Motif Kain
Motif Kain
motif kain Bali Desa Tenganan
kain gringsing
- 28 April 2015

Kain gringsing adalah satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik teknik dobel ikat dan memerlukan waktu 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa Tenganan, Bali. Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki kain gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus. Kata gringsing berasal dari gring yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak', sehingga bila digabungkan menjadi 'tidak sakit'. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah seperti penolak bala. Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain gringsing.

Berdasarkan mitos, adanya kain tenun gringsing berawal dari Dewa Indra, pelindung dan guru kehidupan bagi masyarakat Tenganan. Dewa Indra kagum dengan keindahan langit di malam hari dan dia memaparkan keindahan tersebut melalui motif tenunan kepada rakyat pilihannya, yaitu rakyat Tenganan. Dewa itu mengajarkan para wanita untuk menguasai teknik menenun kain gringsing yang melukiskan dan mengabadikan keindahan bintang, bulan, matahari, dan hamparan langit lainnya. Kain tenun yang berwarna gelap alammi digunakan masyarakat Tenganan dalam ritual keagamaan atau adat dan dipercaya memiliki kekuatan magis. Kain ini juga disebut-sebut merupakan alat yang mampu menyembuhkan penyakit dan menangkal pengaruh buruk. Pakar tekstil menyataan bahwa teknik penenunan kain gringsing ini hanya dijumpai di tiga lokasi di dunia, yaitu Tenganan (Indonesia), Jepang, dan India.

Pada tahun 1984, Urs Ramseyer (1984) dalam tulisannya yang berjudul Clothing, Ritual and Society in Tenganan Pegeringsingan Bali, menyatakan dugaan bahwa masyarakat Tenganan sebagai sesama penganut Dewa Indra merupakan imigran dari India kuno. Imigran tersebut kemungkinan membawa teknik dobel ikat melalui pelayaran dari Orrisa atau Andhra Pradesh dan mengembangkan teknik tersebut secara independen di Tenganan. Kemungkinan lain adalah para imigran menguraikan kutipan-kutipan dari beberapa jenis tenun patola untuk dikembangkan di Indonesia.

Proses pembuatan kain gringsing dari awal hingga akhir dikerjakan dengan tangan. Benang yang digunakan merupakan hasil pintalan tangan dengan alat pintal tradisional, bukan mesin. Benang tersebut diperoleh dari kapuk berbiji satu yang didatangkan dari Nusa Penida karena hanya di tempat tersebut bisa didapatkan kapuk berbiji satu. Setelah selesai dipintal, benang akan mengalami proses perendaman dalam minyak kemiri sebelum dilanjutkan ke proses ikat dan pewarnaan. Perendaman tersebut bisa berlangsung lebih dari 40 hari hingga maksimum satu tahun dengan penggantian air rendaman setiap 25-49 hari. Semakin lama perendaman, benang akan makin kuat dan lebih lembut.

Buah kemiri (Aleurites moluccana) diambil langsung di hutan Tenganan dan pembuat kain gringsing harus menggunakan kemiri yang benar-benar matang, serta jatuh dari pohonnya. Hal ini sesuai dengan awig-awig (aturan adat) yang menyatakan bahwa beberapa jenis pohon tertentu (kemiri, keluak, tehep, dan durian) yang tumbuh di atas tanah milik individu tidak boleh dipetik oleh pemiliknya, melainkan hatus dibiarkan matang di pohon dan kemudian jatuh.

Benang akan dipintal menjadi sehelai kain yang memiliki panjang (sisi pakan) dan lebar (sisi lungsi) tertentu. Untuk merapatkan hasil tenunan, benang akan didorong menggunakan tulang kelelawar. Kain yang sudah jadi akan diikat oleh juru ikat mengikuti pola tertentu yang sudah ditentukan. Proses pengikatan menggunakan dua warna tali rafia, yaitu jambon dan hijau muda. Setiap ikatan akan dibuka sesuai proses pencelupan warna untuk menghasilkan motif dan pewarnaan yang sesuai.

Proses penataan benang, pengikatan, dan pewarnaan dilakukan pada sisi lungsi dan pakan, sehingga teknik tersebut disebut dobel ikat. Pada teknik tenun ikat biasa, umumnya hanya sisi pakan yang diberi motif, sedangkan sisi lungsi hanya berupa benang polos, atau sebaliknya. Pola yang dibuat pada kain harus ditenun dengan ketrampilan dan ketelitian sehingga setiap warna pada lungsi akan bertemu dengan warna yang sama pada pakan dan menghasilkan motif kain yang terlihat tegas.

  • Lubeng, dicirikan dengan kalajengking dan berfungsi sebagai busana adat dan digunakan dalam upacara keagamaan. Ada beberapa macam motif Lubeng, yaitu Lubeng Luhur yang berukuran paling panjang (tiga bunga berbentuk kalajengkin yang masih utuh), Lubeng Petang Dasa (satu bunga kalajengking utuh di tengah dan di pinggir hanya setengah), dan Lubeng Pat Likur (ukurannya terkecil).
  • Sanan Empeg, dicirikan dengan tiga bentuk kotak-kotak/poleng berwarna merah-hitam. Fungsi kain gringsing bermotif ini adalah sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, yaitu sebagai pelengkap sesajian bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan. Bagi masyarakat Bali di luar desa Tenganan, kain ini digunakan sebagai penutup bantal/alas kepala orang melaksanakan upacara manusa yadnya potong gigi.
  • Cecempakaan, dicirikan dengan bunga cempaka dan berfungsi sebagai busana adat dan upacara keagamaan. Jenis-jenis Gringsing Cecempakaan adalah Cecempakaan Petang Dasa (ukuran empat puluh), Cecempakaan Putri, dan Geringsing Cecempakaan Pat Likur (ukuran 24 benang).
  • Cemplong, dicirikan dengan bunga besar di antara bunga-bunga kecil sehingga terlihat ada kekosongan antara bunga yang menjadi cemplong. Gringsing cemplong juga berfungsi sebagai busana adat dan upacara agama. Jenis-jenisnya terdiri dari ukuran Pat Likur (24 benang), senteng/anteng (busana di pinggang wanita), dan ukuran Petang Dasa (40 benang) yang sudah hampir punah.
  • Gringsing Isi, motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada bagian kain yang kosong. Motif ini berfungsi hanya untuk sarana upacara dan kuran yang ada hanya ukuran Pat Likur (24 benang).
  • Wayang, terdiri dari gringsing wayang kebo dan gringsing wayang putri. Motif ini paling sulit dikerjakan dan memerlukan waktu pembuatan hingga 5 tahun. Motif wayang hanya terdiri dari dua warna, yaitu hitam sebagai latar dan garis putih yang relatif halus untuk membentuk sosok wayang. Untuk menciptakan garis putih dengan tersebut diperlukan ketelitian tinggi karena tingkat kesulitan selama pengikatan dan penenunan kain relatif sulit. Wayang kebo memiliki motif wayang lelaki, sedangkan wayang putri hanya berisi motif wayang perempuan.
  • Batun Tuung, yang dicirikan dengan biji terung, Ukurannya tidak besar dan digunakan untuk senteng (selendang) pada wanita dan sabuk (ikat pinggang) tubumuhan pada pria. Motif ini sudah hampir punah.

Motif-motif kuno kain gringsing lainnya yang masih dikenal meliputi: Teteledan, Enjekan Siap, Pepare, Gegonggangan, Sitan Pegat, Dinding Ai, Dinding Sigading, dan Talidandan. Warna dan keunikan desain ikat mulai mengalami perubahan dibandingkan dengan motif kain-kain kuno yang sebagian tersimpan di museum-museum di Eropa, seperti Museum Basel, Swiss. Pada tahun 1972, kelompok peneliti dari Museum Fur Volkerkunde, Basel, membawa foto-foto kain gringsing yang sebagian sudah tidak ditemukan lagi di Desa Tenganan. Foto-foto tersebut dipelajari dan dibuat kembali oleh masyarakat Tenganan untuk melestarikan motif-motif kuno kain gringsing

images?q=tbn:ANd9GcQAMM26ykqMhfuHYsnhug900dbz2xruGU-qfmMz7mwqxq9Gs_Bu

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur
Motif Kain Motif Kain
Nusa Tenggara Timur

Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kain tenun bukan hanya sekadar produk tekstil biasa di Indonesia
Motif Kain Motif Kain
Aceh

Kain tenun bukan hanya sekadar produk tekstil biasa di Indonesia Identitas dan Asal-Usul Kain tenun di Indonesia merupakan warisan budaya yang melampaui fungsi sebagai produk tekstil konvensional [S1]. Objek ini merepresentasikan hasil karya tangan yang memuat narasi sejarah panjang serta nilai-nilai budaya yang luhur [S4]. Keberadaannya telah menjadi bagian integral dalam aspek sosial, ekonomi, hingga spiritual masyarakat Nusantara selama ribuan tahun [S1], [S4]. Secara geografis, tradisi menenun tersebar luas di hampir seluruh wilayah Indonesia, di mana setiap daerah mengembangkan karakteristik, motif, dan filosofi yang unik [S1], [S3]. Keberagaman ini didukung oleh teknik pembuatan yang spesifik serta keterampilan perajin yang diwariskan secara turun-temurun [S1], [S4]. Beberapa wilayah yang memiliki tradisi tenun dengan kekhasan motif dan makna yang menonjol antara lain Toraja, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali [S2]. Setiap motif yang dihasilkan bukan sekadar ele...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Indonesian parents often use traditional games to educate their children about character building
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Aceh

Indonesian parents often use traditional games to educate their children about character building Identitas dan Asal-Usul Permainan Bentengan diklasifikasikan sebagai permainan tradisional anak yang telah berintegrasi dalam budaya lokal Indonesia [S2]. Teks bebas mencatat bahwa aktivitas ini telah dimainkan sejak era kolonial Belanda [S1]. Ensiklopedia daring mengonfirmasi bahwa permainan tradisional Nusantara umumnya memiliki akar akulturasi yang kuat [S2]. Meskipun tidak teridentifikasi secara spesifik mengenai wilayah kelahirannya, permainan ini tersebar luas sebagai warisan bermain anak pra-modern [S2]. Perbandingan antara kedua sumber menunjukkan bahwa [S1] berfokus pada konteks historis kolonial dan mekanisme permainan, sedangkan [S2] lebih menekankan pada akar akulturasi budaya dan fungsi sosialnya secara umum. Kedua sumber memiliki batasan masing-masing: [S1] tidak menguraikan variasi regional, sementara [S2] bersifat umum tanpa mendetailkan mekanisme spesifik Bentengan....

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Songket Palembang: Jejak Sriwijaya dalam Selembar Kain Martabat
Motif Kain Motif Kain
Sumatera Selatan

Songket Palembang: Jejak Sriwijaya dalam Selembar Kain Martabat Identitas dan Asal-Usul Songket Palembang merupakan kain tenun tradisional yang diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak tahun 2013 [S1]. Kain ini dikenal luas karena kekayaan historisnya dan menjadi penanda martabat dalam budaya masyarakat Palembang [S3, C5, C6]. Popularitasnya sering terlihat dalam berbagai pameran dan dikenakan oleh tokoh publik [C2]. Asal-usul Songket Palembang kerap dikaitkan dengan masa Kemaharajaan Sriwijaya, yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan [S3, C4]. Sejak masa kerajaan, songket tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai simbol kedudukan, kehormatan, dan peran sosial seseorang [C7]. Keunikan ini menjadikan Songket Palembang lebih dari sekadar kain indah, melainkan sarat akan nilai sosial dan filosofis yang melekat pada setiap helainya [C8, C9]. Meskipun demikian, belum ada sumber yang secara spesifik merinci sentra produksi Songket Palembang selain...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris: Lebih dari Senjata, Pusaka Jawa yang Mendunia
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Timur

Keris: Lebih dari Senjata, Pusaka Jawa yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan senjata tikam tradisional yang berasal dari Indonesia, dengan karakteristik bentuk bilah yang asimetris atau berkelok-kelok [S1], [S5]. Secara struktural, keris terdiri atas tiga komponen utama, yakni bilah ( wilah ), gagang ( hulu ), dan sarung ( warangka ) [S1]. Sebagai bagian dari kategori tosan aji —istilah untuk senjata berbahan besi bernilai tinggi yang dimuliakan—keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata perang, tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang dan simbol identitas masyarakat Jawa [S2], [S5]. Museum Nasional Indonesia menyimpan koleksi keris yang merepresentasikan sejarah perkerisan Nusantara, termasuk spesimen dari Cirebon, Jawa Barat, yang berasal dari abad ke-16 [S4], [S5]. Salah satu contoh koleksi yang terdokumentasi adalah keris dengan dhapur Kebo Lajer dan pamor tambal, yang secara historis populer di kalangan masyarakat petani pedesaan sebagai sim...

avatar
Kianasarayu