×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Kebudayaan

Provinsi

Jawa Tengah

Asal Daerah

Pituruh, Jawa Tengah

kesenian Tari Cing Po Ling

Tanggal 05 Aug 2018 oleh OSKM_16518237_Figo Agil Alunjati.

              Kesenian Cing Po Ling merupakan salah satu kesenian tari asal Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah lebih tepatnya di desa Kesawen, Kecamatan Pituruh. Kesenian ini sudah ada semenjak kurang lebih abad ke XVII masehi (seperti yang dikutip dari https://pdkpurworejo.wordpress.com/2010/05/04/kesenian-cing-poo-ling, http://den-bagoez-sigit-pamuji.blogspot.com/2015/01/kesenian-cing-po-ling-tunggal-wulung-kesawen-pituruh-purworejo.html, dan http://reviens.media/2016/12/30/jejak-cing-po-ling-dari-kesawen ). Kesenian ini merupakan kesenian tradisional sejenis atau reogan yang mengalami perkembangan sebagai tari perang dan bertemakan kepahlawanan. Kesenian ini bercirikan tentang keprajuritan sebagai pengawal.

              kesenian ini bermula ketika Demang mengikuti Pisowanan (tradisi dalam kerajaan-kerajaan Jawa, di mana bawahan-bawahan raja / sultan datang ke istana untuk melaporkan perkembangan daerah yang dipimpinnya), di Kadipaten Karangduwur. Sambil menunggu acara pisowanan tersebut dimulai, Demang bersama 3 (tiga) prajuritnya yang bernama Krincing, Dipomenggolo dan Keling melakukan latihan bela diri di lapangan Kadipaten. Ketika mereka sedang asyik berlatih bela diri dan diketahui oleh Adipati Karangduwur, rupanya beliau  tidak berkenan jika Demang Kesawen dan anak buahnya melakukan latihan bela diri di Alun - Alun Karangduwur.

               Untuk itu, Adipati memperingatkan kepada Demang  dan anak buahnya, agar tidak mengulangi kegiatan serupa lagi di masa yang akan datang. Walaupun telah ditegur oleh Adipati Karangduwur, ternyata Demang tidak jera. Pada pisowanan yang akan datang dia berkeinginan untuk kembali melakukan kegiatan latihan bela diri di Alun - Alun kawedanan. Untuk itu dia berdiskusi dengan dua orang kepercayaannya yaitu Jagabaya dan Komprang. Hasil diskusi tersebut adalah Krincing, Dipomenggolo dan Keling akan ikut lagi dalam pisowanan. Untuk itu Komprang akan membuat kegiatan latihan bela diri menjadi sebuah tarian dengan diiringi tetabuhan / musik. Akhirnya terbentuklah tim kesenian yang terdiri dari para prajurit kademangan dengan susunan :
1.    Komprang sebagai sutradara;
2.    4 (empat) orang prajurit sebagai pemukul bunyi-bunyian;
3.    1 (satu) orang prajurit sebagai kemendir [6];
4.    2 (dua) orang prajurit sebagai pemencak [7];
5.    4 (empat) orang prajurit lainnya sebagai pengombyong [8].
               Pada waktu pisowanan, gerak bela diri yang disamarkan dalam bentuk tarian dan musik oleh para prajurit Demang terbukti tidak menimbulkan kecurigaan dan kemarahan Adipati Karangdwur. Mereka dianggap sebagai sebuah kelompok kesenian biasa, padahal dibalik penyamaran itu mereka adalah pengawal pilihan dari Demang. Semenjak itulah setiap pisowanan ke Kadipaten Karangdwur, Demang selalu membawa “Kelompok Kesenian”-nya yang terdiri dari para pengawalnya. Setiap kelompok kesenian ini tampil di acara pisowanan, banyak petinggi Kadipaten yang ikut menontonnya. Hingga Adipati Karangdwur meminta kepada Demang untuk melestarikan kesenian tersebut sekaligus menanyakan apa nama kesenian yang mereka bawakan. Demang yang merasa tidak tahu menyerahkan jawabannya kepada Jagabaya. Jagabaya menamai kesenian ini Cing po ling. Diambil dari nama 3 (tiga) orang pengawal Demang, yaitu :
Dari nama Krincing diambil suku kata terakhir “CING”
Dari nama Dipomenggolo diambil suku kata terakhir “PO”
Dari nama Keling diambil suku kata terakhir “LING”
Sepulang dari Kadipaten, Demang mengadakan syukuran yang meriah untuk merayakan diterimanya Kesenian Cing po ling oleh Adipati.

                Hingga sekarang kesenian ini masih dilestarikan di wilayah setempat khususnya untuk kalangan anak-anak dan remaja. Tarian ini diadakan di ruang terbuka, misalnya lapangan, halaman depan rumah. Walaupun pada awalnya hanya di lingkungan kadipaten tempat pisowanan berlangsung. Penonton dan penari dalam jarak yang dekat. Diurasi waktu pementasan sekitar 1 – 2 jam.

#OSKMITB2018

DISKUSI


TERBARU


Manaqib H Godja...

Oleh Abdul Aziz | 11 Nov 2019.
Sastra Betawi

MANAQIB H. GODJALIH Karya "masterpiece" Jamiellulaillora Godjalih itulah namanya Petukangan kampung kelahirannya H. Gatong nama Ayahn...

Makanan khas di...

Oleh Deni Andrian | 10 Nov 2019.
Makanan

Jika anda telah mengunjungi tempat wisata yang terdapat di kabupaten Bengkayang ini jangan sampai melewatkan makanan khas yang terdapat di daerah ini...

Makanan Khas Pu...

Oleh Deni Andrian | 10 Nov 2019.
Makanan

ulau Punjung merupakan kecamatan yang berada di kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat. Pulau punjung memiliki sekitar 6 kelurahan dengan luas...

Makanan Khas Pu...

Oleh Deni Andrian | 10 Nov 2019.
Makanan

Berikut ini makanan khas dari Pulau Murotoi antara lain sebagai berikut : Popeda Rasanya makanan yang satu sangat enak dan banyak disukai oleh pa...

Permainan tradi...

Oleh Deni Andrian | 10 Nov 2019.
Permainan

Permainan tradisional Jawa Tengah Benthik Cublak Cublak Suweng Congklak Bekel Jumpet atau petak umpet gobak sodor gundu oray-oray...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dala...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend...

Ukiran Gorga Si...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai penjaga rum...