.

“Wahai, Tuan­tuan! Ada sebuah cue besar yang mengikuti saya. Jika Tuan­tuan melihatnya, bunuh saja atau lemparkan cue itu ke jurang!” pinta Skolong kepada rombongan tersebut. Pemimpin rombongan itu hanya tersenyum sambil meliriknya. Begitu rombongan tersebut berlalu, tibatiba Skolong mendengar seorang gadis sedang menegurnya.

“Wahai, Skolong yang tampan! Di antara rombongan itu, ada seorang gadis cantik melirikmu. Ia begitu mencintamu dan sangat merindukan belaianmu,” demikian suara gadis itu. Skolong tersentak kaget mendengar suara itu. Ia pun menghentikan langkahnya, lalu terdiam sejenak. Ia mengira suara itu adalah suara si Cue. Namun, ketika menoleh ke belakang, ia tidak melihat Cue. Akhirnya, ia pun melanjutkan perjalanannya. Tak berapa lama kemudian, Cue pun kembali muncul dan berguling di belakangnya. Skolong pun tetap membiarkan makhluk aneh itu membuntutinya. Ketika Skolong tiba di kampungnya, kedua orang tua dan para warga menyambutnya dengan meriah. Mereka mengira Skolong datang bersama istrinya. Namun, mereka tidak melihat seorang wanita berjalan dengan Skolong. Mereka hanya melihat sebuah cue yang berguling­guling mengikutinya. “Hai, Skolong! Benda apa yang sedang mengikutimu itu?” tanya ayah Skolong. Skolong pun menceritakan semua siapa sebenarnya si Cue kepada kedua orang tuanya dan seluruh penduduk. Mendengar cerita itu, kedua orang tua Skolong pun mengerti bahwa Cue adalah kemenakan mereka. Mereka turut bersedih atas kejadian yang menimpa Cue yang dilahirkan dalam kondisi demikian. Mereka pun memutuskan menerima kehadiran Cue di rumah itu dengan senang hati. Sejak itu, Cue tinggal di rumah orang tua Skolong. Pada suatu hari, di kampung itu diadakan pesta wagal, yaitu sebuah pesta adat dalam tata cara perkawinan orang Manggarai. Pesta itu akan dilangsungkan selama dua hari. Dalam pesta itu diadakan pula perlombaan caci, sebuah permainan khas orang Manggarai yang pesertanya terdiri kaum laki­laki. Perlombaan tersebut biasanya diiringi oleh pukulan gendang oleh kaum ibu­ibu, serta tarian khas Manggarai oleh para gadis. Mengetahui adanya pesta wagal dan perlombaan caci itu, Cue pun segera menyiapkan rombongannya. Ia bersama rombongannya pergi ke sebuah pancuran air, tempat para penduduk mengambil air. Di pancuran air itu, Cue menanggalkan dan menyembunyikan kulitnya di bawah batu lempeng. Seketika itu pula, ia pun berubah menjelma menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Kemudian ia bersama rombongannya yang juga telah berubah menjadi manusia segera menuju ke tempat pesta itu berlangsung. Setibanya mereka di sana, para warga yang hadir, termasuk Skolong, sangat heran melihat kedatangan mereka.

“Hei, sepertinya aku mengenal mereka. Bukankah mereka yang bertemu denganku beberapa hari yang lalu?” gumam Skolong tersentak kaget. Setelah mengamati pemimpin rombongan itu, maka Skolong pun semakin yakin bahwa ia pernah bertemu dengan mereka di tengah jalan. Ia mengenal wajah gadis cantik yang memimpin rombongan itu. Setelah mempertunjukkan tariannya, rombongan tersebut segera meninggalkan pesta. Skolong dan beberapa warga lainnya berusaha mengikuti rombongan tersebut, namun mereka kehilangan jejak. Rombongan tersebut tiba­tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Pada malam harinya, Skolong bermimpi didatangi seorang kakek. Kakek itu berpesan kepadanya agar pergi ke pancuran air untuk mengambil kulit cue yang disimpan di bawah batu lempeng. Keesokan harinya, saat rombongan Cue sedang berada di tempat pesta, Skolong segera mengambil kulit cue itu lalu membawanya ke tempat pesta gawal. Saat ia tiba di pesta itu, Cue yang telah berubah menjadi gadis cantik itu sedang menari dengan gemulai. Tanpa berpikir panjang, Skolong segera meletakkan kulit cue itu di atas api. Seketika itu pula, Cue yang sedang asyik menari tiba­tiba pingsan. Skolong pun segera menolongnya dengan mencelupkan kulit cue yang terkena asap api, lalu membalutkan di kepala Cue. Beberapa saat kemudian, gadis itu pun sadar. Betapa senang hati gadis itu saat ia menyadari dirinya berada di pangkuan Skolong yang sangat dicintainya.

“Siapa sebenarnya kamu ini, hai gadis cantik?” tanya Skolong.

“Maaf, Kakak! Saya adalah Cue anak bibimu,” jawab Cue dengan nada pelan.

Betapa terkejutnya Skolong mendengar jawaban itu. Ia baru menyadari bahwa cue yang dilahirkan bibinya beberapa tahun yang lalu ternyata seorang gadis cantik. Dengan perasaan malu, ia pun segera meminta maaf kepada Cue. Ia sangat menyesal, karena telah menghina dan mempelakukannya dengan kasar. Namun, Cue adalah seorang gadis pemaaf dan tidak pendendam. Ia pun memaafkan semua kesalahan Skolong. Akhirnya, mereka pun menikah dan hidup bahagia.

* * *

Demikianlah cerita Skolong dan Cue dari daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa antarsesama manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa hendaknya saling menghormati dan saling menghargai. Bagaimanapun bentuk dan rupa seseorang, hendaknya kita selalu berprasangka baik terhadap mereka. Sebab, di balik keburukan itu tersimpan sebuah kebaikan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu (Tenas Effendy: 2006):

 

wahai ananda dengarlah pesan,

bersangka baik sesama insan

berburuk sangka engkau jauhkan

supaya hidupmu diberkahi Tuhan

Pelajaran lain yang dapat dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari­hari adalah sifat Cue. Meskipun

dihina dan dipandang rendah oleh Skolong, ia tidak pernah merasa dendam dan mau memaafkan

Skolong. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

wahai ananda intan di karang,

ikhlaskan hati memaafkan orang

dendam kesumat hendaklah buang

hati pemurah hidupmu lapang

 

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/169-Skolong-dan-Cue

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu