Kisah seorang anak yang bernama Sammang, yang tinggal bersama Ibunya yang bernama Bulang, ketika itu Sammang, mengamuk karena makanan yang di sajikan Ibunya tidak di sukainya karena alakadarnya. Karena marah atas tingkah laku Samang, akhirnya Ibunya pun memukul kepala Samang dengan menggunakan sendok nasi kepala Samang pun mengeluarkan darah akhirnya Samang pun lari meninggalkan Ibunya seorang diri dan tidak perna terdengar kabar beritanya. Akhirnya Sammang pun, tumbuh besar dan menjadi seorang yang kaya raya, ketika itu Samang bertemu seorang Wanita cantik yang sedang mengadu nasib di tempat dimana Sammang tinggal, Sammang pun meminta agar Wanita itu mau tinggal di rumanya, karena tidak mempunyai tempat tinggal akhirnya Wanita itu pun tinggal bersama Sammang yang ketika itu telah merubah namanya menjadi Sarang, hari-hari di lalui bersama akhirnya Sammang dan Wanita itu pun saling jatuh cinta dan akhirnya mereka pun menikah hari demi hari mereka lalui hingga akhirnya Sammang menyuruh Istrinya itu untuk mencarikan kutunya dan tiba-tiba Istrinya terkejut melihat bekas luka yang ada di kepala Sammang, yang sama persis dengan luka yang ada di kepala anaknya Sammang.
Keesokan harinya Sammang pun bertanya kepada istrinya yang sedang duduk melamun, kamu kenapa? apa ada yang kurang dari semuah yang Aku berikan kepada mu atau kamu lagi ada masalah? Beri tahu Aku mungkin Aku bisa membantu mu. Mendengar perkataan Sammang, Wanita itu pun bertanya luka yang ada di kepala mu itu luka gara-gara apa? Samang pun menjawab ini luka ketika Aku masi kecil ketika itu Aku di pukul oleh Ibu ku. Samang pun bertanya kenapa apa ada yang salah dengan luka di kepala ku ini? Wanita itu pun menangis dan berkata; dulu Aku mempunyai seorang putra yang mempunyai luka sama persis dengan luka yang ada di kepala mu karena Aku pukul dan ketika itu usianya sepuluh tahun seumuran dengan kamu saat ini. Sammang pun terdiam sejenak, dan berkata; anak mu itu bernama siapa? Wanita itu pun menjawab; namanya Samang dan Aku ini adalah Ibu mu Bulang. Seakan tidak percaya Samang pun berkata andaikan kamu Ibu ku seharusnya kamu suda tua! Waniata itu pun menjawab Aku juga tidak tahu mengapa Tuhan tidak menuakan ku.
Sammang pun berlari ke Gunung dan disana dia menagis terus-menerus seakan menyesali perbuatan yang telah di lakukannya, sambil berjalan terus menelusuri hutan dan akhirnya Sammang bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang memasak Samang pun berhenti sejenak dan melanjutkan perjalanannya tanpa sepata kata pun kepada Kakek tua yang di temuinya, ketika dalam perjalanan Sammang pun dikejutkan dengan Kakek tua yang di temuinya tadi ternyata ada di hadapannya, Kakek itu pun bertanya kamu sedang mencari apa wahai anak muda, Sammang pun menjawab; Aku sedang mencari orang yang bisa memberikan Aku jaminan bahwasanya dosa yang telah Aku perbuat aka di ampuni Tuhan. Mendengar perkataan Sammang, Kakek itu pun bertanya dosa apa sekiranya yang telah kamu lakukan wahai anak muda, Sammang pun menceritakan dosa yang telah di perbuatnya bahwasanya dia telah menikahi Ibunya akan tetapi dia sendiri tidak mengetahuinya. Kakek itu pun menjawab; teruskanlah perjalanan mu itu hingga kamu menemukan sebuah balai-balai kecil di atas sana yang di tinggali oleh seorang Kakek. Sammang pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang di surukan Kakek itu, setiba di sana Sammang pun kaget melihat Kakek yang ada di atas balai-balai itu yang ternyata dia tidak lain adalah Kakek yang di temuinya tadi. Sammang pun bertanya kembali apakah dosa ku akan di ampuni Tuhan, Kakek itu pun menjawab; sebesar apa pun dosa mu jika kamu dengan sungguh-sungguh bertobat maka dosa mu itu akan di ampuninya. Sammang pun, bertanya bagaimana caranya? Kakek itu pun memberitahukan Samang, sebut kalimat ini hingga Kamu tidak bernapas lagi, Sammang bertanya kalimat apakah itu? Kakek itu pun menjawab; kalimat “ LAILAHA ILLALLAH”. Menurut Masyarakat Makassar, ketika itu Sammang berguruh kepada Syehk Yusuf, dan oleh karena itu pula asal mula adanya ajaran Halwatiah Sammang yang di ajarkan oleh Sammang setelah berguruh kepada Syehk Yusuf dan terkenal dengan Zikir yang di ajarkannya itu.
Sumber : http://haeruddin-kumpulanceritabugismakassar.blogspot.com/
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...