Nenek moyang orang Manggarai adalah tiga orang bersaudara yang berasal dari Minangkabau. Demi cita-cita suatu hidup yang lebih pantas, mereka berani merantau ke tanah orang. Tempat pertama yang mereka singgahi ialah Bima. Dari Bima mereka meneruskan perjalanan menuju Manggarai. Di Manggarai mereka mendarat di Werloka, suatu tempat yang dewasa ini terletak di Kecamatan Komodo. Mereka menetap di Werloka untuk beberapa tahun.
Pada suatu waktu timbullah wabah penyakit melanda Werloka dan daerah di sekitamya. Ke tiga bersaudara ini memutuskan untuk pindah ke suatu tempat yang lain. Mereka menginginkan daerah baru yang aman dan sehat. Setelah berembuk mereka menyetujui bahwa terpaksa mereka harus berpisah satu dari yang lain. Dalam perundingan ini mereka tetapkan pula bersama arah persebarannya masing-masing. Putra sulung menempati daerah marahari terbenam. Yang bungsu menempati daerah matahari terbit sedangkan yang tengah menetap di Manggarai. Yang dimaksud dengan daerah matahari terbenam dan saerah matahari terbit ialah daerah Bima dan Ngada sekarang ini. Sebelum berpisah, mereka masih mengadakan lagi musyawarah yang terakhir. Dalam musyawarah ini ditetapkan bagaimana mereka mengadakan pesta tahun baru. Ditetapkan bahwa adik mereka yang menetap di Manggarai harus membunyikan gendang dan saudara-saudaranya akan mendengarkan dari tempatnya masing-masing. Bunyi gendang merupakan tanda bahwa pesta penti telah tiba waktunya. Kemudian mereka pergi ke daerahnya masing-masing.
Setelah bertahun-tahun mereka itu berpisah namun tak pemah terdengar bunyi gendang dari daerah Manggarai. Pada suatu waktu terjadilah suatu bencana yang menimpah keluarga mereka masing-masing. Menurut dukun, bencana tersebut disebabkan oleh kelalaian mereka untuk mengadakan pesta penti. Berita ini kemudian disampaikan oleh saudaranya di Bima kepada adiknya di Manggrai. Diberitakan pula bahwa gendang yang akan dibunyikan nanti harus dibuat dari kulit seorang gadis. Dan seperti ramalan dukun, gadis itu di kampung Ndoso di Manggarai. Pada waktu beritaitu diterima di Manggarai, si bungsu yang mendirikan sebuah rumah berbentuk Lopo yang dalam bahasa mereka di sebut Mbaru Niang. Setelah menerima berita dari kakak� nya di Bima, ia segera berangkat dengan seorang anaknya yang sudah dewasa menuju kampung Ndoso. Mereka berada dalam perjalanan selama beberapa minggu. Di kampung Ndoso mereka memperhetikan semua anak gadis yang tinggal di situ. Kemudian muncullah seorang gadis, yang parasnya cantik bagaikan putri salju. Seketika itu juga timbullah hasrat dari putranya yang merupakan calon raja muda Manggarai, karena bapaknya adalah raja Todo. Setelah itu mereka menemui orang tua si gadis itu dan menyampaikan maksud kedatangan mereka yaitu hendak mempersunting putrinya. Nama gadis itu ialah Ena. Dan nama ibunya adalah Endang. Maksud kedatangan mereka disampaikan lbu kepada anaknya Ena. Tetapi Ena menolak karena bapaknya bukanlah seorang manusia biasa. Sesungguhnya bapak Ena adalah makhluk halus yang dalam bahasa Manggarai disebut Darat.
Penolakan ini menimbulkan rasa amarah dalam hati putra raja Todo. Dan ia bertekad untuk menculik Ena. Mereka memikirkan suatu cara yang tepat agar berhasil menculik gadis Ena. Segala kebiasaan si gadis ini mulai dipelajari dengan teliti. Mereka berusaha mengetahui tempat ke mana gadis itu biasa pergi.
Dari semua keterangan yang diperoleh, me:eka dapat mengetahui bahwa Ena biasa pergi mandi di sebuah rr.ata air. Mata air ini terletak pada lereng sebuah bukit. Ena melakukan kebiasaan ini pada setiap hari Jumat sekitar jam tiga petang.
Pagi-pagi benar mereka pergi ke tempat itu dan dengan cermat meperhatikannya, lalu mereka bersembunyi di antara semak-semak yang agak rimbun sehingga tak dapat terlihat dari tempat di mana gadis itu akan mandi.
Tepat pukul tiga waktu setempat muncullah nona manis itu dengan wajah berseri-seri, dan langsung mandi. Ketika ia sedang duduk di atas sebuah batu, mereka tiba-tiba menyerbu dan menangkapnya. Batu tersebut dinamakan batu sora, karena setiap kali sang putri sehabis mandi banyak sekali udang berkerumun untuk melalap habis ampas kelapa yang dipakai untuk mencuci rambut. Mereka kemudian membunuh gadis itu karena ia menolak menjadi permaisuri Pangeran Todo. Mereka lalu mengulitinya karena teringat pesan dari Bima. Tubuhnya dikuburkan di situ, tetapi kulitnya mereka bawa pulang unntuk dijadikan kulit gendang. Sesampainya di kampung Ndoso mereka memberitahukan kepada ibu Endang bahwa mereka telah membunuh anak gadisnya. Maka merataplah sang ibu menyayangi anaknya. Dan mereka berkata kepada ibunya "Hei jangan menangis, kalau engkau menyayanginya engkau akan kami bunuh juga supaya engkau mati bersama anakmu. Dan ingatlah, dari kulit anakmu akan kami buat sebuah gendang.
Mendengar itu ibu Endang kaget lalu memohon kepada rombongan raja Todo, agar bila gendang itu sudah selesai dibuat kira.Ilya ia diijinkan untuk memukulnya, walau hanya satu kali. Kemudian kembalilah rombongan raja Todo. Sesampainya mereka di Todo mereka membuat gendang kecil lalu kulit wanita tadi mereka belit ke dalamnya. Akhirnya setelah selesai dibuat, mereka menabuhnya dan gendang itu berbunyi, “Loke nggerang, loke nggerang” sedangkan ibunya menabuh, gendang itu bernyanyi, “Welit waning laing loked molas loe, tutung mbut loke nggerang, tu tung mbut loke nggerang”
Waktu mereka menabuh gendang tadi terdengarlah oleh kakaknya yang berada di Bima dan adiknya di Nada, lalu mereka menyiapkan diri untuk melakukan pesta Tahun Baru, yaitu pesta Penti, untuk menghoramti leluhur mereka. Gedang tersebut digantung tersendiri dalam rumah adat Raja Todo hingga dewasa ini. https://www.dictio.id/t/nunduk-loke-nggerang-cerita-rakyat-nusa-tenggara-timur/125724
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...