Ilmu Antropologi mengenal teori sistem simbol yang diperkenalkan oleh Clifford Geertz, seorang Antropolog Amerika. Dalam bukunya yang berjudul Tafsir Kebudayaan (1992), Geertz menjelaskan makna dibalik sistem simbol yang ada pada suatu kebudayaan. Geertz menyatakan bahwa sistem simbol yang merefleksikan suatu kebudayaan, dapat diinterpretasikan dengan menggunakan sistem makna (System of Meaning). Jadi bila ingin menginterpretasi sebuah kebudayaan dapat dilakukan dengan menafsirkan sistem simbolnya.
Demikian juga dengan kesenian sisingaan dari Subang yang tak bisa dipisahkan dari simbol boneka singa yang biasanya ditunggangi anak-anak dalam pertunjukannya. Dalam sejarahnya, sisingaan merupakan simbol kebencian warga Subang terhadap kapitalis perkebunan dari Belanda dan Inggris yang mendapat proteksi pihak pemerintah kolonial (Kurnia,2003). Ketika itu, kaum kapitalis dari Inggris mendirikan sebuah perusahaan perkebunan swasta bernama P & T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden). Perusahaan inilah yang memegang hak eksploitasi perkebunan di wilayah Subang. Jadi dapat disimpulkan, pada masa itu Kabupaten Subang secara politik berada di bawah otoritas pemerintah kolonial Belanda, namun secara ekonomi berada di bawah kuasa korporasi asal Inggris. Situasi ini merupakan konsekuensi dari kebijakan liberalisasi ekonomi yang dijalankan pemerintah Belanda pasca 1870, yang sejatinya masih berlanjut hingga Indonesia merdeka kini.
Kesenian sisingaan diciptakan sekitar tahun 1840 oleh para seniman yang berasal dari daerah Ciherang, yang berjarak sekitar 5 km dari pusat kota Subang. Seni sisingaan ini dapat dikategorikan sebagai sebuah perlawanan simbolik rakyat Subang terhadap penjajah. Singa, adalah simbol dari Negara Belanda dan Inggris, dua negara yang dipandang sebagai penjajah oleh rakyat Subang pada pertengahan abad 19. Dalam pertunjukan sisingaan, ada dua boneka singa (simbol dari dua negara Eropa tersebut) yang ditunggangi dan dikendalikan oleh anak kecil (simbol rakyat Subang) yang berada di atasnya. Hal ini bermakna ejekan dan pelecehan terhadap lambang kebanggan kaum kolonialis tersebut. Demikianlah makna tersebut masih menjadi interpretasi simbol sisingaan di kalangan warga Subang hingga kini. Simbol boneka singa yang diduduki anak kecil dapat ditafsirkan sebagai cerminan budaya anti kolonialisme dalam masyarakat Subang.
Pada masa kini, seni pertunjukan sisingaan lebih diartikan sebagai bagian dari hiburan rakyat. Seni sisingaan umumnya dipentaskan dengan berkeliling kampung pada saat ada hajatan warga seperti acara khitanan, pelantikan pejabat desa, pernikahan dan lain sebagainya (Sariyun, 1992). Pertunjukan diawali dengan pemberian kata sambutan oleh pimpinan kelompok sisingaan. Setelah acara pemberian kata sambutan, barulah sang anak yang akan dikhitan, pengantin atau tokoh masyarakat yang akan diarak menaiki boneka singa. Kemudian, dengan diiringi oleh irama lagu-lagu dari kesenian Ketuk Tilu dan Doger, 8 orang pemain dari kelompok sisingaan akan mulai menggotong dua buah boneka singa yang telah dinaiki manusia tersebut. Kesenian sisingaan pun dimulai dengan mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Pertunjukan berakhir dengan sampainya rombongan sisingaan di tempat ketika awal pertunjukan dimulai.
https://www.berdikarionline.com/seni-sisingaan-simbol-perlawanan-rakyat-subang/
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...