Ritual
Ritual
ritual Jawa Timur Banyuwangi
rebo wekasan
- 5 Agustus 2014

Selamatan Adat Rebo Wekasan

Menjaga Kelestarian Sumber Air

 

SETIAP adat tradisi yang diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur, pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Maksud dan tujuan yang dikemas melalui adat tradisi tersebut memang tidak disampaikan secara vulgar, melainkan melalui simbol-simbol tertentu yang perlu perenungan dan pemahaman lebih mendalam.

Barangkali untuk menghindarkan generasi penerus tradisi dari jebakan rutinitas yang membosankan, nenek-moyang kita sengaja menyampaikan pesan-pesan tersebut secara simbolis. Ini (mungkin) dimaksudkan agar generasi penerus tidak sekadar melaksanakan adat tradisi tanpa memahami maksud dan tujuan yang dikandungnya, tapi juga melakukan kajian-kajian lebih lanjut sehingga mampu mendalami makna yang tersirat di dalamnya.

Biasanya, setiap kandungan pesan yang disampaikan dalam sebuah adat tradisi selalu terkait dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, kita bisa melihat pelaksanaan adat tradisi Rebo Wekasan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Tradisi yang rutin diselenggarakan setiap hari Rabu terakhir pada bulan Sapar ini adalah untuk memperingati saat pertama Nabi Hidir mensucikan air.

Secara nalar, selamatan adat Rebo Wekasan memang kurang bisa diterima oleh akal. Sebab bagaimana mungkin hanya dengan melakukan selamatan yang digelar di setiap mata air yang terdapat di sepanjang tepi sungai yang membelah Desa Adat tersebut, lantas sumber-sumber air itu tetap mengalir deras dan jernih sepanjang tahun?

Memang tidak mungkin. Tapi bila kita coba merenungi makna yang tersirat di balik adat tradisi tersebut, kita akan mendapatkan pemahaman lebih jelas tentang bagaimana cara nenek-moyang kita dulu menjaga dan merawat kelestarian sumber daya air.

Bila diterjemahkan secara bebas, adat tradisi Rebo Wekasan itu sebenarnya mengajarkan pada kita bagaimana cara menjaga dan merawat lingkungan hidup. Dengan terjaganya lingkungan yang utuh dan lestari, berarti juga menjaga kelestarian sumber air itu sendiri. Maka melalui pelaksanaan adat tradisi Rebo Wekasan yang rutin diselenggarakan setiap tahun tersebut, masyarakat di lingkungan Desa Kemiren seakan terikat oleh sebuah tanggung jawab besar terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Menurut penuturan Serad (65), seorang tokoh adat Desa Kemiren, kesetiaan warga Desa Kemiren dalam melaksanakan adat tradisi Rebo Wekasan itu karena masyarakat masih meyakini bahwa air pertama (wekasan) yang diambil dari sumber air pada hari Rabu terakhir bulan Sapar jam 13.00 wib, memiliki khasiat yang diberikan oleh Nabi Hidir. Karena khasiatnya itu, air tersebut biasanya disimpan oleh masing-masing warga sebagai sarana tolak-balak.

“Jadi mulai hari Selasa atau sehari menjelang selamatan Rebo Wekasan, seluruh warga sudah mulai ngangsu air untuk memenuhi kebutuhannya. Dan pada Rabu pagi mulai jam 06.00 – 12.00 wib, warga dilarang mengambil air dari sumber. Baru kemudian pada jam 13.00 wib, warga kembali diperbolehkan mengambil air. Pada saat itulah, seluruh warga mulai berebut untuk mendapatkan air pertama atau wekasan. Mereka percaya air pertama yang diambil setelah jam 13.00 wib itu mengandung khasiat dan bisa dijadikan sebagai tolak-balak,” tutur Serad.

Terlepas dari benar tidaknya kepercayaan masyarakat, yang jelas bahwa pelaksanaan adat tradisi Rebo Wekasan itu telah berperan banyak dalam upaya menjaga dan menyelamatkan lingkungan. Karena itu, kita tidak boleh memandang sebelah mata tentang sebuah adat tradisi. Sebab di balik pelaksanaannya yang terkadang kurang bisa diterima akal tersebut, ada sebuah kearifan lokal yang patut kita jadikan pegangan dalam mengikuti pola hidup di abad modern sekarang ini.

“Adat tradisi Rebo Wekasan ini sebenarnya perupakan perpaduan antara budaya Hindu dan Islam. Bagi masyarakat Kemiren, tradisi tersebut dianggap sakral karena menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari. Karena itu, sampai saat ini masyarakat masih setia melaksanakan adat tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun tersebut,” tambah Serad.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu