Sungai Janiah
Sungai Janiah adalah sebuah kolam yang merangkap sebagai nama sebuah kampung dalam kanagarian Tabek Panjang, Kecamatan Baso,Bukittingii, Sumatera Barat. Di dalam kolam yang bernama Sungai Janiah ini ada satu jenis ikan yang sampai sekarang tidak jelas spesiesnya apa. Orang-orang yang tinggal disana biasanya menyebut ikan-ikan tersebut dengan ikan sakti. Ikan sakti ini ada yang mewarna merah, putih, hitam dan abu-abu.
Legenda ikan sakti ini mermula dari rombongan yang berasal dari puncak merapi mencari hunian baru dan menemukan kawasan yang memiliki sungai dan air mancur yang sangat jenih di dekat Bukik Batanjua, namun tempat tersebut sudah di tempati jin. Maka agar bisa hidup berdampingan, dibuatlah kesepakatan antara jin dan manusia. Kesepakatan itu berisi ”jika manusia ingin menebang pohon maka sepihan pertama dai kayu tersebut harus di lempar ke arah pohon itu akan di rebahkan”. Suatu waktu ada keinginan para mamak untuk membagun balairung tempat berkumpul. Warga dengan semangat mencari kayu dan menebang pohon tuntuk membangun balairung sehingga melupakan kesepakatan mereka dengan jin yang berakibatkan kayu mengenai salah satu anak jin. Akibatnya keluarga jin marah dan menurun kan batu dari Bukit Batanjua sehingga menimbulkan gempa. Keadaan ini menyebabkan hubungan yang tidak lagi harmonis.
Suatu hari, sepasang suami istri pergi ke ladang dan meninggalkan anak balitanya yang berusia 8 tahun. Saat pulang anak mereka tidak bisa di temukan anak mereka. Setelah beberapa hari anak itu hilang, sang ibu bermimpi untuk membawa beras dan padi lalu memanggil anaknya seperti ayam. Keesokan harinya ibu tersebut melakukan apa yang dilihatnya dimimpi, datanglah dua ekor ikan dari sungai. Satu bewarna putih yang konon merupakan anak manusia dan satu lagi bewarna abu-abu yang konon merupakan anak jin. Hal ini terjadi karena keduanya melanggar janji dan termakan sumpah. Sejak saat itu sungainya memendek dan menjadi sebuah kolam.
Kolam tersebut berada di depan bukik batanjua, di depan kolam ini di buatlah sebuah masjid. Saat ini jumlah ikan di kelom tersebut sudah ada ratusan. Konon setiap hari raya idul fitri dan idul adha, ikan yang panjangnya 2 meter, badan sebesar kerbau yang bewarna putih muncul ke permukaan menampakan diri di saat warga kampung sungai Janiah sholat raya idul fitri maupun idul adha. Konon ikan yang sangat besar itu merupakan anak manusia yang berubah menjadi ikan.
Sampai sekarang tidak ada yang pernah menangkap dan memakan ikan tersebut, karena jika memakannya seolah-olah memakan manusia. Dan jika ada ikan yang mati maka di kafan kan dan di kuburkan layaknya manusia namun tidak di shalatkan.
#OSKMITB2018
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...