RASI merupakan salah satu jenis pangan sumber karbohidrat yang berasal dari singkong, dan merupakan ampas singkong hasil sampingan pembuatan aci. Kebiasaan mengkonsumsi rasi telah dilakukan secara turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda, dan telah menjadi kebiasaan masyarakat Kampung Cireundeu sampai sekarang. Munculnya tradisi mengkonsumsi Rasi didorong oleh semangat kemandirian pangan yang berbasis pangan lokal. (Farkhan, Bachmid, & Majid, 2014). Masyarakat kampung adat cireundeu memanfaatkan pohon singkong terutamanya RASI (Beras Singkong) yang dikenal juga dalam bahasa Sunda yaitu sangueun menjadi makanan pokok kampung Cirendeu sampai sekarang. Berbagai olahan makanan telah berkembang di kawasan ini mengingat Kampung Adat Cireundeu saat ini telah menjadi contoh wilayah ketahanan pangan. Menurut Kahya (57 tahun) selaku masyarakat asli kampung Adat Cireundeu menurutnya bahwa memakan Beras Singkong sudah dimulai pada tahun 1924 yang di gagas oleh Aki Haji Ali disaat beliau sedang berkelana dan mendapatkan informasi bahwa Beras di masa mendatang akan krisis di Indonesia. Saat itu Aki Haji Ali mendapatkan suatu ilham ingin merdeka lahir dan batin maksudnya yakni bukan hanya merdeka dari penjajahan Belanda tetapi juga kesulitan hidup. Maka dari itu Aki Haji Ali memberi amanat kepada warga cireundeu untuk menunda mengonsumsi beras dan beralih ke singkong atau umbi-umbian. Sehingga dibuatnya Beras singkong (Rasi), menurutnya walaupun tidak memakan beras sama seperti orang lain tetap bisa melangsungkan kehidupan. Juga terbukti sekarang ini beras di Indonesia memang sudah Krisis di karenakan banyak sawah-sawah yang dijadikan perumahan sehingga pasokan beras sedikit sehingga sekarang ini Indonesia menginpor beras dari negara lain. Kemudian menurut beliau masyarakat cireundeu masih mempertahankan memakan beras singkong (Rasi) sampai sekarang yaitu karena amanat yang harus dilestarikan dari para leluhur, sehingga saat ini masih tetap dijaga. Pada tahun 1924 akhirnya masyarakat Cireundeu berhasil mengolah singkong yang mereka tanam menjadi rasi secara sempurna dan mereka menyebutnya dengan istilah sangueun (bahan untuk dibuat nasi). Wejangan leluhur tersebut ditaati hingga saat ini. Dengan mengganti konsumsi makanan pokok dari nasi beras ke nasi singkong, warga Cireundeu tidak tergantung lagi pada beras. Pantangan mengonsumsi makanan dari beras bagi masyarakat Cireundeu adalah suatu ajaran dari leluhur mereka yang telah dijalankan oleh mereka secara turun menurun. Peribahasa sehari-hari: “Nunda kersa Nyai” atau tidak memakan pemberian Dewi Sri merupakan suatu ajaran leluhur yang mendasari pantangan tersebut. Beras dilambangkan sebagai seorang perempuan yaitu Dewi Sri, karena ada anggapan bahwa bercocok-tanam ditemukan oleh perempuan dan tanaman padi mempunyai sifat bijak dan keibuan seperti perempuan. Jadi beras harus dihormati karena berasal dari padi. Di samping itu masyarakat kampung adat cireundeu memegang prinsip Tuntunan Kejo Sakeupeul yaitu sebagai berikut:
“Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat” Dari prinsip tersebut menjelaskan bahwa kita tidak punya sawah asalkan punya padi, tidak punya padi asalkan punya beras, tidak punya beras asalkan bisa menanak nasi, tidak bisa menanak nasi asalkan bisa makan, tidak makan asalkan kita kuat. Maksud dari kalimat teu dahar asal kuat atau tidak makan asalkan kuat itu bukan kita tidak makan. Maksudnya yaitu karena warga Indonesia yang sering bergantung pada beras/nasi yang sekarang terdapat prinsip orang indonesia belum makan, apabila tidak makan nasi/beras. Namun berbeda dengan masyarakat adat cireundeu yang tidak bergantung kepada Nasi atau beras melainkan dengan Rasi dan masih bertahan sampai sekarang serta walaupun rasi tidak ada, masyarakat adat cireundeu bisa memakan yang lain bisa nasi jagung, roti, mie instan dan lain sebagainnya selain nasi/beras. Seperti yang dikatakan Risma (19 Tahun) yakni salah satu orang yang memakan Rasi menurutnya beliau saat diluar rumah namun tidak ada Rasi maka Risma mengganti nya dengan Kentang goreng ataupun rebus dan juga bisa dengan jagung. Walaupun sejak kecil beliau memakan RASI tetapi ketahanan tubuhnya tetap bagus.
Dalam memasak rasi cukup mudah sekali, dan sehat. Karena dibandingkan dengan beras, rasi lebih sehat, beras memiliki kandungan gula maka apabila di konsumsi terlalu banyak tidak bagus. Namun apabila RASI aman namun harus di temani dengan lauk pauk yang mengandung protein, vitamin dll yang tidak mengandung karbohidrat juga. Karena tidak ada makanan yang memiliki kandungan lengkap. Serta rasi juga bisa di buat menjadi nasi goreng seperti nasi beras pada umumnya. Cara memasak RASI yaitu dengan menuangkan RASI secukupnya kemudian masukan air perlahan secukupnya juga, jangan terlalu banyak karena RASI tidak seperti beras. Cukup sampai RASI basah merata. Kemudian kukus selama kurang lebih 15-20 menit. Menggunankan langseung atau tempat yang khusus untuk mengukus sesuatu. (Tidak bisa dimasak menggunakan Magic Com)
Dikarenakan cireundeu yaitu tempat wisata budaya maka kampung adat cireundeu memanfaatkan berbagai olahan singkong sebagai oleh-oleh untuk para pengunjung bukan hanya rasi namun ada eggrol, rangining, dan cemilan sehat yang menarik dan tidak membosankan. Serta masyarakat adat cireundeu juga tidak hanya memanfaatkan dari umbi singkong nya saja. Namun kulit dari umbi singkong tersebutt oleh masayarakat di olah menjadi dengdeng dan apabila kulit singkong tersebut ada sisa maka sisanya di kasih untuk pakan hewan ternak karena masayarakat kampung cireundeu juga kebanyakan menjadi peternak domba. Dengan membuat olahan dari singkong dapat meningkatkan taraf perekonomian warga kampung adat cireundeu dibandingkan hanya dengan menjual singkong secara utuh dalam kondisi sebagai bahan mentah.(Widyanti, 2015). Selain itu dibawah ini merupakan cara untuk mengolah RASI: Singkong yang berumur sekitar 12 bulan yang dapat di panen. Setelah itu di kupas, lalu di cuci Setelah di cuci bersih lalu di giling Setelah halus lalu di peras dan diambil patinya (sarinya) Hampas dikeringkan Dan hasil dari patinya diendapkan satu hari yang bisa digunakan sebagai aci atau tepung. Pengolahan Rasi seperti pada gambar di bawah ini : (Dokumen Pribadi)
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...