Pasar adalah suatu tempat dimana pedagang dan pembeli bertemu dan melakukan transaksi jual beli barang dan jasa. Pasar erat kaitannya dengan perdagangan karena disanalah tempat terjadinya perdagangan, Indonesia telah melakukan kegiatan berdagang sejak zaman penjajahan oleh sekutu Belanda dan Jepang, tetapi pada saat itu Indonesia bukan menjadi yang melakukan kegiatan jual beli. Pada saat pemerintahan Belanda di Indonesia, terjadi monopoli terhadap perdagangan rempah-rempah milik negara Indonesia, hak aktivitas monopoli perdagangan dipegang oleh Perusahaan Hindia Timur Velanda atau dalam bahasa Belanda disebut dengan Verenigde Oostidiche Compagnie (VOC). Markas besar VOC berada di Batavia, Jakarta. Pada zaman Belanda rakyat Indonesia penghasil rempah-rempah diancam apabila menjual hasil tanamnya, bahkan tidak segan-segan pemerintah Belanda mendeportasi hampir seluruh populasi yang nekat menjual hasil tanamnya. Pada tahun 1800, VOC resmi dibubarkan oleh dewan-dewan yang mengurus penjajahan di Asia. Jatuhnya VOC juga disebabkan oleh kekalahan Belanda melawan Prancis sehingga wilayah yang semulanya milik Belanda pun diambil alih oleh Perancis.
Awal mula perdagangan terjadi di Indonesia menggunakan sistem barter yaitu pertukaran antara barang dengan barang, jasa dengan jasa, maupun barang dengan jasa sesuai kesepakatan orang-orang yang melakukan transaksi barter. Masyarakat Indonesia mulai melakukan kegiatan perdagangan yang kompleks pada masa Perdagangan Internasional di Zaman Jawa Kuno. Pada zaman dahulu, Kerajaan Sriwijaya yang terletak di Sumatera Selatan (Palembang) memegang andil dalam perdagangan di Nusantara. Kerajaan Sriwijaya memegang peranan penting dalam perdagangan di Asia karena letak geografis yang sangat menguntungkan dimana Kerajaan Sriwijaya dekat dengan pantai tempat kapal-kapal perdagangan berlabuh. Letak geografis Kerajaan Sriwijaya juga sangat menguntungkan karena dilewait oleh kapal-kapal pedagang dari negara lain yang melintas, pelabuhan Sriwijaya sering disambangi oleh kapal pedagang Tiongkok yang hendak berlayar ke Timur Tengah dan India. Selain Kerajaan Sriwijaya, terdapat pula Pelabuhan Sunda Kelapa yang berada di wilayah Pejaringan, Jakarta Utara. Dahulu kaya pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang dipegang oleh Kerajaan Sunda (Kerajaan Pajajaran) sebelum direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon. Perdagangan di nusantara semakin berkembang zaman tidak hanya melalui jalur laut, tetapi juga melewati jalur darat bahkan menetapkan suatu lokasi sebagai pusat perdagangan.
Pusat perdagangan pun pada zaman sekarang ini menjadi salah satu alternatif wisata bagi orang-orang yang suka berbelanja. Suatu pusat perdagangan yang sudah berdiri sejak dahulu kala pasti memiliki ciri khas dari wilayah tersebut yang tidak digantikan. Seperti yang tertulis pada UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan di Indonesia, Wisata adalah tempat kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Salah satu pusat perbelanjaan di Ibukota Jakarta tertua, Passer Baroe (Pasar Baru) pada saat ini menjadi alternatif wisata dan rekreasi bagi warga lokal maupun para wisatawan mancanegara karena terdapat berbagai toko yang berdiri sejak dahulu kala.
Pasar Baru (Passer Baroe) Jakarta adalah salah satu kawasan perdagangan yang berada di wilayah Jakarta Pusat, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar. Pusat perdagangan yang berada di jantung Ibukota Jakarta ini merupakan pusat perbelanjaan tertua yang berada di Jakarta. Pada zaman dahulu, di wilayah Pasar Baru beraneka ragam warga yang bermukim, diantaranya orang-orang India-Indonesia begitu mendominasi di wilayah Pasar Baru. Seiring berjalannya waktu, keragaman yang berada di Pasar Baru pun semakin bertambah dengan adanya penduduk Tiongkok dan Eropa yang berada di kawasan Pasar Baru. Namun karena wilayah Pasar Baru lebih didominasi oleh orang-orang dari India-Indonesia, yakni berjumlah 2000 keluarga sebagai penduduk Jakarta pada tahun 2002, terdapat sebuah tempat ibadah bagi masyarakat India yang masih berdiri sampai saat ini.
Pusat perbelanjaan yang sudah ada sejak tahun 1820 disaat Jakarta masih bernama Batavia ini tentu memiliki daya tarik sehingga pengunjungnya tidak hanya dari kalangan warga lokal tetapi juga turis mancanegara mengunjungi tempat bersejarah ini. Pada zaman dahulu orang-orang yang berbelanja disana adalah orang-orang Belanda yang tinggal di Jalan Veteran. Seperti pada pusat perbelanjaan pada umumnya, Pasar Baru menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari serta jasa yang ditawarkan untuk memudahkan keperluan sehari-hari.
Awalnya di Pasar Baru, para pedagang lokal hanya menjajakan hasil bumi yang dipanen namun semakin bertambahnya keragaman masyarakat yang tinggal disana mulai ada yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, sepatu, perhiasan dan lain-lain. Pasar Baru dulu merupakan daerah pertokoan elit karena dekat dengan wilayah tempat tinggal para penduduk Belanda. Pada saat ini banyak perubahan dalam segi arsitektur yang diubah, pada zaman dahuu arsitektur dari Pasar Baru bergaya seperti bangunan Tiongkok dan Eropa namun seiring berkembangnya mode arsitektur bentuk ruang, pada saat ini banyak bangunan yang memiliki gaya modern dengan pintu kaca tembus pandang dan rak etalase dibagian pintu toko.
Pertokoan di kawasan Pasar Baru memang banyak mengalami perubahan, tetapi diantara banyaknya perubahan dan pergantian toko ada juga beberapa toko yang masih bertahan seperti Apotek Kimia Farma, Toko peralatan Rumah Tangga Melati, Toko jam Tjung-Tjung, Toko Lee Ie Seng. Toko-toko yang masih berdiri di Pasar Baru Jakarta ini tidak menghilangkan ciri khas tiap toko, seperti penataan barang jualannya, bahkan ia masih kenal dengan beberapa karyawan di beberapa pertokoan yang sudah berdiri sejak dulu. Pasar Baru tidak hanya menawarkan berbagai barang jualan, tetapi juga jasa menjahit jas. Banyak toko kain textile yang berdiri di kawasan Pasar Baru, bahkan toko kain Bombay dan Isardas yang sudah berdiri sejak dahulu kala masih berdiri namun dengan bentuk bangunan yang sudah direnovasi. Kualitas barang yang dijual tetap bagus seperti dulu, itulah mengapa Pasar Baru tidak kehilangan pengunjung setianya bahkan untuk toko yang sudah lama dibangun sekalipun.
Pasar Baru saat ini memiliki banyak makanan yang dijual di pinggiran jalan. Saat memasuki kawasan Pasar Baru di Jalan Pintu Air, banyak penjual menjajakan makanan ringan tradisional khas Jakarta, seperti kue cubit, sukun goreng, kue pancong dan kue jaring laba-laba, kerak telor, es potong, dan makanan lainnya. Tidak hanya makanan ringan khas Jakarta saja yang dijajakan di Pusat Perbelanjaan tertua di Jakarta ini, beberapa penjual juga menjajakan manisan, buah-buahan, minuman segar, dan makanan dari daerah lain. Restoran Soto Padang H St Mangkuto yang terdapat di Jalan Pintu Air merupakan salah satu rumah makan khas nusantara yang sejak dulu dibangun di kawasan Pasar Baru, Restoran ini tidak hanya menyajikan sajian soto saja, tetapi juga makanan khas daerah Padang lainnya seperti sate, gulai, dan lauk-pauk lainnya. Restoran ini tidak pernah sepi, para pelayan selalu sibuk melayani para pengunjung, salah satu camilan khas Jakarta yang menjadi favorit adalah Kue Cente Manis yang cocok dijadikan hidangan penutup pencuci mulut setelah menyicipi makanan khas Padang yang bercita rasa gurih.
Selain Restoran Soto Padang H. St. Mangkuto, terdapat sebuah kuliner legendaris yang tak boleh dilewatkan apabila kita berwisata ke Pasar Baru, wisata kuliner lainnya yaitu Bakmi Gang Kelinci. Bakmi Gang Kelinci diambil dari nama lokasi tempat makan itu sendiri, yakni Gang Kelinci (Jalan Kelinci Raya No 1-3) yang masih berada di kawasan Pasar Baru Jakarta. Kedai Bakmi Gang Kelinci ini merupakan bukti dari keragaman budaya yang tinggal di kawasan Pasar Baru, karena pendiri dari kedai ini merupakan warga etnis Tiongkok. Kedai Bakmi Gang Kelinci ini menyajikan beragam santapan mie-bakso yang sangat digemari masyarakat. Sajian yang ada di Toko Bakmi Gang Kelinci ini tidak hanya olahan Mie dan Bakso, tetapi juga terdapat menu lain, seperi bakmi cah jamur, ifu mie, dimsum, nasi goreng, bihun goreng, olahan sayur capcay, kwetiau, nasi tim, dan juga terdapat minuman segar di menunya.
Kedai bakmi yang telah dibangun sejak tahun 1957 ini merupakan pelopor dari penjualan mie-bakso di gerobak seperti pada saat ini. Menu yang menjadi incaran pengunjung di kedai bakmi ini adalah Bakmi Ayam Jamur, Mie Goreng Spesial, Nasi Tim, Es Pacar Cina, dan Es Lidah Buaya. Apabila kita datang ke kedai bakmi ini pada siang hari maka suasananya akan sangat ramai bersamaan dengan waktu makan siang para pegawai dan waktu istirahat penjual di kawasan Pasar Baru Jakarta. Tetapi jangan khawatir, kedai Bakmi Gang Kelinci ini buka mulai pukul 10 pagi hingga 8 malam, makanan yang disajikan pun selalu hangat karena baru dimasak saat dipesan, bukan dihangatkan. Jadi untuk para pengunjung yang tidak memiliki waktu pada siang hari atau tidak ingin makan disituasi yang ramai, maka mereka bisa mencoba datang ke kedai Bakmi Gang Kelinci pada waktu sore atau malam hari.
Berwisata di Pasar Baru Jakarta tidak hanya sekedar tentang memuaskan hasrat berbelanja saja, kita juga dapat mengenali sejarah-sejarah Jakarta. Pasar Baru Jakarta adalah salah satu saksi bisu sejarah Indonesia terutama sejarah Batavia (Jakarta), banyak perubahan yang terjadi disana, tetapi keragaman yang berada tak akan berubah. Banyak bukti yang menunjukkan keragaman yang ada di wilayah Pasar Baru berhubungan dengan harmonis, mulai dari pengunjung hingga pedagang beraktivitas berdampingan. Secara tidak langsung, kita mengunjungi suatu peninggalan budaya yang harus kita jaga agar ciri khas budaya dari Pasar Baru Jakarta tidak hilang seiring berkembangnya zaman. maka diharapkan agar para pengunjung dan wisatawan lainnya yang datang ke lokasi Pasar Baru dapat menikmati berwisata disana dan mendapatkan kenangan baik yang tidak terlupakan.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...