Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Manuskrip Nusantara Kementerian Agama RI Jawa Barat Banten
LKK_CIAMIS2013_MLM04
- 24 November 2020 - direvisi ke 2 oleh Nicky Ria Azizman pada 24 November 2020

Sumber: https://lektur.kemenag.go.id/web/

Logo Kemenag RI LKK_CIAMIS2013_MLM04 NAHWU

LKK_Ciamis2014_MLM

Bhs. Arab

Aks. Arab

Prosa

TB

266 hal /15 baris

17.x 11 cm

Kertas Eropa

Judul naskah ini tidak dijumpai baik pada kulit depan maupun dalam teks naskah. Kecuali nama penulis terdapat dibalik kulit muka, tertulis nama Hasan Ma’mun alamat Ciamis - Jawa Barat - Indonesia. Dzulqo’dah 1404 Hijriya. Nakah ini terbagi ke kepada dua bagian. Bagian pertama berisi ilmu Nahwu atau Tata Bahasa Arab yang ditulis dalam bentuk syair atau nazam, sehingga dengan cara ini akan mudah dihapal oleh para santri, Pak Kyai tinggal memberi penjelasan maksudnya. Adapun bahasa yang dipakai meliputi dua jenis bahasa, yaitu bahasa Sunda dipakai ketika memberi penjelasan. Sedangkan bahasa Arab dipakai ketika menjelaskan qaidah-qaidah ilmu Nahwu.

Naskah ini seluruhnya ditulis dengan huruf Jawi, Pegon atau huruf Arab Melayu, tulis tangan dengan tinta warna hitam. Ketebalan naskah seluruhnya 256 halaman, setiap halaman terdiri dari 15 baris dengan tidak mencantumkan nomor halaman, juga tidak menggunakan tanda sambung ke halaman selanjutnya. Naskah ditulis dalam kertas HVS bergaris dalam kondisi naskah masih bisa dibaca walaupun kondisi kertas agak buram.

Pada awal tulisannya pada lembar pertama ditulis: ” Syarat kalam aya opat kabehna, lafaẓ murakab mufid waḍi’ kecapna. Ngaran lafazh omongn anu ngarangkep, Dua kalimat saterusna sing lengkap. Ngaran mufid omongan aya gunanan, sabab geus anggeus maksud nurutana....Ari alamat kalimat aya tilusora anu ...

Naskah ini berisi ilmu Nahwu atau tata bahasa Arab, dengan penjelasan yang dikemas dalam bahasa Sunda. Isinya terbagi kepada beberapa bagian, antara lain: 1) Penertian tentang kalam yang terdiri dari lafad, murakab, mufid dan wadd’i; 2) Alamat kalimat terdiri dari isim, fiil dan huruf; 3) Bab I’rab yang meneranhkan tentang perubahan kalimat pada akhir kalimat; 4) Alamatul I’rob; 5) Alamat Hafidl; 6) Isim goer munsorif; 7) Alamat Jazem; 8) Fasal almu’robat; 9) Bab Isim; Amil nu wajib; 10) Amil jazem’ 11) Marfuatul asma-u; 12) Babul Fail; 13) Bab Musnad; 14) Bab Amil nawasikh; 15) Anna wa akhwatiha; 16) Isim Ma’rifat; 17) Bab Taukid; 18) Bab Badal; 19) Mansubatul asma; 20) Ma’ul bih; 21) Bab Tamyiz; dst....

Pada kalimat akhir halaman naskah ini ditulis: ” Sigotna masdar taukid kaluaran sulasi mujarodanu katilu bina ajwap mahmuzul am: sya-aa yasya-u syaian.. jadi Syaein. Lugotna naon perkara naon nu fail perkara naon nu Syaiun. Naskah ilmu Nahwu ini diakhiri dengan kalimat : ”Tammat. Alhamdulillah Rabbil Alamin malem Ahad tanggal 25 Safara434 Hijriyah atau 9 Maret 1994 Maeshi.Allahumman fa’na bihadzal kitab fidunya wal akhirat li walilmu’minīna walmu’minat, walmuslimīna wal muslimat waftaḥ futūḥal ārifīn wajʽaly ʽālimān fi jamiʽil masalatil ʽilmi biwaṣīlati hāżal kitab. Amin. (ZAI)

ROTASI GAMBAR 90�LKK_CIAMIS2013_MLM04 1 / 129StartStop

Manuskrip Puslitbang Lektur - Kementrian Agama RI Copyright © 2020 Kementrian Agama RI. Supported By Web Design Jakarta

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu