Tarian
Tarian
Tari Tradisional Bali Bali
Mengenal Cerita Tari Barong di Bali
- 9 April 2023

Mengenal Tari Barong di Bali adalah tarian tradisional yang bisa ditemukan di pulau Bali, Tari tradisional ini menceritakan tentang mitologis semi lion atau binatang beruang yang berkekuatan gaib dan dipercaya bisa melindungi umat manusia. Tari Barong Bali sebagai warisan kebudayaan pra-Hindu yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan (dharma) dan keburukan (adharma). Keburukan di lambangkan oleh Rangda, sedangkan kebaikan di lambangkan dengan Barong.

Menurut kepercayaan orang Bali, terutamanya yang beragama Hindu. Kebaikan dan keburukan selalu berdampingan atau disebut dengan Rwa Bhineda. Sedangkan Kata Barong berasal dari kata bahruang yang memiliki arti beruang.

Barong Bali merupakan salah satu seni pertunjukan yang di miliki pulau Bali. Yang merupakan tarian tradisional Bali dengan menggunakan Topeng dan kostum tubuh yang bisa dipakai oleh satu atau 2 orang dalam menarikannya.

Di Bali ada banyak tipe barong yaitu Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Landung, Barong Macan, Barong Gajah, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong Lembu, Barong Kedingkling, Barong Kambing, dan Barong Gagombrangan.

Mengenal Tari Barong Bali, Lokasi dan Harga Tiket Terbaru

Tetapi kali ini, saya khusus membahas tentang tari barong Bali yang menjadi tujuan favorit wisatawan baik domestik maupun mancanegara yaitu Tari Barong Ket. Dalam artikel ini akan membahas tentang lokasi pertunjukan tari barong bali, jadwal pertunjukan dan harga tiket terbaru.

Tari Barong Ket Bali

Bila dicermati dari tapel atau topeng Barong Ket yang berada di Bali, merupakan kombinasi antara kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Bali Kuna terutamanya yang bercorak Buddha. Tapel seperti itu banyak juga ada di negara penganut Buddha seperti Jepang dan Cina.

Diperkirakan kesenian Barong Ket sebagai keunikan Hindu Bali dan tercipta dari akulturasi budaya Cina yang masuk ke Indonesia. Di India walaupun termasuk negara dengan penganut Hindu paling besar di dunia tetapi tidak ada Barong Ket dalam tradisi keagamaannya.

Tari Barong Ket yang biasa dikatakan sebagai tari Banaspati Raja (raja hutan) ialah gabungan dari singa, macan atau sapi. Binatang-binatang itu dipandang memiliki keangkeran atau kekuatan supranatural. Konsep tari barong di Bali sebagai raja seperti Barong Singa atau Reog bagi masyarakat Jawa, namun berbeda. Jika Barong Singa di Jawa dipandang seperti pihak yang salah, tetapi di Bali Barong dianggap sebagai simbol kebaikan.

Cerita Tari Barong Bali

Diceritakan Sahadewa yang di tahan di tengah hutan rimba dan akan dijadikan korban persembahan Rangda oleh ibunya. Dewi Kunti yang kemasukan roh jahat. Meliat hal itu, Dewa Siwa turun dan menganugerahkan keabadian.

Karena itu, Rangda juga tidak dapat membunuhnya. Rangda bahkan menyerah dan minta supaya dibebaskan dari kutukan hingga bisa masuk surga. Permohonan ini di kabulkan oleh Sadewa sehingga Rangda mengalami moksa.

Seorang pengikut Rangda yang bernama Kalika menghadap Sadewa dan minta untuk ditolong juga. Namun sahadewa menokalnya, sehingga Terjadi pertempuran seru. Untuk menandingi Sadewa, Kalika menjelma jadi Rangda.

Sementara Sadewa mengubah bentuk jadi Barong. Ke-2 nya berkekuatan seimbang, hingga tidak ada yang kalah dan menang. Sehingga menjadi pertarungan abadi antara Kebaikan dan Kejahatan.

Kemudian muncullah beberapa pengikut Sadewa (Barong) yang bersenjatakan keris. Tetapi satu demi satu dapat dikalahkan oleh Rangda. Bahkan juga mereka disihir hingga menyerang dirinya sendiri. Kemudian Barong datang untuk menghilangkan sihir rangda di pengikutnya.

Sumber : https://www.balitripon.com/tari-barong-bali-lokasi-dan-harga-tiket-terbaru/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu