Dalam rangka menyambut tahun baru 2023 dan pergantian tagline Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, dengan ini, kami mengundang para desainer grafis yang tertarik, untuk ikut berpartisipasi dalam proses #SayembaraPDBI dengan mengikuti langkah-langkah dan peraturan sebagai berikut.
LATAR BELAKANG
Tentang Perpustakaan Digital Budaya Indonesia
Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) merupakan platform komputasional untuk preservasi budaya tradisional secara partisipatif. PDBI diharapkan mampu menjadi referensi online dan rumah bagi jutaan artefak Budaya Indonesia yang kurang mendapatkan perhatian dan karenanya, sangat minim diketahui oleh ilmu pengetahuan. PDBI akan terus menghimpun informasi baik tentang keragaman artefak tradisional maupun kreasi turunannya. PDBI diperuntukkan bagi dan menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia sebagai media untuk menggali, mengapresiasi, dan menjaga ketahanan kebudayaan tradisional Indonesia sebagai bentuk #TransformasiDigitalBudaya.
Referensi budaya yang terpadu dan komprehensif juga dapat mendorong peningkatan penelitian-penelitian budaya. Selain itu basis data budaya tradisi Nusantara juga akan sangat bermanfaat untuk mendorong pengembangan inovasi ekonomi kreatif berbasis kekayaan budaya. Latar belakang inilah yang memotivasi kami untuk membangun PDBI di laman www.budaya-indonesia.org pada akhir tahun 2007. Situs ini berusaha untuk mengumpulkan data kebudayaan secara partisipatif, dengan melibatkan peran serta publik. Beragam data kebudayaan dikumpulkan, mulai dari alat musik, cerita rakyat, motif kain, lagu, arsitektur, naskah kuno, dan lain sebagainya. Hingga saat ini telah terkumpul lebih dari 50 ribu data kebudayaan.
POKOK MASALAH
PDBI memiliki salah satu portal berita yang beralamatkan https://infobudaya.net. InfoBudaya merupakan platform yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang ingin menuangkan tulisannya mengenai budaya tradisional di Indonesia. Portal berita ini sudah ada sejak tahun 2015 dan terus dikembangkan. Saat ini sudah ada lebih dari 1000 tulisan dengan lebih dari 100 penulis yang berpartisipasi di dalamnya.
Dalam rangka merangkul kembali anak-anak muda untuk terus aktif menulis, PDBI mengadakan #SayembaraPDBI yang bertajuk Sayembara Esai. Sayembara ini menjadi salah satu cara PDBI untuk terus dekat dengan masyarakat. PDBI mengajak seluruh insan kreatif di Indonesia untuk menuangkan idenya dalam penulisan di InfoBudaya.
BRIEF SAYEMBARA
Berikut adalah hal-hal yang menjadi brief dari Sayembara Esai PDBI 2023:
SYARAT PESERTA:
KEBUTUHAN:
KETENTUAN SAYEMBARA:
PENGIRIMAN KARYA ESAI
Pengiriman karya esai agar dikirimkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
PERIODE SAYEMBARA
PENGUMUMAN PEMENANG
Pemenang akan diumumkan melalui akun Twitter dan Instagram resmi milik Budaya Indonesia.
PENGHARGAAN
Catatan:
Info lebih lanjut, dapat dibaca di s.id/panduansayembaraesai
Pesona Dari Barito Timur
Barito Timur adalah wilayah kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah. Kabupaten Barito Timur beribukota Tamiang Layang dan berbatasan langsung dengan Provinsi tetangga dari Kalimantan tengah, yaitu Kalimantan Selatan. Barito Timur memiliki semboyan "Jari Janang Kalalawah" yang artinya "Menjadi jaya selama-lamanya". Rata-rata suku yang mendiami di daerah Barito Timur adalah Dayak Ma'anyan dan Dayak Lawangan. Barito Timur memiliki banyak keunikan dan salah satu nya adalah Bundaran Simpang Tiga, Ampah. Keunikan nya sendiri menjadi ciri khas Barito Timur, yaitu titik dimana jalan antara 3 kabupaten saling bertemu, yaitu Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Utara dan Ibu kota Kabupaten Barito Timur, Tamiang Layang. Banyak hal yang menjadi keunikan di Barito timur, maka dari itu hendaknya kita sebagai anak-anak penerus generasi bangsa menjaga keunikannya dan jangan sampai terlepas ke tangan yang salah.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...