I Randeng ialah putri Arung Anakbanua dalam abad kedelapan belas. Ia salah seorang putri Arung Anakbanua yang turun temurun dari Pettang Ubeng. Pattang Ubeng melahirkan tiga orang anak. Yang sulung dinamai La Sampewali, yang tengah dinamai I Soji, dan yang bungsu dinamat I Sinrang. I Soji inilah yang melahirkan I Randeng yang diberi gelar oleh penduduk Petta Macoae karena dialah yang tertua kedudukannya dalam pemerintahan Anakbanua. Dalam susunan urutan Arung Anak banua kira-kira ia termasuk yang ketujuh. I Randeng dalam kedudukannya sebagai putri Arung Anakbanua selalu mengusahakan kemaslahatandan ketinggian martabat rakyatnya. Ia mempunyai seorang puteri yang bernama I Makkatenni dengan gelar Petta Maloloe, artinya masih muda usianya. Dialah nanti yang berhak menggantikan ibunya, jika ibunya kelak berpulang ke rahmatullah. I Makkatenni adalah anak tunggal I Randeng. Ia sudah bersuami sejak kecil tetapi tidak rukun dengan suaminya. Setelah I Makkatenni berumur kira-kira lebih sepuluh tahun, ia mendapat pinangan lagi dari daerah lain yaitu dari daerah Sidenreng. Menurut adat kebiasaan penduduk pada masa itu, apabila seorang puteri raja mendapat pinangan yang sudah resmi, kedua orang tuanya tidak boleh menerimanya sebelum mendapatkan pertimbangan dari orang-orang tua sebab putri inilah nanti yang menggantikan raja memegang tampuk pemerintahan. Jadi pada waktu datang pinangan dari daerah Sidenreng berkatalah I Randeng. "Panggilkan saya orang-orang tua." Dipanggillah orang-orang tua, kemudian dikumpulkan di istana. Randeng meminta pertimbangan dengan berkata, "Sekarang ada yang meminang anakmu, bagaimana pertimbangan kita, diterima atau tidak." Berkatalah orang-orang tua itu, "Biarlah dahulu Puang , kita selidiki tingkah laku orang yang meminang itu . Jika ia bermaksud baik bersamasama dengan kita berusaha untuk mencari jalan guna kemaslahatan rakyat dan membangun daerah kita, bolehlah ditanyakan asal-usulnya, kemudian diterima. Andai kata bermaksud lain pada daerah dan rakyat kita, bolehlah ditutupkan pintu, artinya tidak diterima." Jadi, pulanglah orang yang meminang itu. Selanjutnya, mereka pergi menjajaki, "Siapa gerangan yang meminang putri Arung Anakbanua?" Akhirnya mereka mengetahui nama orang itu, asal-usulnya, dan maksudnya pun dapat dipahami yaitu bukan orang yang betul-betul menginginkan putri itu, tetapi ingin merebut daerah Anakbanua. Bila orang itu sudah berkuasa, apa saja yang dikehendaki akan diperbuatnya. Jadi akan berbuat sewenang-wenang . Rakyat Anakbanua tidak menyukai sifat-sifat yang demikian itu. Ringkas ceritera, datanglah kembali orang-orang tua yang diutus menyelidiki laki-laki yang akan meminang puteri Anak Benua mereka menghadap I Randeng dan berkata. "Eh Puang, saya sudah mengetahui perihal orang yang meminang anakku, demikian juga tentang maksudnya. Selanjutnya, mereka mengundang orang-orang tua untuk meminta pertimbangan kembali. Keputusannya, pinangan orang itu tidak diterima. " Kira-kira beberapa hari kemudian datang kembali peminang untuk mengulangi maksudnya, yaitu akan melaksanakan perkawinan dalam waktu yang singkat. Berkatalah I Randeng, "Kembalilah, cari yang lain saja dan saya turut mendoakannya. Saya sudah mempertimbangkan dengan orang-orang tua rupanya Tuhan Yang Maha Esa tidak mengizinkan terlaksananya rencana ini." Kembalilah peminang tadi ke tanah asalnya sesudah minta izin kepada I Randeng dengan perasaan kurang senang dan berkata, "Yah, tunggulah ." Namun, maksud yang sebenarnya tidak dinyatakan. Ia hanya kembali ke negerinya untuk melaporkan kepada rajanya, "Orang Anakbanua tidak mau menerima kita, lebih baik sediakan alat perang, kemudian kita serang dengan tiba-tiba. baru putri itu diperistri dan daerahnya direbut." Pada suatu ketika yang tidak diduga-duga oleh I Randeng, datang secara tergopoh-gopoh seorang serdadu yaitu panglimanya dan berkata, "Eh Puang, cepat lari. kita didatangi musuh." Menyahut I Randeng, "Sejak dahulu saya tidak pernah lari karena musuh. Dari mana musuh itu ?" Panglima menjawab, "Saya tidak tahu Puang, mereka hanya berbendera merah dan naik kuda, beriring-iringan memasuki lapangan sepak bola di pinggir kampung Bola Malimpong . Larilah Puang untuk menyelamatkan diri dan rakyatmu" Berkata I Randeng, "Biar aku mati di tengah-tengah rakyatku, biar aku sependeritaan dengan rakyatku, aku tidak mau mundur, aku tidak mau pergi, aku tidak akan menyingkir." Orang yang disuruh tadi untuk menyiapkan pasukannya guna membendung musuh didekat lapangan bola di pinggir kampung Bola Malimpong pun kembali. Dengan demikian, Anakbanua tidak sekaligus direbut oleh musuh. I Randeng dengan inang pengasuh. serta anaknya sudah bersiap-siap . Segera ia berkata, "Ungsikan anakmu pergi ke daerah pemerintahan Datu Loa, yaitu Bila-Bilas. Potongkan tujuh lembar lantai, kemudian ulurkan. mari turun guna menyelamatkan jiwanya. Rakyatku, mari kita semua bahu-membahu meskipun dalam kematian " Kembalilah lagi perutusan pertahanan mengatakan, "Mengungsilah Puang" Berkata lagi I Randeng, "Biarlah aku mati sependeritaan dengan rakyatku. Saya tidak akan mundur, saya tidak mau meninggalkan kampung saya." Demikianlah daerah Anakbanua diserang oleh musuh. Rumah penduduk dibakar, kerbau ditembak, dan hewan ternak diiris hidup-hidup. Siapa saja yang ditemui, dipukuli dan ditembaki. Pada akhirnya bermufakatlah rakyat Anakbanua mengatakan, "Mengungsilah Puang , kita bersama-sama pergi mengungsi. Selamatkan jiwa rakyatmu, nanti setelah suasana reda, baru kita bersama-sama kembali ke daerah Anakbanua." Berkata lagi I Randeng, "Hanyalah rakyatku yang diinginkan serta daerah pemerintahanku. Saya tidak mau dilucuti. Biarlah saya mati." Oleh karena desakan tentaranya terpaksa ia mengikuti kehendak orang-orang tua. dipotongkanlah tujuh lembar lantai. I Makkatenni kemudian diulurkan dari rumah untuk selanjutnya dilarikan mengungsi oleh inang pengasuhnya ke daerah pemerintahan Tanasitolo yaitu kampung Bila-Bilae, namanya sekarang. Tanda keesaan Tuhan pun terjadi . Saat inang pengasuh (Opukino) yang mengungsikan I Makkatenni berjumpa dengan musuh di pinggir lapangan sepak bola, musuh menegurnya, "Siapa itu?" Dijawab-nya, "Anakku, saya mau mengungsi guna menyelamatkan jiwaku." Selanjutnya musuh bertanya, "Mana rajamu?" Jawabnya, "Saya tidak tahu." Padahal itulah orang yang diperebutkan sedang dilarikan. Naiklah ke rumah I Randeng orang yang pernah meminang mau kawin secara paksa dengan membawa guru syarat, kali, juga alat perang. Namun, orang yang akan dikawini, sudah tidak ada. Ringkas cerita, sesudah terjadi peperangan, seluruh rakyat Anakbanua pergi mengungsi ke kampung Bila-Bilae, Lajokka. Kosonglah Anakbanua, akhirnya kota itu menjadi hutan dan ditempati oleh pemburu. Tiada berapa lama pergilah berburu seseorang anak raja dari kampung lain, namanya La Barata, ia singgah di Anakbanua . Ia menanyakan kepada pengikutnya, "Siapakah yang empunya kampung ini? Kalau saya lihat tanda-tanda kayu besarnya adalah wanua yang besar yang ditinggalkan oleh penduduknya. "Menjawablah salah seorang dari orang-orang tua La Barat, "Inilah Puang yang disebut kampung Anakbanua daerah pemerintahan I Randeng." Bertanya lagi La Barat, "Kenapa kosong?" Dijawab, "Pernah diserbu musuh. Musuh itu ingin memperistri secara paksa putrinya. Musuh itu menginginkan pula daerah pemerintahan I Randeng. Sekarang I Randeng dan putrinya mengungsi ke kampung Bila-Bilae berusaha mencari jalan dan menunggu waktu yang baik untuk kembali ke Anakbanua." Sesungguhnya I Randeng siang dan malam merasa panas hatinya. Dikatakannya, "Meskipun saya wanita, saya akan melawan laki-laki . Saya akan membela rakyat saya." Dijawab oleh pasukannya, "Tunggu dahulu Puang sampai keadaan tenang kembali." Setelah La Barata kembali dari berburu, ia selalu bertanya-tanya dalam hatinya, akhirnya La Barata bertemu dengan Jenderal La Jalamek yang bergelar Petta Jenderala Tempe . Berkatalah Petta Jenderala, "Eh. sudah benar Ndik. Sebab kebetulan besepupu sekali . Lebih baik kalau saya meminangkan engkau kepada cucu I Randeng yang bernama I Ketti Di samping itu, daerah pemerintahan I Randeng luas dan hanya wanita yang selalu memerintah Daerahnya sudah mendapat serangan dari musuh dan I Randeng kalah. Engkau orang yang berani, lebih baik engkau dipinangkan dan dikawinkan dengan cucu I Randeng agar engkau membantunya membangun kembali negerinya." Demikianlah asal mulanya. Dipinangkanlah La Barata dengan I Ketti, tidak lama kemudian mereka dikawinkan. Berkatalah I Randeng, "Apakah maksudmu Barata merninang cucuku?" La Barata menjawab. "Bukan daerah pemerintahan Puang yang saya inginkan, bukan juga rakyatnya, hanya saya mau membantu Puang membangun kembali negeri Puang yang sudah mendapat serangan musuh, dan belum ber-ketemuan." Berkatalah I Randeng, "Kalau engkau anakku, lindungilah kehormatanku dan aku membantumu. kuserahkan rakyatku untuk mengikuti jejakmu, engkaulah yang menemukannya." Mulailah La Barata mengirim surat kepada orang yang pernah meminang putri I Randeng dahulu, katanya, "Jika engkau laki-laki dan kita berhadapan, jangan wanita yang dilawan." Mulailah La Barata bergerak bersama pasukannya dengan mengibarkan bendera merah. Musuh pun datang juga. Terjadilah pertarungan yang sengit. Pada akhirnya, kekalahan juga yang diderita oleh pihak yang tidak jujur Ringkas cerita, kembalilah La Barata melaporkan kepada I Randeng katanya, "Selesai persoalan Puang, saya sudah menang." Akan tetapi, I Randeng belum dapat menerima sebab ia belum melihat buktinya katanya, "Bawalah tanda bukti engkau Barat yang memiliki Anakbanua." Jadi, kembali lagi La Barata mengambil tanda bukti kemenangannya dari musuh. Musuh bersumpah. "Lemah tombakku, hancur kendaraanku jika saya melawan lagi keturunan orang Anakbanua dikemudian hari." Diambillah. bendera putih musuh kemudian dibawa menghadap kepada I Randeng katanya, "Inilah Puang tandanya lawan menyerah." Tiada berapa lamanya mereka bersiaplah untuk kembali membangun negerinya. Sampai sekarang tidak pernah lagi orang Anakbanua mengungsi, hanya biasa menerima pengungsi dari kampung lain yang kena musibah pada waktu datang tentara dari Jawa. I Randeng orang yang tahu diri, ia pergi menghadap Datua Loa yang mengusai Lajokka, ia mengatakan, "Hamba minta diri untuk kembali membangun daerah pemerintahan hamba sebab sudah ada tanda bendera putih dari musuh . Musuh tidak lagi mau mencoba-coba negeriku karena sesungguhnya bukan anakku yang diinginkan, akan tetapi daerah pemerintahanku dan rakyatku yang akan dikuasai semau-maunya. Hal yang demikian itu tidak aku sukai." Berkatalah Datua Loa, "Tetapi ada perjanjian yang saya inginkan." Berkatalah I Randeng, "Bagua Puang, Saya junjung kemuliaan Datu." Dibuatlah perjanjian yang dimaksudkan. Berkatalah mereka, "Suruh undanglah orang banyak, orang-orang tua, untuk kita mengadakan musyawarah," Yang dikatakan orang sekarang upacara. lsinya berbunyi, "Bermula sekarang bersaudara Loa dan Anakbanua, bersaudara sekandung, mati Loa mati sore Anakbanua, mati sore Loa mati pagi Anakbanua. Tumbang saling menegakkan hanyut saling mengangkat, tanah darat ditempati bersama-sama menanam, danau setengahnya masing-masing." yaitu danau Lapompakka sekarang . Kembalilah I Randeng ke kampungnya guna membangun kembali daerahnya. Tiada berapa lama beralihlah tampuk pemerintahan kepada Arunnge lnco Makkatenni Petta Meloloe yang diperebutkan tadi. Tiada berapa lama meninggalah I Makkatenni, kemudian digantikan oleh I Ketti yaitu isteri La Barat. I Ketti pun memegang tampuk pemerintahan. Hal ini disebabkan oleh suaminya, La Barata yang merupakan orang kuat dan seorang pemberani. Dahulu, Labarata dinamai Babi Jantannya Anakbanua. La Barata asalnya dari Luwu dan Soppeng. Sumber :http://komunitassimpulmerah.blogspot.com/2017/09/i-randeng-cerita-rakyat-wajo-sulawesi.html Rasyid, Abdul. Muhammad Abidin Nur. 1999. Cerita Rakyat Wajo di Sulawesi-selatan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...