Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Jawa Tengah Surakarta
Selat Solo
- 1 Mei 2023 - direvisi ke 3 oleh Haha_nimasayu_21 pada 4 Mei 2023

Kota Surakarta tidak hanya dikenal akan keberagaman budayanya tetapi juga kaya akan kuliner khas yang memanjakan lidah. Beragamnya kuliner tersebut yang menjadi daya tarik wisata bagi para wisatawan dari berbagai daerah baik domestik atau luar negeri. Salah satu kuliner atau makanan khas Surakarta yang menjadi warisan budaya dan mungkin sudah tidak asing lagi adalah selat solo. Selat solo menjadi makanan khas Surakarta yang terdiri dari daging olahan yang biasanya di cincang, sayuran pelengkap seperti potongan wortel, buncis, daun selada, tomat, acar timun, mayonaise, dilengkapi pula dengan kentang rebus, kentang goreng, telur rebus, dan disajikan dengan kuah berwarna coklat bercita rasa manis gurih yang segar. Sehingga selat solo ini memiliki kandungan nutrisi yang pas dan seimbang antara protein, karbohidrat, mineral, dan lainnya yang baik untuk tubuh.

Selat solo merupakan salah satu makanan modifikasi dari budaya barat di masa lampau yang disesuaikan dengan cita rasa dan selera masyarakat lokal. Sehingga bahan dan bumbu dalam pembuatannya juga menyesuaikan dengan kondisi masyarakat lokal terutama masyarakat Surakarta. Apabila dilihat dari sejarahnya, selat solo menjadi suatu warisan budaya Eropa yaitu masa pendudukan Belanda. Kata selat sendiri berasal dari kata slachtje yang memiliki arti salad dengan perpaduan daging yang dipotong kecil yang disebut dengan biefstuk atau biasa diartikan sebagai beef steak. Pada masa itu makanan selat ini hanya disajikan kepada para masyarakat kelas atas seperti keluarga Keraton Kasunanan Surakarta yang biasanya disajikan pada saat acara tertentu yang melibatkan pihak keraton dengan masyarakat Eropa yaitu Belanda.

Namun dikarenakan terdapat beberapa warga keraton yang tidak biasa menyantap daging tebal dan dimasak setengah matang ala Eropa, maka dibuatlah modifikasi olahan daging yang dicincang dan dimasak matang dipadukan dengan sayuran pelengkap yang kemudian dikenal sebagai selat. Penyebutan kata selat tersebut juga dikarenakan lidah masyarakat lokal yang sulit menyebutkan kata slachtje sehingga disesuaikan untuk mempermudah pengucapannya. Pada dasarnya selat solo ini memang sangat dipengaruhi dengan karakteristik budaya Eropa sebagai asal mula adanya makanan tersebut. Meskipun begitu selat solo telah mengalami banyak penyesuaian dengan budaya lokal terutama pada selera masyarakat Jawa.

Bentuk penyesuaian tersebut dapat dilihat pada pengolahan daging yang apabila di Eropa dimasak dengan setengah matang maka di Surakarta daging selat dimasak sampai benar - benar matang. Kemudian kuah yang disajikan juga mengikuti selera masyarakat Jawa yang menyukai cita rasa manis, sehingga kecap menjadi bahan utama pembuatan kuah selat. Hal tersebut berbeda dengan pengolahan daging di Eropa yang identik disajikan dengan saus yang dipadukan dengan mustard. Meskipun kuah selat solo memiliki cita rasa manis menyesuaikan selera lidah masyarakat lokal terutama Surakarta, namun memang tidak semua menyukai cita rasa manis tersebut. Sehingga di beberapa tempat atau restoran yang menjual selat solo di Surakarta melakukan penyesuaian kembali dengan membuat kuah yang memiliki cita rasa manis lebih ringan dan lebih menonjolkan rasa gurih supaya dapat diterima masyarakat umum.

Selain itu penambahan potongan kentang rebus dan telur rebus juga disesuaikan dengan kondisi masyarakat lokal yang terbiasa mengkonsumsi karbohidrat yaitu memberikan efek mengenyangkan sebagai pengganti nasi. Hal tersebut dikarenakan seperti yang kita semua tahu bahwa masyarakat Indonesia identik selalu mengkonsumsi makanan berat seperti nasi atau bahan karbohidrat lain untuk sehari - hari. Keunikan yang dimiliki dari selat solo adalah pada penyajian kuahnya. Apabila di Eropa dalam penyajian masakan seperti daging akan disajikan selagi panas dengan kuah atau saus yang hangat. Berbeda dengan selat solo yang selalu disajikan dengan kuah dalam keadaan dingin, meskipun juga dapat disajikan secara hangat namun kebanyakan selat solo memiliki kuah yang dingin. Kuah selat solo yang dingin tersebut menjadi ciri khas tersendiri karena memberikan efek menyegarkan dan sensasi berbeda dengan kombinasi bahan lainnya yang pas.

Makanan khas Surakarta ini bukan menjadi hal yang sulit untuk dicari dan dinikmati bagi masyarakat umum. Banyak sekali restoran atau rumah makan yang menjual selat solo ini tersebar di berbagai bagian kota Surakarta. Beberapa rekomendasi restoran selat solo yang cukup terkenal dikalangan masyarakat atau wisatawan antara lain seperti Selat Vien’s yang berlokasi di Jl. Hasanudin No 99, Punggawan, Kecamatan Banjarsari. Kemudian Selat Mbak Lies yang berlokasi di Jl. Yudhistira No 9, Serengan, Kecamatan Serengan. Selain itu terdapat pula Selat Tenda Biru yang berlokasi di Jl. Dr Wahidin No 26, Purwosari, Kecamatan Laweyan. Namun apabila ingin mencoba membuat sendiri selat solo tersebut yang sesuai selera sendiri, maka perlu mengetahui secara betul bahan dan bumbu yang diperlukan. Berikut ini cara atau resep pembuatan selat solo beserta bahan dan bumbunya secara lengkap.

Bahan yang diperlukan dapat disesuaikan dengan selera : 500 gr daging dalam sapi (sesuai selera dan kebutuhan), 1 butir telur ayam rebus dan dikupas, 1 sdm margarin, 30 gr bawang bombay cincang kasar, 2 siung bawang putih cincang, 1 sdm kecap inggris, 100 ml kecap manis, ½ sdt pala bubuk, ½ sdt merica bubuk, 2 sdt garam, 2 butir cengkih, dan 1 sdm mayonaise

Bahan pelengkap : 100 gr buncis potong, 100 gr wortel potong memanjang, 3 lembar daun selada, 200 gr kentang rebus dipotong, 1 buah tomat dipotong sesuai selera, acar timun, kentang goreng yang dipotong tipis

Cara membuat : Iris daging secara melintang dan tipis, Panaskan margarin sampai meleleh, Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai wangi, Masukkan irisan daging dan goreng sampai matang kecoklatan, Tambahkan kecap manis, kecap inggris, pala, merica, garam, dan cengkeh, Tambahkan air sekitar 500 ml dan masukkan telur rebus, Masak sampai daging empuk dan kuah sedikit menyusut, Sajikan diatas piring dengan susunan selada, potongan sayuran, kentang, mayonaise, dan irisan daging beserta kuahnya. Selat solo siap disajikan dan dinikmati.

Referensi : Indonesia.go.id. Selat Solo Steak Eropa Ala Jawa. https://indonesia.go.id/ragam/kuliner/ekonomi/selat-solo-steak-eropa-ala-jawa https://sukoharjo.pikiran-rakyat.com/solo-raya/pr-2034531502/asal-mula-terciptanya-selat-solo-kuliner-khas-solo-dengan-sentuhan-eropa file:///C:/Users/acerSwift/Downloads/oskm18_16518215_zulfikar_nima_arifuzzaki_OSKM_16518215_ZULFIKAR.pdf

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi,
Ritual Ritual
Daerah Istimewa Yogyakarta

Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi, makna, dan nilai budaya Identitas Ritual Sekaten adalah rangkaian upacara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) [S1][S3]. Ritual ini berlangsung selama delapan hari, dimulai pada tanggal 5 Rabi'ul Awal (Mulud dalam kalender Jawa) dan berakhir pada tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan upacara penutup bernama Garebeg Mulud [S3]. Nama "Sekaten" sendiri berasal dari adaptasi istilah Arab syahadatain , yang merujuk pada dua persaksian (syahadat) dalam Islam [S1]. Komunitas pelaksana Sekaten adalah institusi keraton sebagai pusat ritual, dengan melibatkan masyarakat luas dalam prosesi dan perayaan [S2]. Lokasi utama penyelenggaraan adalah Yogyakarta, meskipun tradisi serupa juga dilaksanakan di Surakarta [S1]. Upacara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan laku budaya-religius...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur
Motif Kain Motif Kain
Nusa Tenggara Timur

Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...

avatar
Kianasarayu