Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat DKI Jakarta Jakarta
Sepasang Pendekar Kemayoran
- 4 Juli 2021 - direvisi ke 2 oleh Bangindsoft pada 12 November 2021

Pada zaman dahulu, ketika Jakarta masih bernama Batavia dan masih dijajah Belanda, terjadi sebuah perampokan di rumah Babah Yong. Babah Yong merupakan keturunan etnis Tionghoa yang sangat kaya raya di daerah Kemayoran. Peristiwa perampokan itu menyebabkan kegemparan bagi masyarakat Kemayoran. Peristiwa ini akhirnya ditangani oleh pihak yang berwajib.

Seorang lurah dan pemimpin Belanda saat itu, Tuan Ruys, menyelidiki kasus perampokan di rumah Babah Yong. Tuan Ruys yang menyimpan dendam terhadap anak muda yang berama Asni langsung beranggapan bahwa Asni lah dalang dari perampokan tersebut. Asni adalah pemuda gagah perkasa, dia adalah seorang pemuda Kemayoran yang berani terhadap Belanda. Sikapnya yang tegas dianggap sebagai pembangkangan kepada Belanda. Menurut Asni, Belanda adalah kaum penjajah yang mesti angkat kaki dari daerahnya. Sehingga, Asni tidak segan-segan untuk tidak bersikap hormat terhadap Belanda yang berada di kampungnya.

“Aku sudah tau siapa pelakunya, pelakunya adalah Asni. Tangkap Asni sekarang juga !” perintah Tuan Ruys.

“Baik Tuan Ruys,” jawab sang lurah.

Seketika, Asni pun ditangkap di rumahya. Asni sempat memberontak dan menepis bahwa dia bukanlah dalang dari perampokan tersebut.

“Saya bukanlah perampok di rumah Babah Yong. Malam itu saya hanya berada di rumah !” jawab Asni dengan tegas.

“Anda sebaiknya kami bawa ke kantor untuk menemui Tuan Ruys. Ayo cepat !” kata petugas kepolisian Belanda sambil menodongkan senjata dan memborgol kedua tangan Asni.

Akhirnya, Asni mengikuti perintah mereka untuk menemui Tuan Ruys di kantornya. Asni pun sudah mengetahui bahwa Tuan Ruys tidak menyukai keberadaannya di Kemayoran.

Setelah sampai di kantor Tuan Ruys, Asni ditodong dengan berbagai pertanyaan, agar Asni harus mengakui perbuatannya. Namun Asni tetap menyanggah tuduhan-tuduhan itu. Dia tetap mengatakan bahwa dirinya berada di rumah dan banyak saksi yang melihat dirinya di rumah. Pernyataan tersebut membuat Tuan Ruys geram dan menyuruh petugas opas untuk menjebloskan Asni ke dalam penjara. Terlebih, ketika Asni sempat membantah dengan suara yang keras sambil memukul meja Tuan Ruys. Tuan Ruys sangat geram dengan sikap Asni.

Perlawanan Asni tidak sendiri. Ternyata, di luar kantor, banyak masyarakat Kemayoran yang membantah tuduhan Tuan Ruys. Mereka berteriak untuk membebaskan pemuda yang bernama Asni.

“Bebaskan Asni sekarang juga....! bebaskan Asni sekarang juga ....!” mereka serempak berteriak di luar gedung.

Melihat kejadian tersebut, Tuan Ruys keluar dari kantornya. “Ada apa kalian ?” tanya Tuan Ruys.

“Tuan Ruys, kami mengetahui bahwa Asni bukanlah pelakunya. Tadi malam, kami melihat Asni berada di rumahnya,” jelas salah satu warga Kemayoran.

“Ahhhhhh tidak mungkin,” sergah Tuan Ruys.

Namun, massa yang datang pada saat itu cukup banyak dan selalu meneriakan kalimat “Bebaskan Asni....bebaskan Asni...pemuda yang tidak bersalah.” Hal tersebut membuat Tuan Ruys merasa malu hingga akhirnya menimbang keputusannya untuk tidak menjebloskan Asni ke dalam penjara. Terlebih, tuduhan tersebut tidak ada bukti sama sekali.

Tuan Ruys menyuruh opas untuk membuka borgol di tangan Asni, sebagai tanda bahwa Asni dibebaskan. Namun, kebencian Tuan Ruys semakin memuncak, dia menghampiri Asni dengan perlahan.

“Asni, kamu boleh bebas saat ini. Tapi kamu harus bisa memenuhi syarat yang saya ajukan !” jelas Tuan Ruys sambil menatap kedua bola mata Asni.

“Syarat apa Tuan ?” tanya Asni sambil menatap wajah Tuan Ruys.

“Kau harus menangkap siapa perampoknya ! Jika tidak, kau akan kujebloskan lagi ke penjara,” kata Tuan Ruys.

Asni menyanggupi, dia akhirnya dibebaskan. Meskipun kesal dengan sikap Tuan Ruys yang semena-mena memenjarakan dirinya, dia pun penasaran terhadap siapa yang melakukan perampokan di rumah Babah Yong.

“Saya harus mengetahui siapa yang melakukan perampokan tersebut. Jangan-jangan bukan orang kampung sini,” gumam Asni.

Keesokan harinya, Asni berniat ke Kampung Marunda. Dia berjalan kaki ke kampung tetangganya untuk mencari infomasi mengenai siapa pelaku perampokan di rumah Babah Yong. Kampung Marunda adalah kampung tetangga dari Kemayoran.

Ketika sampai di perbatasan antara Kampung Kemayoran dengan Kampung Marunda, Asni dihadang oleh sekelompok orang. Sekelompok orang tersebut berasal dari Kampung Marunda. Asni tidak melihat orang-orang tersebut, hingga akhirnya sekelompok orang dari Kampung Marunda merasa kesal dengan sikap Asni.

“Hei, berani-beraninya kamu masuk tanpa meminta izin dari kami !” kata salah seorang penjaga Kampung Marunda kepada Asni.

“Maaf Bang, saya tidak melihat abang-abang semua,” jawab Asni.

“Ahhhh alasan, kamu sebenarnya ingin menyepelekan kami kan ?” sanggah salah satu dari mereka.

Akibat kesalahpahaman itu, terjadilah perkelahian antara Asni dengan penjaga kampung sebelah. Mereka berjumlah 5 orang dan siap menyerang Asni secara membabi-buta. Namun Asni memiliki keahlian bela diri yang tinggi. Asni dapat menangkis serangan-seragan dari mereka, pukulan dan tendangan Asni dapat membuat mereka roboh tidak berdaya. Penjaga Kampung Marunda akhirnya lari tunggang langgang karena Asni dapat mengalahkan mereka.

Mereka akhirnya mengadu kepada Kang Bodong, Kang Bodong adalah pendekar tersohor dan dianggap senior di Kampung Marunda. Mendengar kejadian tersebut, Kang Bodong akhirnya mencari pemuda yang berusaha masuk ke kampungnya. Sang pemuda itu ditemukan Kang Bodong tidak jauh dari tempat kejadian perkelahian.

Tanpa pikir panjang, Kang Bodong menyerang pemuda yang bernama Asni itu. Pukulan serta tendangan yang dilancarkan Kang Bodong hanya ditangkis oleh Asni. Asni tau, Kang Bodong adalah pendekar sepuh yang harus dihormati, untuk itu Asni tidak melakukan pukulan dan serangan terhadap Kang Bodong.

Kang Bodong akhirnya berhenti untuk melakukan serangan karena dirinya kehabisan tenaga setelah menghadapi Asni. Akhirnya Asni angkat bicara bahwa dirinya bermaksud datang ke Kampung Marunda untuk mencari siapa perampok di rumah Babah Yong.

Sebelum Kang Bodong menanggapi pernyataan Asni, munculah serangan tiba-tiba dari seorang gadis. Sang gadis menyerang Asni dengan cukup lincah dan gerakan silat yang menipu. Asni lumayan kewalahan dengan serangan seorang gadis itu. Namun, akhirnya Asni dapat menguasai serangan dari gadis tersebut. Terlebih ketika baju sang gadis sempat tersangkut di dahan pohon, Asni pun menebas dahan pohon itu hingga tubuh sang gadis dapat ditangkap oleh Asni.

“Lepaskan saya.... !” perintah sang gadis kepada Asni.

Asni hanya terpaku melihat rupa si gadis “cantik juga nih,” gumam Asni.

“Apa..?” tanya sang gadis dengan raut merah padam.

“Eh... ngga,” Asni pun malu dengan ucapannya tadi. Dia mulai salah tingkah.

“Mirah.... Mirah....,” seru Kang Bodong sambil tertawa. “Ternyata ada seorang pemuda yang bisa menaklukan ilmu silat putri saya.”

Asni terkejut, ternyata gadis itu adalah putri dari Kang Bodong yang bernama Mirah. Mirah adalah seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu silat yag cukup tinggi. Di Kampung Marunda, belum ada yang bisa mengalahkan kemampuan silat Mirah.

“Asni, kau berhak untuk menikahi anak gadisku,” kata Kang Bodong sambil tersenyum.

Asni pun tertunduk malu, dia rupanya menaruh hati kepada gadis yang baru saja ditemuinya, Mirah. “Kalau Mirah mau, saya setuju saja,” jawab Asni sambil tertunduk malu.

“Saya sudah berjanji, jika ada pemuda yang mampu mengalahkan silatnya, maka pemuda itu berhak untuk menikahi Mirah,” lanjut Kang Bodong.

Mirah yang cantik dan pemberani semakin tertunduk malu. Demikian pula dengan Asni, dia tidak menyangka bahwa akan menemukan jodohnya di Kampung Marunda. Padahal, tujuan utamanya yaitu mencari kawanan perampok yang mencuri di rumah Babah Yong.

Kang Bodong akhirnya mengajak Asni untuk menceritakan perihal perampokan di rumah Babah Yong. Konon, Babah Yong terkenal hingga di luar daerah kemayoran. Mendengar penjelasan dari Asni, Kang Bodong akhirnya yakin bahwa pelaku perampokan adalah Tirta. Sebab Tirta dikenal sebagai berandalan Marunda yang sudah sejak lama berniat merampok rumah Babah Yong.

Beberapa waktu kemudian, pernikahan Asni dengan Mirah dilangsungkan. Banyak tamu undangan berdatangan, termasuk Tuan Ruys, lurah, dan Babah Yong. Ternyata Tirta juga ikut dalam pesta hajatan pernikahan Asni dan Mirah. Tirta ternyata memiliki niat buruk. Dia akan membunuh Asni karena telah mengetahui bahwa pemuda tersebut akan menangkapnya untuk dibawa ke opas Kemayoran.

Gerak-gerik Tirta akhirnya diketahui oleh Kang Bodong. Kang Bodong terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Tirta. Dengan pelan, Tirta mempersiapkan sesuatu di balik saku bajunya. Kang Bodong yakin bahwa di balik saku baju Tirta adalah pistol. Dengan sigap, Kang Bodong menghentikan gerakan Tirta, tarik-menarik terjadi antara Kang Bodong dengan Tirta. Hingga akhirnya, pistol tersebut mengeluarkan peluru dan menghujani salah satu tubuh mereka.

Suara senjata api tersebut menimbulkan keributan. Para undangan saling berlari menyelamatkan diri. Mereka berteriak dan terkejut mendengarkan ledakan pistol. Tidak disangka, ternyata peluru bersarang di tubuh Tirta. Akhirnya Tirta dilarikan ke rumah sakit. Karena kehabisan darah, Tirta meninggal dunia di perjalanan.

Setelah kematian Tirta, warga Kemayoran merasa aman, karena tidak ada lagi gangguan seperti perampokan dan pencurian. Terlebih ketika Asni dan Mirah telah menikah, Asni membawa istrinya ke Kemayoran. Sehingga Kemayoran memiliki sepasang pendekar yang merupakan suami istri, yaitu Asni dan Mirah.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu