Ritual
Ritual
Budaya Jawa Timur Malang
Menjembatani Ketidaktahuan - Benarkah Orang Hindu Menyembah Patung?
- 21 Agustus 2023

Agama Hindu merupakan agama yang universal. Ibarat pepatah, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya di mana pun agama Hindu tersebut akan selalu menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tradisi, dan budaya setempat.

Hindu bukanlah agama yang kaku, karena sifatnya fleksibel. Pemujaan terhadap Tuhan dalam Hindu tak harus seragam, tak harus menggunakan mantra-mantra yang berbahasa Sansekerta, namun juga dengan bahasa lainnya yang penting niat dan ketulusan. Agama Hindu sangat menghargai seni, bahkan semua ritual dalam agama Hindu adalah seni dan akan sangat mustahil sebuah ritual tersebut terlaksana tanpa adanya seni.

Patung adalah hasil imajinasi dari pikiran manusia dan lahir karena kekayaan, ketajaman, dan kejelian imajinasi. Selain itu untuk memahami sesuatu yang abstrak perlu dikonkritkan. Tuhan adalah sesuatu yang abstrak yang tak bisa digambarkan oleh siapapun di dunia ini. Dengan keterbatasan manusia sehingga dengan seni dibuatlah simbol atau media untuk memusatkan diri pada Tuhan salah satunya berupa patung.

Akan tetapi Hindu tidaklah memuja media berupa patung yang dibuat tersebut, melainkan hanya sebagai media untuk meyakini keberadaan Tuhan dan dalam melakukan pemujaan umat Hindu tidak memusatkan diri pada patung melainkan pada Tuhan.

Seorang Hindu yang taat pergi ke Pura dan membungkuk di hadapan seorang idolanya (Para Dewa). Dia tidak ragu untuk berdiri di depan-Nya dan berbicara kepada-Nya seolah-olah dia berbicara kepada seseorang dengan iman dan pengabdian yang patut dicontoh yang bukan dari dunia ini. Dia mungkin kaya atau miskin, mencari sesuatu atau hanya berdoa tanpa harapan, berpendidikan atau tidak berpendidikan, pengabdian dan dedikasinya kepada Tuhan dan pelayanan tidak perlu dipertanyakan lagi.

Maka seperti itulah, akibat dari keterbatasan manusia yang tak mampu membayangkan wujud Tuhan ketika hendak memuja-Nya, diwujudkan Tuhan dalam sebuah karya seni seperti Patung.

Saat sembahyang ketika umat Hindu terlihat sedang memuja patung. Dalam hati terdalam mereka tidaklah berkata "Oh patung," tapi dalam hati mereka yang disebut adalah Tuhan. Jadi patung adalah sebagai media pemujaan, sebagai alat konsentrasi untuk mencurahkan segala perhatian, pikiran, dan puja-puji umat Hindu kepada Tuhan.

Tentunya kita semua pernah melakukan upacara bendera bukan? Terlepas apapun suku, agama dan kedudukannya setiap orang melakukan penghormatan pada bendera dan diiringi dengan lagu kebangsaan.

Pertanyaannya, kenapa mereka semua menghormati sebuah kain yang secara material harganya tidak lebih dari pakaian yang sedang kita pakai? Apakah mereka kurang waras? Jika anda mengatakan mereka kurang waras, maka sejujurnya andalah yang tidak waras. Kenapa? Pikiran anda sempit dan picik. Anda tidak bisa mengerti arti dari nilai intrinsik bendera tersebut. Kita hormat kepada bendera adalah sebagai wujud penghormatan kita pada bangsa dan negara yang abstrak, sama sekali bukan karena kita memberhalakan kain yang dibentuk sedemikian rupa menjadi bendera tersebut.

Sama halnya dalam hal spiritual. Tuhan adalah sosok yang abstak. Tidak semua orang memiliki kualifikasi untuk melihat Tuhan. Bahkan mungkin hampir semua orang tidak dapat melihat Tuhan secara langsung, kita hanya dapat merasakan keberadaan beliau melalui kebesaran-kebesaran ciptaannya. Oleh karena panca indra kita adalah panca indra material yang hanya bisa menangkap objek-objek material, maka kita perlu penghubung antara yang material ini dengan beliau, Tuhan yang spiritual melalui perantara suatu objek yang dapat dijadikan objek konsentrasi.

Lalu bagaimana dengan anggapan Umat Hindu pemuja pohon? Setiap enam bulan sekali umat Hindu "Tumpek Wariga" yang merupakan hari untuk pemuliaan pada tumbuhan. Pada hari itu dipersembahkan sesajen untuk tumbuh-tumbuhan sebagai bentuk rasa terima kasih atas hasil bumi atau hasil dari tumbuhan atau tanaman yang bisa dinikmati. Mengucapkan rasa terima kasih bukan berarti memujanya, bukan?

Selain itu pohon-pohon yang besar juga diberi sesajen, diisi kain poleng atau hitam putih. Ini merupakan bentuk pelestarian terhadap pohon yang dilakukan umat Hindu di Bali dan merupakan warisan dari nenek moyangnya. Karena dengan diberi sesajen dan diisi kain poleng pohon tersebut akan dianggap angker, sehingga menjadi lestari dan tak ada yang berani menebangnya. Dalam konsep "Tri Hita Karana" juga ada "Palemahan" atau hubungan baik dengan lingkungan sekitar termasuk pepohonan. Beberapa orang mengatakan gagasan ibadah Hindu yang memuja patung adalah sebagai tindakan yang takhayul. Namun, umat Hindu tetap taat menerima ibadah itu sebagai cara sederhana untuk mengekspresikan iman, cinta, dan pengabdian mereka kepada Tuhan.

Hal ini bisa dianalogikan seperti ini. Seseorang yang mencintai Soekarno dan belum pernah bertemu Soekarno pasti akan mencari sosoknya lewat foto-foto, rekaman video, maupun buku-buku yang menuliskan tentang Soekarno. Apakah bisa dikatakan bahwa orang tersebut memuja foto-foto, video, atau buku-buku yang menuliskan tentang Soekarno? Tentu tidak demikian, karena foto, video, maupun buku tersebut adalah sebuah jalan untuk mengetahui Soekarno dan orang itu akan tetap kagum pada sosok Soekarno bukan pada fotonya.

Jika diambil contoh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita menjalin hubungan jarak jauh dengan pasangan. Tentu kita tidak akan mampu untuk melihatnya secara langsung sehingga kita akan meluapkan dan mengungkapkan rasa cinta kita misalnya melalui fotonya.

Lantas apakah itu artinya kita mencintai sebuah foto? tentu tidak. Itu karena keterbatasan kita untuk dapat melihatnya secara langsung sehingga foto menjadi media atau perantara kita untuk dapat merasa lebih dekat dengannya.

Maka seperti itulah, akibat dari keterbatasan manusia yang tak mampu membayangkan wujud Tuhan ketika hendak memuja-Nya. Diwujudkanlah Tuhan dalam sebuah karya seni seperti Patung. Jadi patung adalah sebagai media pemujaan, sebagai alat konsentrasi untuk mencurahkan segala perhatian,pikiran dan puja-puji umat Hindu kepada Tuhan. Patung adalah perwujudan Tuhan yang hidup secara spiritual dan bukan merupakan unsur mati.

Semuanya Tuhan, segala ciptaan adalah unsur Tuhan, segala aspek materi perwujudan-Nya, Tuhan meresapi segalanya. Dia bukan ini, bukan pula itu, Dia tak terpikirkan. Berbagai Rupa dan Nama muncul dari pikiran. menempatkan energi Ilahi pada wujud patung, sebagai tindakan nyata bhakti pada Tuhan, menuju penyatuan melalui unsur cipataan-Nya.

Mereka yang menyembah Tuhan dengan pengabdian dan kerendahan hati tahu bahwa penyembahan patung menghubungkan mereka dengan Tuhan. Maka dari itu ada banyak sekali alasan mengapa Agama Hindu menyembah patung, berikut adalah beberapa diantaranya:

  1. Mengakui ke-Mahatahuan dan ke-Mahahadiran Tuhan. Tuhan ada di mana-mana, segala sesuatu di alam semesta ini termasuk patung sekalipun dipenuhi dengan energi dan kehadiran-Nya.

  2. Sebagai objek konsentrasi dan meditasi. Dengan menjaga pikiran agar terkonsentrasi pada gambar, patung, dan yantra tertentu, seseorang dapat mengendalikannya dan menstabilkannya dalam pikiran pada Tuhan.

  3. Teknik menumbuhkan kemurnian dan berhubungan dengan Tuhan. Pemujaan patung lebih efektif daripada berdoa, pemujaan patung menggabungkan kekuatan doa dengan kekuatan konsentrasi dan meditasi. Ketika memuja patung dengan pengabdian, akan menggabungkan semua energi ini menjadi kekuatan spiritual yang kuat.

  4. Pernyataan iman dalam kehadiran Tuhan yang universal. Tuhan tidak bisa dikenal dengan pikiran atau indera kita yang terbatas. Tuhan tidak terpikirkan (Acintya), bahkan jauh diluar kemampuan berpikir manusia. Pemujaan patung adalah pernyataan iman yang sederhana dalam realitas Tuhan yang tidak diketahui dan tidak dapat dipahami.

  5. Untuk keseimbangan dan toleransi. Menimbang bahwa pengorbanan suci di muat dalam Veda adalah upacara yang rumit dan hanya dapat dilakukan oleh para pendeta yang terlatih, pemujaan patung memberikan alternatif yang lebih baik bagi masyarakat yang tidak fasih dengan kitab suci dan yang ingin melakukan ibadah mereka tanpa campur tangan para pendeta.

  6. Aspek tersembunyi dari pemujaan patung. Secara simbolis dalam pemujaan patung, seseorang tidak hanya memuja bentuk konkret Tuhan (murtam) tetapi juga Diri yang halus, tidak terlihat dan tidak berbentuk (amurtam) di dalam tubuh. Semua doa yang dilantunkan ke patung juga secara bersamaan ditujukan kepada dewa yang tersembunyi.

Dalam agama Hindu ada banyak kata untuk menggambarkan sifat Tuhan, dan saya akan merujuknya saat diperlukan, tetapi dalam hal ini, kata yang paling relevan adalah "acintya", yang berarti "tak terbayangkan", "melampaui pikiran" . Oleh karena itu, sifat sejati Tuhan berada di luar kemampuan manusia untuk memahaminya, namun kita memiliki kebutuhan untuk menjangkau dalam pikiran kita dan mencoba memahami Tuhan, sehingga kita menciptakan citra Tuhan dalam pikiran kita. Gambaran mental Tuhan ini adalah patung.

Kebanyakan orang, menganggap patung semata-mata sebagai gambar pahatan atau pahatan dan, meskipun benar, patung adalah gambar ukiran, itu juga merupakan bentuk yang dimulai dalam pikiran. Ini adalah bentuk mental. Konsekuensinya, bentuk mental juga merupakan patung.

Tuhan Yang Maha Esa atau Roh Agung tidak memiliki 'Pratima' atau bentuk material. Dia tidak bisa dilihat langsung oleh siapapun. Namanya begitu agung, sehingga hanya Nama yang cukup untuk memohon kepada-Nya. Dia meliputi semua makhluk dan semua arah.

Karena Tuhan tidak berbentuk dan namanya cukup, maka suku kata yang terdiri dari kata-kata tersebut dapat dianggap sebagai representasi yang memadai. Tuhan itu seperti apa? Jawabannya, seperti kata 'God' yang mengandung suku kata G, O, D. Contoh yang paling mencolok adalah kata 'Om' yang berarti Tuhan secara spiritual dan material. Jadi, Tuhan tidak memiliki gambar apapun juga dan Dia tidak bersemayam dalam patung tertentu.

Namun saya menemukan bahwa candi Hindu dipenuhi dengan gambar dewa dan dewi. Fenomena ini dapat dengan mudah dipahami jika kita mencoba mengetahui perlunya asumsi. Jika kita mengajari seorang anak pada tahap pembibitan bahwa 'A ' adalah singkatan dari 'apel', kita membuat asumsi untuk mempelajari huruf abjad dengan mudah.

Saat mengajar geometri, guru menggambar segitiga dan berkata, "Biarkan ABC menjadi segitiga". Kata 'biarkan' digunakan di sini karena garis-garis yang membentuk segitiga sebenarnya bukan garis menurut definisi garis. Garis, menurut definisi, memiliki panjang tetapi tidak memiliki lebar. Bagaimana cara menggambar garis seperti itu di papan tulis? Lebar selalu menyertai panjang setiap kali seseorang mencoba menggambar garis. Oleh karena itu seseorang harus menggunakan kata 'biarkan.' Orang harus berasumsi bahwa apa yang telah ditarik adalah sebuah garis.

Demikian pula, geometri meminta kita untuk mengasumsikan suatu titik juga. Sebuah titik didefinisikan sebagai tidak memiliki panjang, atau lebar atau tebal. Itu tanpa dimensi apa pun, tetapi kita coba menggambarnya di papan tulis. Apa yang kita gambar sebenarnya adalah sebuah lingkaran, tetapi diasumsikan sebagai sebuah titik. Segitiga sejati dan titik sejati hanya ada dalam definisi. Namun kita harus melanjutkan dengan asumsi bahwa mereka benar-benar ada.

Karena pikiran tidak dapat memusatkan dirinya pada makhluk tak berbentuk atau bentuk spiritual dari Yang Mahatinggi, seseorang harus menganggap Tuhan dalam beberapa objek atau gambar yang terlihat. Selama periode Veda tidak ada kuil atau gambar dewa. Jadi Tuhan dipanggil melalui api yang dinyalakan untuk bahan "havan". Para pelaku Upanishad membuang praktik havan dan berkonsentrasi pada 'Om' yang tidak dapat binasa.

Ketika Buddhisme dan Jainisme berkembang di India, patung Buddha Gautama dan Vardhaman Mahavir menjadi sangat populer. Untuk meremajakan Hinduisme, gambar-gambar Tuhan yang berbeda bervariasi dalam bentuk sesuai dengan nama-nama Tuhan yang berbeda muncul. Orang mungkin mengatakan bahwa itu mengakibatkan penyebaran takhayul dalam agama Hindu.

Padahal adalah fakta bahwa semua bangunan keagamaan lainnya juga merupakan gambar di mana Tuhan tidak bersemayam. Dengan cara yang sama, personifikasi nama-nama Tuhan yang berbeda dan memberikan bentuk yang berbeda kepada mereka telah membantu para pematung untuk membuat patung yang dapat ditempatkan di kuil untuk dipuja.

Dengan mengingat hal ini, mungkin gambaran mental paling umum yang digunakan manusia untuk memahami Tuhan adalah sebagai Ayah, Ibu atau Raja, Ratu. Oleh karena itu, gagasan tersebut adalah idola mental, alat yang digunakan, untuk membayangkan apa yang sebenarnya tidak dapat dibayangkan, di luar pikiran. Ubah idola mental itu menjadi patung kayu atau batu.

Dari perspektif Hindu ada sedikit perbedaan antara patung mental dan fisik, sebuah gambaran material yang dapat digunakan untuk mendekati Tuhan. Manusia tidak punya pilihan selain mendekati Tuhan melalui patung-patung ini, meskipun semua patung hanyalah perkiraan kasar dan terbatas tentang apa sebenarnya Tuhan itu. Dari semua agama, Hindu tampaknya paling mahir dalam mengubah patung mental menjadi bentuk fisik sebagai patung yang diukir, atau apa yang lebih kita sebut, gambar suci.

Memang, Pura penuh dengan gambar suci Tuhan dan umat Hindu memiliki cara khusus untuk memasang dan berinteraksi dengan gambar-gambar ini di Pura dan rumah mereka, dan dalam banyak kasus gambar-gambar ini dilihat, bukan sebagai gambar material, tetapi sebagai bentuk spiritual. Ini adalah hasil dari melihat melalui iman.

Kata Sanskerta lain yang menggambarkan sifat Tuhan dan yang berperan sehubungan dengan patung adalah "sarva-gata", yang secara harfiah berarti "pergi ke mana-mana". Dengan kata lain, sarva-gata mengacu pada sifat Tuhan yang meliputi segalanya. Tuhan ada dalam segala hal dan di semua tempat.

Nyatanya, saat ini kita sedang duduk atau berdiri di atas Tuhan, yang berarti, secara teknis, kita dapat menyembah lantai atau kursi atau apapun sebagai patung Tuhan. Namun, ini tidak dilakukan. Sebaliknya, umat Hindu memuja gambar tertentu yang dijelaskan dalam kitab suci (shastra).

Nama teknis untuk gambar suci Tuhan ini adalah "arcya-vigraha". Arcyam berarti 'dapat dipuja' dan vigraha berarti "bentuk", jadi arcya-vigraha adalah "bentuk yang dipuja".

Kita juga dapat mengatakan bahwa Tuhan setuju untuk muncul dalam bentuk-bentuk khusus yang dapat dipahami oleh manusia untuk memungkinkan diri-Nya disembah. Istilah yang lebih umum digunakan sebagai pengganti arcya-vigraha adalah murti. Itu hanya berarti bentuk ilahi.

Gambar-gambar suci yang kita temukan di Pura dan rumah Hindu ini dipasang sesuai dengan ritual khusus yang juga dijelaskan dalam kitab suci (Prana Pratishtha). Bagaimana umat Hindu memandang gambar-gambar ini bervariasi menurut "adhikara", tetapi satu cara sederhana adalah dengan melihat gambar-gambar suci ini sebagai "kotak surat".

Umat Hindu datang ke Pura membawa buah-buahan dan bunga dan semua doa dan harapan mereka dan berdiri di depan patung suci dan "memposting" persembahan dan doa mereka melalui patung suci. Umat Hindu tidak sujud ke batu, mereka tidak menyembah patung, mereka mendekati patung-patung suci ini sebagai sarana untuk sampai ke Tuhan di belakang gambar.

Terkait erat dengan ide-ide pemujaan ini adalah penggunaan bahasa manusia untuk mengungkapkan pemahaman kita tentang Tuhan. Kata acintya atau sarva-gata itu sendiri, adalah usaha manusia untuk menyentuh Tuhan dengan menggunakan bahasa. Tetapi bahkan bahasa adalah produk dunia ini dan karena itu terbatas pada batas-batas realitas fisik. Bahasa, meskipun merupakan instrumen kasar yang digunakan untuk mengungkapkan apa yang di luar pikiran, tetap merupakan instrumen terbaik yang kita miliki.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu