Ketika saya menghadiri sebuah acara Festival Budaya Situ Sipatahunan yang digelar di Situ Sipatahunan, Jl. Situ Sipatahunan, Baleendah, Kec. Baleendah, Kab. Bandung, Jawa Barat. Adanya festival ini sehubungan dengan memperingati hari jadi Kabupaten Bandung ke-378. Festival Budaya Situ Sipatahunan menampilkan beberapa rangkaian acara bertema kebudayaan Sunda. Selain itu, terdapat beberapa workshop kesenian khas Sunda seperti workshop wayang golek dari Putra Giri Harja 3 dan workshop Karinding dari Komunitas Rimba Jagad.
Karinding, merupakan salah satu alat musik tradisional khas Sunda. Tentunya masyarakat Sunda sudah mengetahui karinding. Karinding terbuat dari bambu tua dan kering atau bisa juga terbuat dari pelepah aren. Dalam proses pembuatannya, yang menjadi kendala adalah bambu. Cara memainkannya dengan memukul secara pelan-pelan bagian ujung karinding lalu meniup bagian tengahnya. Menurut salah satu narasumber, alat musik semacam karinding juga telah ada sejak masa peradaban Neolithikum (masa prasejarah sebelum memasuki zaman logam). Pada jaman penjajahann Belanda, konon katanya karinding ini bernama “kareng” berasal dari “reng” sebagai bahan yang digunakan untuk membuat karinding.
Tidak hanya di suku Sunda, beberapa daerah di Indonesia dan beberapa Negara di Benua Asia juga memiliki alat musik yang bentuknya menyerupai karinding tetapi tidak sama persis seperti karinding. Bantul memiliki alat musik yang menyerupai karinding bernama rinding, dan di Bali bernama genggong. Sedangkan Jepang mempunyai alat musik yang bernama mukkuri dan Vietnam dengan nama danmoy, bedanya danmoy terbuat dari logam. Bentuknya memang serupa tetapi tak sama. Persamaannya terletak dalam cara memainkannya serta terletak pada kemiripan bunyi yang dihasilkan.
Di Sunda, karinding memiliki 2 jenis yaitu karinding buhun dan karinding “toel”. Diberi nama karinding toel karena kata toel berarti mencolek karena dalam memainkannya ujung karinding tidak dipukul secara keras tetapi dipukul pelan-pelan menggunakan jari tangan seolah-olah kita sedang mencolek sesuatu atau dalam Bahasa sunda disebut di toel. Dalam kebudayaan masyarakat Sunda sendiri, karinding dipercaya dapat menjadi alat untuk mengusir hama. Sehingga biasanya, para petani jaman dahulu selalu membawa karinding dan memainkannya di sawah mereka agar tidak ada hama. Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa karinding mengandung hal-hal mistis sehingga dapat mengusir hama. Namun sebenarnya, karinding memiliki beberapa nada yang membuat hama merasa tidak nyaman. Itulah alasan mengapa karinding dijadikan sebagai alat untuk mengusir hama.
Di Bandung, terdapat beberapa komunitas yang terdiri dari seniman-seniman yang ikut menyemarakan bagaimana pertumbuhan karinding. Salah satunya komunitas Rimba Jagad bersama seorang seniman yang bernama Man Jasad melalui grup musiknya yang bernama Karinding Attack. Mereka menyemarakan bagaimana proses pertumbuhan karinding di kalangan masyarakat yang dikemas melalui karya seni mereka, hal itu dilakukan agar para masyarakat tertarik mempelajari karinding. Kawan-kawan penggiat seni biasanya menggambil karinding yang berasal dari Baduy dan Tasik. Sedangkan untuk penggiat karinding di daerah Kab. Bandung ada Abah Ntang dan Abah Olot.
Secara personal, salah satu anggota komunitas Rimba Jagad yang juga sebagai narasumber bercerita mengenai proses perkembangan karinding di komunitas Rimba Jagad. Beberapa anggota dari komunitas Rimba Jagad berasal dari ISBI Bandung diantaranya Bapak Asep Nata dan Bapak Dodi (Ayah Dodi) selaku dosen musik bambu. Seiring dengan fenomena munculnya karinding, beberapa anggota komunitas Rimba Jagad dahulu dibelakang kantin STSI (sekarang ISBI) selalu coba-coba meraut bambu. Kemudian bertemu dengan Bapak Asep Nata, menurut Bapak Asep Nata membuat karinding menyerupai karinding buhun dari sangat sulit. Oleh karena itu, ia menggabungkan antara beberapa karakter karinding sehingga menjadi karinding toel seperti yang ada pada saat ini.
Setelah terbentuk karindinng, dimulai proses pengaturan nada dari karinding itu sendiri atau yang disebut sebagai proses penadaan. Proses ini terdiri dari 2 bagian yaitu studi bunyi yang dikelola oleh Bapak Asep Nata selaku Musikolog dan studi musik karinding dari Bapak Dodi (Ayah Dodi). Setelah proses penadaan dilanjutkan dengan membuat penotasian pada karinding. Proses penotasian pada karinding masih dilakukan hingga saat ini.
Namun, kawan-kawan kelompok pecinta karinding belum ada yang mau memenuhi ranah karinding secara seni musiknya yang terdiri dari penadaan dan penotasian. Mereka enggan belajar dan memahami secara mendetail tentang penotasian dan penadaan pada karindinng yang penting mereka dapat menggunakan dan dapat mengeluarkan bunyi karinding sehingga menghasilkan instrument secara saporadis. Bentuk-bentuk musik yang mereka hasilkan dari bunyi karinding itu hanya berupa pola dari penadaan dan penotasiannya saja sehingga terkesan hanya pada ritmenya saja (ritmis). Jika mereka masuk ke ranah musik dari karinding, bunyi yang dihasilkan dapat membentuk melodi (melodis). Hal ini terjadi karena masih kurangnya upaya dari para penggiat karinding, hingga saat ini belum ada yang khusus dan tegas yang memfokuskan kearah pemusikan karinding.
Para penggiat karinding khususnya dari komunitas Rimba Jagad berharap lebih banyak lagi masyarakat yang terterik mempelajari karinding terutama kepada generasi-generasi milenial. Karena bagaimana pun karinding merupakan alat musik tradisional khas sunda yang harus kita lestarikan dan karinding juga dapat menjadi identitas bagi masyarakat sunda menurut keseniannya selain suling, kacapi, dan kendang. Untuk mengajak generasi milenial agar tertarik mempelajari karinding, biasanya komunitas Rimba Jagad mengadakan workshop seperti yang diadakan di acara Festival Budaya Situ Sipatahunan. Dalam workshop itu banyak sekali yang tertarik untuk mempelajari karinding dari bagaimana karinding dibuat hingga bagaimana cara memainkan karinding. Selain itu, beberapa karinding dijual didalam workshop tersebut. Ada jenis karinding yang dijual yaitu karinding yang digunakan untuk tampil pada saat pementasan dijual dengan kisaran harga Rp 250.000 dan karinding biasa yang digunakan pemula untuk belajar berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 50.000. Tujuan penjualan karinding ini agar orang-orang yang tertarik mempelajari karinding tidak hanya mengandalkan melihat workshop saja tetapi dapat mempelajari membuat melodi melalui karinding miliknya dimana pun dia berada.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...