Indonesia merupakan negara terbesar di dunia, banyaknya keragaman dan kekayaan alam di Indonesia, tidak hanya keragaman dan kekayaan alam saja, Indonesia pun memiliki fakta unik yang tersembunyi seperti. Memiliki lebih dari 740 suku bangsa di Indonesia, negara dengan bahasa daerah terbanyak dengan 583 dari 67 bahasa utama, Indonesia juga sebagai kepulauan terbesar di dunia. Memiliki tiga pulau, Kalimantan, Sumatera, dan Papua adalah enam pulau terbesar di dunia.
Indonesia memiliki banyak sekali adat istiadat. Salah satunya adalah Seba Baduy yang jarang sekali diketahui semua orang. Tradisi tersebut berasal dari Lebak, Banten, Seba Baduy merupakan tradisi adat yang dilakukan setelah Kawalu dan Ngalaksa (ucapan syukur kepada Tuhan atas kesuksesan hasil panen). Tradisi ini merupakan perwujudan ketaatan urang Kanekes kepada pemerintahan Republik Indonesia yang secara simbolis dilakukan kepada kepala pemerintahan di daerah yaitu Bupati Lebak dan Gubernur Banten. Ritual Seba diawali dengan dipilihnya perwakilan urang Kanekes oleh para tetua dan tetua adat tertinggi. Perwakilan urang kanekes turut serta dalam perjalanan dari wilayah Baduy Dalam (Baduy Tangtu, berpakaian dan berikat kepala putih) dan Baduy Luar (Baduy Panamping, berpakaian hitam dan berikat kepala biru). Perjalanan Seba Baduy ditempuh dengan berjalan kaki, tanpa kendaraan untuk menuju Pendopo Provinsi Banten.
Setelah rombongan sampai di pendopo Kabupaten/Provinsi, wakil dari para tetua adat mengawali seba dengan mengucapkan tatabean (ucapan seserahan dalam bahasa asli baduy, diawali dengan ucapan salam “tabe”), ucapan tersebut berisi laporan kondisi warga, kondisi hasil panen, dan kondisi keamanan wilayah. Setelah itu dilakukan dialog antara bupati/gubernur yang menitikberatkan pada ucapan terima kasih pemerintah kepada warga Baduy karena telah menjaga dan merawat nilai-nilai luhur dan lingkungan hidup dengan baik.
Seba Baduy diakhiri dengan penyerahan hasil bumi urang Kanekes dan juga seperangkat alat dapur kepada bupati/gubernur. Makna yang terkandung dari hasil penyerahan tersebut adalah penegasan bahwa masyarakat Badui yang amat sangat bergantung dengan kondisi alam. Tidak hanya itu mereka pun memiliki tugas dari leluhurnya untuk menjaga kelestarian alam dan menjaga wilayah aliran sungai.
Ritual Seba Baduy telah mencontohkan kepada masyarakat bahwa melalui aktualisasi budaya yang merupakan warisan leluhur masih dapat bertahan ditengah-tengah kemajuan zaman. Tidak hanya itu tradisi Seba Baduy mengandung nasihat, dan amanah kepada pemimpin, agar dapat menempatkan diri menjadi pola anutan rakyat (amanah). Dan memberikan pelajaran bagaimana manusia memperlakukan alam dan lingkungan hidup bukan hanya sebagai objek. Nilai dari ritual Seba Baduy memberikan pelajaran dan memiliki kepentingan yang bersangkutan dengan pancasila, yaitu persatuan, kemasyarakatan dan kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA
(Kbbi, 2016) https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/mengetahui. (SEBA: PUNCAK RITUAL MASYARAKAT BADUY DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN, 2013, #) https://media.neliti.com/media/publications/291902-seba-puncak-ritual-masyarakat-baduy-di-k-aa29292f.pdf
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara