Majalengka ialah sebuah kota kecil yang berada di Provinsi Jawa Barat, keberadaan Kota Majalengka sering kali dianggap asing ditelinga masyarakat luas dikarenakan mereka banyak yang tidak tahu Kota Majalengka itu dimana padahal kota Majalengka sudah termasuk wilayah 3 yaitu Kabupaten Indramayu, Cirebon dan Majalengka. Secara administratif, Majalengka ialah daerah agraris yang sedang menuju kota metropolitan. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak industry, wisata, Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati, pusat perbelanjaan, dan mulai dibangunya hotel-hotel di sekitar Kota Majalengka. Sudah 2 tahun terkahir ini Kota Majalengka sudah banyak perubahan di beberapa sudut kota seperti yang terjadi pada Bunderan Munjul yang semula terdapat ikon patung ikan sekarang diganti menjadi ikon bola dunia yang dapat diartikan sebagai kota yang akan diketahui banyak public dikarenakan terdapat Bandara Internasional Kertajati sama hal yang terjadi di Alun-Alun Majalengka seluruh bagian yang terdapat di Alun-Alun Majalengka dirubah menjadi lebih modern dan ramah lingkungan tetapi sampai saat ini perbaikan pada Alun-Alun Majalengka masih belum rampung. Selain itu Kota Majalengka mempunyai terdapat beberapa tempat pariwisata yang layak dikunjungi serta tempatnya sangat “instagramable” contohnya ialah Paraland, tempat tersebut layak untuk dikunjungi jika kita sedang berlibur di Kota Majalengka dikarenakan disana kita bisa lihat dari ketinggian keindahan Kota Majalengka, jika anda beruntung pada hari-hari tertentu tempat pariwisata tersebut sering dijadikan tempat olahraga paralayang. Tak hanya tempat pariwisata yang terkenal di Majalengka tetapi juga makanannya seperti kecap, hampas kecap (kacang hitam dari hasil proses pembuatan kecap), opak ( Beras ketan yang dibentuk menjadi bulat lalu digoreng dengan minyak panas) serta gula cakar ( Gula ini berbentuk kotak serta bewarna merah muda yang teksturnya kasar).
Dalam pembahasan ini saya akan menceritakan salah satu oleh-oleh khas Majalengka yaitu kecap, mendengar kata kecap di zaman modern seperti ini sudah berbagai macamnya bentuk serta rasa kecap, tetapi anda akan ketagihan jika anda mencicipi kecap khas Majalengka. Ada dua merek kecap yang sangat melegenda di Majalengka, yakni cap Maja Menjangan (MM) dan segi tiga. Keduanya buatan asli Majalengka, dan diproduksi secara rumahan. Kecap cap Maja Menjangan (MM) merupakan kecap paling tua di Majalengka. Diproduksi pada 1940, oleh seseorang bernama H.Saad Wangsadidjaja. Dari tangan H.Saad itulah, kecap Maja Menjangan (MM) hingga kini masih terus bertahan dan disukai lidah masyarakat. Sementara kecap Segi Tiga mulai diproduksi pada 1958. Ketika itu ada tiga orang pemerakarsa terciptanya kecap cap Segi Tiga. Mereka adalah H.Lukman, Endek, dan Aman. Dari tiga orang itulah kemudian tercetus merek Segi Tiga. Dua merek kecap tersebut menawarkan rasa yang sama. Ada kecap asin, manis sedang, dan kecap manis. Pada tiga rasa itu, cita rasa kedelai hitamnya benar-benar terasa. Selain rasa kedelai yang kental, dua merek kecap asli Majalengka itu juga tahan lama. Bahkan bisa bertahan sampai dua tahun. Padahal, dua merek kecap itu dibuat tanpa bahan pengawet. Agar kecap bisa bertahan lama, sang produsen memiliki cara tradisional. Bukanya mencampurkan bahan pengawet kimia, namun mencampurkan garam dalam jumlah banyak pada olahan kecap saat proses fermentasi. Garam dalam jumlah banyak saat fermentasi mampu menjadi bahan pengawet agar kecap tak mudah basi karena masih tradisional, proses pembuatan dua merek kecap asli Majalengka dilakukan seacara manual. Tidak ada mesin yang membantu, hanya tangan para pegawai yang berperan. Bahkan untuk api sekali pun masih menggunakan kayu bakar. Demikian dengan wadah tempat menyimpan kecap yang sudah jadi maupun saat penyaringan dan fermentasi, wadah terbuat dari kayujati yang dibentuk menyerupai ember. Sementara untuk mengeringkan kedelai, sinar matahari merupakan andalan. Tak heran, cuaca sangat menentukan produksi kecap di Majalengka. Sebab jika mendung atau hujan, penjemuran kedelai akan memakan waktu, yang pada akhirnya mengganggu produksi. Dalam proses pembuatan kecap Segi Tiga tahun 2000 merupakan babak baru di perusahaan Kecap Segi Tiga yaitu terjadi perubahan pimpinan dan manajemen. Pimpinan perusahaan yang tadinya dipegang oleh Bapak H. Lukman sekarang dipegang oleh bapak Deden Hardian Narayanto. Setelah adanya perubahan pimpinan maka sistem manajemen pun dirubah yang terjadi semua kegiatan perusahaan dari mulai pembuatan produk sampai penjualnya dipegang oleh satu orang yaitu bapak H. Lukman, maka sekarang perusahaan Segi Tiga dibagi menjadi tiga divisi yaitu :
Jenis bahan baku yang diproduksi yaitu kacang kedelai hitam berasal dari Cirebon dan Majalengka, gula merah yang berasal dari Bandung, Banjar, Cianjur dan garam berasal dari Cirebon. Dalam proses produksi kecap segi tiga dibuat dengan alat-alat tradisional yang masih manual, belum memakai alat-alat yang canggih. Untuk membuat kecap segi tiga yang dilakukan pertama yaitu pencucian kacang kedelai hitam, direbus selama 4 jam, kemudian dijemur setengah hari difermentasi di rak dengan memakai tampir selama satu minggu kemudian dijemur lagi sampai kering di tapi dibersihkan supaya jamur yang ada pada kedelai hitam menjadi bersih, kemudian difermentasi lagi dengan air garam selama 20 hari, setelah proses fermentasi lagi dengan air garam selama tiga jam dan diangkat sari kedelainya sedangkan kacangnya jadi ampas, ampas ini kemudian dijual kepasar tradisional. Sari kedelainya disaring dua kali penyaringan direbus lagi dicampur dengan gula, tahap selanjutnya proses pengemasan kecap dengan cara tradisional juga, setelah di kemas jadilah kecap segi tiga yang enak dan gurih siap untuk di pasarkan. Kapasitas produksi kecap segi tiga dalam satu bulan kurang lebih 100 godongan kecap, dimana satu gondongan menghasilkan 200.000 ml kecap sahingga total kapasitas produksi dalam satu bulan sebesar 20.000.000 ml kecap = 20.000 liter kecap dengan variasi rasa yang dapat disesuaikan dengan pemintaan pasar. Dengan bertambahnya hasil usaha produksi dari masyarakat akan meningkatkan pemasaran dan nilai jual dengan membawa nama Kabupaten Majalengka.
Sumber : Detik.com. (Senin Juni, 2018). Nasibmu Kecap Majalengka. Retrieved Rabu Maret, 2020, from news.detik.com/x/detail/intermeso/20180616/Nasibmu-Kecap-Mjalengka/. m.tribunnews.com. (Rabu Maret, 2011). Tribusnews.com. Retrieved Rabu Maret, 2020, from Kecap Legendaris dari Majalengka: google.com/amp/s/m.tribunnews.com/amp/lifestyle/2011/03/02/Kecap-legendaris-dari-majalengka Majalengka, D. P. (Senin September, 2017). Disnsakerin Majalengka. Retrieved Rabu Maret, 2020, from Kecap Khas Majalengka: disnakerin.majalengka.go.id
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...