Senjata dan Alat Perang
Senjata dan Alat Perang
senjata Banten ciomas
golok ciomas #DaftarSB19
- 11 Februari 2019

Senjata Tradisional Banten yang bernama Golok Ciomas in merupakan senjata yang bersejarah diwilayah Banten. Golok Ciomas ini tidak berbeda dengan golok-golok lainnya, hanya saja golok ciomas ini adalah senjata tajam yang berbentuk golok pada umumnya. Golok Ciomas ini ini dijadikan sebagai senjata simpanan untuk membela diri sendiri. Dahulu pada saat penjajahan, golok ini sangat terkenal sebagai senjata yang kerap dibawa perang oleh para jawara-jawara Banten ketika pada masa penjajahan dulu. Apabila kamu ingin mengunjungi daerah ciomas untuk melihat Golok Ciomas raksasa itu sangat mudah sekali, Dari tengah Kota Serang banyak sekali angkutan-angkutan umum yang langsung menuju ke daerah Ciomas. Asal-usul pengambilan nama "golok ciomas" ini diambil dari wilayah yang bernama "Ciomas" yang mana daerah ciomas ini adalah salah satu tempat pembuatan golok, tentunya Golok Ciomas ini dibuatnya disitu. Para penduduk Banten ini biasa menyebut golok ini dengan sebutan "bedog". Tetapi, disitu terdapat perbedaan, bahwa bedog biasa ini kegunaan-nya untuk sebuah peralatan. Untuk membedakan sebagai peralatan senjata ini, maka bedog tersebut disebut dengan nama "Bedog Ciomas" yang mana bedog itu langsung merujuk secara khusus untuk senjata. Senjata Tradisional yang bernama Golok Ciomas ini memiliki keistimewaan-keistimewaan dalam segi pembuatan-nya, hal tersebut yang memberikan nilai-nilai seni khusus bagi golo ciomas. Bukan hanya sekedar keistimewaan-nya, melainkan pembuatan golok ciomas ini mengikuti aturan-aturan yang tidak tertulis, yang biasa dilakukan dari generasi ke generasi pada zaman Kesultanan Banten. Pembuatan golok Ciomas ini hanya dibuat ketika bulan Mulud saja, yaitu dimana bulan Mulud itu adalah Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seperti yang kita ketahui, mayoritas penduduk Banten hampir semuanya memegang agama Islam, ketika waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW memiliki makna tersendiri. Berbeda dengan pembuatan golok-golok perkakas lainnya, ketika akan membuat golok Ciomas ini harus melewati beberapa ritual-ritual tertentu. Demikan mengenai hal ini berbeda dengan yang lain, yaitu penempaan bahan besi golok Ciomas hanya menggunakan godam, atau penmpa khusus yang bernama Ki Denok. Godam atau palu yang bernama Ki Denok ini adalah salah satu warisan peninggalan pada zaman Kerajaan Islam Banten. Godam ini adalah salah satu hadiah dari Sultan Banten. Meskipun aturan pembuatan golok yang ketat, golok Ciomas ini menjadi salah satu golok yang memiliki nilai artistik tinggi. Selain itu, golok Ciomas ini sangat terkenal dengan keistimewaan-nya, dan keseimbangan pada bentuk yang telah diakui memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan senjata-senjata lainnya. Ketika dahulu masih pada masa-masa penjajahan, jawara-jawara Banten ini menggunakan golok Ciomas untuk dijadikan senjata andalan mereka, yang kegunaan-nya untuk melindungi diri, dan mengusir para penjajah-penjajah. Tidak semua orang mempunyai senjata golok Ciomas ini, karena pembuatan golok ini tidak sembarangan, maka kepemilikan golok Ciomas ini hanya dipegang oleh-oleh orang tertentu dan hanya digunakan untuk menjaga kebaikan. Golok Ciomas juga tidak digunakan dengan cara sembarangan, apalagi digunakan kepada hal-hal yang sangat negatif, seperti digunakan kepada kejahatan. Saat ini, para pengrajin golok didaerah Ciomas dapat menjadi cenderamata bagi para wisata yang berwisata kedaerah Banten. Daerah Ciomas ini sangat dikenal dengan tempat pembuatan golok.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu