Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Sulawesi Barat Mandar
Legenda I karake Lette Hadapi Kerajaan Gowa
- 20 Januari 2021

DAHULU kala Kerajaan Balanipa, Mandar, Sulawesi Barat tengah dilanda petaka. Kerajaan ini diserang oleh Kerajaan Gowa dengan jumlah pasukan yang besar. Sementara Balanipa hanya memiliki sedikit pasukan. Kala itu Balanipa hanyalah kerajaan kecil yang selama ini hidup dengan damai.

Raja (Mara’dia) Balanipa lantas memutuskan melakukan sayembara agar para pemuda bersedia menjadi prajurit. Kelak jika menang, mereka akan mendapatkan hadiah.

Pengumuman segera disebarkan ke seluruh pelosok negeri. Membuat semua pemuda tertarik untuk ikut ambil bagian. Termasuk di kalangan pemuda di suatu kampung, di lereng gunung. Di sana tinggal seorang laki-laki setengah baya yang cacat kakinya bernama I Karake’lette, yang dalam bahasa Mandar artinya si kaki rusak.

Dia juga ingin mengikuti sayembara. Para pemuda di sekitarnya lantas tertawa mengejek karena tidak mungkin lelaki tua yang cacat mengikuti sayembara. Para peserta sayembara adalah pemuda yang juga to barani (sebutan bagi pemberani di Mandar).

Mendengar ejekan tersebut, I Karake’lette diam saja. Namun tekadnya sudah bulat. Ia kemudian menyampaikan niatnya untuk ikut sayembara kepada punggawa Kerajaan Balanipa. Sayang, jawaban punggawa juga mengejek dan menyuruh dia pulang ke rumahnya. I Karake’lette pun pasrah dan kembali ke kampungnya dengan rasa kecewa.

Sayembara pun digelar. Dipilihlah pemuda-pemuda yang kuat, tangkas, dan gagah berani untuk memperkuat pasukan Balanipa. Mereka kemudian dilatih dengan berbagai keterampilan pedang dan strategi perang. Setelah mahir berperang, para pemuda lalu diberangkatkan ke Teluk Mandar tempat bala tentara Kerajaan Gowa akan mendarat. Bermacam-macam senjata seperti tombak, pedang, dan panah dijadikan bekal untuk berperang.

Akhirnya hari peperangan pun tiba. Tampak pasukan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh sang raja datang dari laut hendak merapat ke dermaga pelabuhan Mandar. Pasukan Balanipa segera bersiap. Tak mau tunggu lama, ketika pasukan Kerajaan Gowa mulai turun dari kapal, serentak pasukan Balanipa menyerang. Terjadilah pertempuran sengit. Mereka saling serang dengan senjata andalannya. Pasukan Balanipa bertempur dengan gagah berani. Pasukan Gowa juga begitu berhasrat untuk menguasai kerajaan Balanipa.

Sayang, jumlah pasukan yang jauh lebih banyak, lebih kuat, dan lebih terlatih, membuat Kerajaan Gowa menang. Sementara prajurit dari Balanipa mulai kocar-kacir. Banyak di antaranya yang gugur. Hingga pada akhirnya, Panglima Perang Kerajaan Balanipa memutuskan untuk mundur ke Kota Raja, tempat Kerajaan Balanipa. Adapun pasukan Kerajaan Gowa memilih beristirahat sejenak sebelum melanjutkan peperangan ke kota Raja Balanipa.

Panglima perang Balanipa lantas melaporkan kekalahannya kepada sang raja. Kegusaran pun tak bisa disembunyikan Raja Balanipa. Namun apa hendak dikata, pasukan yang telah dikumpulkan dalam sayembara banyak yang gugur. Tak banyak lagi pemuda yang bisa diandalkan untuk berperang. Bagaimana caranya untuk mengalahkan pasukan kerajaan Gowa kalau begini? Gumam sang raja. Namun dia tak menyerah. Lebih baik mati daripada menyerahkan tanah Mandar ke orang Gowa. Sang raja pun terus berusaha mencari strategi untuk mempertahankan kerajaannya.

Kondisi yang genting tersebut sampai ke telinga I Karake’lette, si orang tua yang cacat. Keinginan membela Kerajaan Balanipa yang sempat redup karena ditolak, kini kembali membara. Ia lantas menghadap ke Raja Balanipa. Namun seperti yang sebelumnya, I Karake’lette juga merasa bakal ditolak. Hal itu lantaran raja tertawa terbahak-bahak mendengar tekad I Karake’lette.

Namun tawa sang raja terhenti ketika melihat wajah I Karake’lette yang tanpa keraguan. Ia sangat bersungguh-sunggu ingin membantu raja Balanipa melawan Kerajaan Gowa yang perkasa. Sang raja lantas bertanya, apa yang diinginkan I Karake’lette jika menang melawan Raja Gowa? I Karake’lette hanya menggeleng. Dia hanya ingin menunjukkan bakti dan cintanya kepada tanah Balanipa.

Akhirnya Raja Balanipa setuju. Berangkatlah I Karake’lette ke Teluk Mandar untuk berperang. Dia lantas menyelinap ke atas kapal yang ditumpangi oleh Raja Gowa. Di sana para pemimpin kerajaan sedang berpesta pora merayakan kemenangan. Kondisi tersebut membuat mereka lengah, sehingga I Karake’lette berhasil mendekat ke singgasana Raja Gowa. Betapa kagetnya Raja Gowa melihat kehadiran I Karake’lette. Saat hendak ditangkap, I Karake’lette menantang si raja untuk berduel. Ia mengatakan jika Raja Gowa menang, seluruh isi kerajaan Balanipa akan diserahkan kepadanya. I Karake’lette berjanji mempertaruhkan nyawa pada janji tersebut. Namun, jika Raja Gowa kalah, harus segera angkat kaki dari wilayah Balanipa dan tidak boleh kembali lagi ke tanah Mandar.

Raja Gowa sangat marah mendengar tantangan tersebut. Dia lantas menerima tantangan itu. Di pikirannya lelaki cacat itu tak mungkin menang karena kondisinya. Si raja tak menyangka tantangan I Karake’lette berbeda. Ia mengeluarkan dua buah jeruk nipis dan sebilah keris dari sakunya. I Karake’lette mengatakan jika Raja Gowa dapat membelah dua jeruk nipis yang di lemparkannya, maka dia menjadi pemenang. Sebaliknya bila I Karake’lette yang berhasil membelah dua jeruk yang dilemparkan sang raja, I Karake’lette lah pemenang. Raja Gowa setuju dengan aturan main pertarungan itu.

Pertarungan pun dimulai, I Karake’lette yang duluan melemparkan jeruk nipis disambut ayunan keris Raja Gowa. Sayang, sabetan keris meleset. Sang raja lantas kaget karena tak mampu membelah jeruk tersebut. Dia semakin kaget lantaran kedua jeruk tersebut bisa terbelah dengan sabetan keris I Karake’lette. Karena kalah, Raja Gowa sangat marah. Dia lalu menyerang I Karake’lette. I Karake’lette menghindar dengan gesit. Dia berbalik menyerang sehingga Raja Gowa tertusuk oleh keris I Karake’lette dan tewas seketika.

Di tengah kebingungan pasukan Kerajaan Gowa lantaran kehilangan pemimpinnya, I Karake’lette segera keluar kapal dan kembali ke Kota Raja Balanipa. Sesampainya di sana, dia disambut meriah oleh rakyat Kerajaan Balanipa dan rajanya. Mereka berterima kasih karena telah menyelamatkan kerajaan. Sebagai hadiah Raja Balanipa mengangkat I Karake’lette menjadi punggawa kerajaan dan memberikan sebidang tanah yang luas untuk I Karake’lette dan anak cucunya. Sementara pasukan Kerajaan Gowa segera angkat kaki dari Teluk Mandar.

TRI S

Sumber: Kisah ini disunting dari kebudayaan.kemdikbud.go.id & musdalifahyasin.wordpress.com

Catatan: Kisah ini berasal dari dongeng yang dituturkan orang tua di Mandar, Sulawesi Barat. Tujuan publikasi untuk kelestarian cerita rakyat Sulawesi Barat.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum