Sisingaan di Cijawura
Cijawura merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Kelurahan yang dulunya bernama Margasenang ini memiliki satu kebiasaan dalam setiap melakukan suatu perayaan sukacita. Satu kebiasaan suakcita itu adalah melakukan perayaan dengan menggunakan sisingaan beserta musik pengiringnya.
Sisingaan atau biasa disebut gotong singa ini sebenarnya merupakan budaya rakyat khas dari Subang, Jawa Barat dengan menggunakan media tandu sebagai kreasi seni. Sisingaan dimulai dari cerita serial Reog di Jawa Timur, yang menceritakan suka cita perjalanan para pengawal raja Singa Barong dari kerajaan Lodaya saat menuju kerajaan Daha. Meskipun sang raja terkenal bengis dan angkuh, tetapi para pengawal selalu setia memikul tandu yang ditiduri oleh Raja Singa Barong. Selain itu sebagai lambang perlawanan rakyat Subang terhadap kesewenangan Belanda yang di gambarkan sebagai sosok singa pada lambang VOC.
Di Cijawura kegiatan perayaan ini sudah menjadi hal biasa yang mereka lakukan pada setiap acara khitanan. Dalam penyelenggaraannya sang anak yang dikhitan diangkut menggunakan tandu yang diatasnya terdapat boneka singa yang menjadi tempat duduk sang anak. Sisingan ini selalu dibawakan oleh sekelompok orang karena banyak elemen yang dibutuhkan disini. Petama, harus ada empat orang laki-laki menggotongnya dengan palang bambu di punggung mereka. Kedua, sisingaan ini tentu memerlukan musik sebagai pengiringnya, antara lain kendang, kempul, gong dan terompet yang iramanya saling bersahut-sahutan rancak, dimainkan oleh orang-orang yang tentu sudah mahir dalam membawakannya. Mereka semua yang terlibat sekaligus menari dan beraksi yang kadang juga melakukan akrobatik cenderung ekstrim. Gerakan-gerakan yang rampak memberikan pengaruh kepada suasana pertunjukan Sisingaan tersebut.
Bagi masyarakat Cijawura hal ini sudah sepatutnya mereka adakan dalam perayaan hal-hal yang bersifat sukacita, menurut mereka sisingaan merupakan bentuk syukuran atas apa yang mereka dapatkan. Pemaknaan lainnya kebanggaan masyarakat serta menjunjung tinggi rasa memiliki akan budaya sendiri serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Pertunjukan sisingaan ini juga dipercaya oleh masyarakat pada umumnya untuk keselamatan. Oleh karena itu sering menjadi ajang selamatan dalam khitanan, selain sebagai bentuk penghormatan atas sejarah leluhur.
Sumber : Kurnia, G. (2003). Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Bandung: Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat.
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...