Ada tujuh orang bersaudara pergi menjaga Fahi Brutu Ratak (babi yang bernama Brutu Ratak) di kebun. Babi itu biasa merusakkan tanaman-tanaman di kebun. Mereka tidak berangkat bersama-sama. Keenam orang yang berangkat lebih dahulu tidak dadapat membunuh babi itu.
Barulah Mane ikun yang pergi kemudian berhasil membunuh babi tersebut. Karena dilukai babi itu mulai melarikan diri bersama kedua anaknya. Anaknya yang pertama lari menuju arah matahari terbenam dan yang lain melarikan diri ke arah matahari terbit bersama dengan induknya.
Selama pelarian itu Brutu Ratak melewati beberapa tempat antara lain: Maubesi-we kto, Tahan-ama-nan falus, Metamauk Weluli dan terus ke Dabus.
Di Debus ia masuk debum (kubang) sehingga tempat ini orang namakan Debus hingga saat ini.
Di Debut ia terus melarikan diri menuju Ramea. Di sini darahnya semakin banyak keluar dan tersiram sehingga tempat ini disebut orang Ramea hingga sekarang.
Dari Ramea ia lari menuju Fahi dan meninggal di tempat ini, sehingga tempat ini orang namakan Manu Fahi sampai saat ini. Setelah Fahl Brutu ratak ini mati ketujuh orang bersaudara ini membagi-bagi dagingnya, dan setelah selesai mereka pulang bersama-sama.
Di tengah perjalanan keenam orang kakaknya dengan sengaja menyembunyikan batu asa milik bapanya yang mereka bawa, mereka kemudian menyuruh Mane ikun pulang · kembali ke Rasan ( tempat mereka memotong daging fahi Brutu ratak) untuk mengambil kadi (batu asa) tersebut.
Sampai di Rasan dia tidak menemukan batu asa tersebut, tetapi ia melihat dua ekor anak elang yang sedang asyik membersihkan sisa-sisa daging, ia menangkap kedua ekor burung itu dan membawanya pulang mengikuti keenam kakaknya yang telah mendahului dia.
Di tengah jalan segerombolan Raksasa mencegat dia dan menangkapnya. Para Raksasa membawa di dan elangnya ke Foho Kmesak Leob.
Kmesak Leobele (nama tempat tinggal para Raksasa). Di tempat ini Mane ikun dimasukkan ke dalam tetu ainerµk bersama dengan kedua ekor elang itu. Mereka diperlihara dan diberi makan yang enak. Setelah Mane ikun menjadi gemuk, para Raksasa berkumpul dan merundingkan kapan Mane ikun akan dibunuh. Mane ikun merasa sangat sedih dan sambil menangis ia menceritakan kepada kedua ekor elang itu bahwa dalam waktu dekat ia akan dibunuh.
Mendengar itu, kedua ekor elang itu berseru dan mengatakan bahwa ia tidak perlu takut, ia tidak akan mati sebelum mereka mati. Mendengar jawaban itu Mane ikun mengatakan kepada kedua elang itu bahwa bila mereka itu kuat dan berani menjaganya, mereka harus dapat membuktikannya. Karena itu mereka diminta untuk pergi mengangkat kedua alu yang terletak di pinggir rumah itu untuk diterbangkan tinggi dan kemudian diletakkan kembali pada tempatnya yang semula. Kedua elang itu pergi dan dengan mudah mengangkat kedua alu, menerbangkannya tinggi menghampiri awan kemudian merendah kembali perlahan dan meletakkan alu-alu itu pada tempatnya semula.
Tetapi percobaan pertama itu belum meyakinkan Mane ikun. Karena itu untuk kedua kalinya diperintahkannya kedua ekor elang untuk mengangkat kedua lesung yang terletak di tanah, menerbangkannya setinggi langit dan kemudian meletakkannya kembali pada tempatnya semula.
Kesempatain ini dimanfaatkannya pula oleh kedua ekor elang itu untuk membuktikan kesanggupan dan kebolehannya. Dan ternyata bahwa mereka itu sungguh kuat dan mampu.
Sekarang tibalah saatnya para ·Raksasa berkumpul untuk membunuh Mane ikun. Mereka pergi menurunkan Mane ikun dari Tetu ainaruk (semacam rumah kecil di atas pohon yang mempunyai bale-bale) untuk dibunuh. Para Raksasa mulai berduyun-duyun pergi menurunkan Mane ikun dari Tetu ainaruk, namun usaha mereka itu tidak berhasil. Karena, ketika melihat orang berduyunduyun hendak menurunkan Mane ikun dari Tetu ainaruk, kedua elang mengangkat dan membawanya terbang menembusi atap Tetu menuju ke sebuah pohon yang tinggi. Para Raksasa mengejar mereka dan menebang pohon itu.
Pohon itu tumbang dan mereka ke pohon yang lain. Para Raksasa mengejar terus dan menebang pohon di mana mereka itu berada. Sesudah pohon yang ketujuh tumbang, mereka lalu terbang menuju Kailkau (bukit batu yang tak da_pat ditebang dan tak dapat didaki oleh siapapun). Para Raksasa terns mengikuti mereka sampai di Foho-Kailaku. Para Raksasa membawa segala macam alat seperti: linggis, kapak, gergaji, untuk menebang dan merobohkan Ksadan Kailaku (bukit batu) itu. Mereka menggergaji, menebang, menggali namun semua usaha itu sia-sia belaka.
Kailaku tidak berubah tetapi berdiri kokoh dan kuat. Sebaliknya segala macam peralatan para Raksasa menjadi tumpul dan banyak yang patah. Akhimya semua peralatan itu dibuang di kaki Ksadan Kailaku.
Setelah Mane ikun tahu bahwa, para Raksasa sudah tidak sanggup lagi merobohkan Ksadan (bukit) itu, maka dia mengucapkan pantun sebagai berikut :
Der baba Kailaku kikit rua bidu Bidu naninu Ksadan Kailaku Kikit tasi loi bele kdirun boln balu Loi nodi nahonu Ksadan Kailaku
Sekarang Mane ikun menjadi penghuni di puncak Ksadan Kailaku. Hidupnya aman dan menyenangkan karena tidak ada yang mengganggu. Kemudian dia menyuruh kedua ekor elangnya pergi mencari hewan untuk mereka pelihara. Mula-mula Mane ikun menyuruh mereka pergi untuk mengambil dua ekor ayam, yang seeker jantan dan yang lain betina. Mereka pergi dan membawa pulang kedua ekor ayam itu. Kemudian Mane ikun menyruh mereka pergi lagi untuk mcnari dua ekor babi, yang satu jantan dan yang lain betina. Setelah mereka membawa dua ekor babi itu, mane ikun menyuruh mereka mencari dua ekor kambing, yang satu jantan dan yang lain betina. Dan kedua ekor elang itu membawa pulang dua ekor kambing itu. Kemudian di menyuruh mereka lagi mengambil dua ekor anjing, yang satu jantan diberi nama Sikone, yang lain betina diberi nama Bakurai.
Pada suatu hari keenam saudaranya pergi berburu di Leun laran-knakun laran (wilayah Mane ikun). Mereka berhasil membunuh seekor rusa. Dan ketka mereka sedang membagi-bagi daging datanglah Mane ikun menemui mereka dan berkata: “Mengapa kamu datang berburu di wilayah ini? Siapa. yang mengizinkan kamu?” Keenam bersaudara itu menjawab: “Kami datang berburu karena, tanahmu adalah tanah kami dan tanah ini adalah tanahmu”. Kemudian mereka saling memperkenalkan diri. Dan sebelum mereka berpisah, mereka membuat rencana untuk mengadu ayam. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan bertemu kembali di Leun laran-Knakun laran (wilayah ¥ane ikun). Setelah seminggu berlalu ke enam bersaudara itu wfgi ke Leun Knakun. Di sana mereka menemui Mane ikun. Se1ama pertemuan berlangsung mereka hanya saling mengenal sebagai kawan dan bukan sebagai kakak beradik.
Kemudian Mane ikun mengajak ke enam orang itu, katanya: “Belu, bawalah ayammu ke sini untuk dicoba, kita akan segera mengadunya”. Selesai mencoba, keenam orang itu berseru kepada Mane ikun, katanya; “Belu, silakan pasang taji pada ayammu”. Mane ikun menjawab, “Pasang saja taji pada ayammu, biarlah ayamku bertanding tanpa taji”. Setelah musyawarah singkat ini, mereka mulai mengadu ayam. Mane ikun mengajak keenam orang itu untuk lebih dahulu melepaskan ayam mereka. Ia berbuat demikian karena ayamnya adalah seekor L elang, yang bila dilepaskan pertama, pasti menakutkan ayam lawannya. Keenam bersaudara itu melepaskan pertama ayamnya. Mereka menyebut nama ayamnya, Sakantaris foti ain (Sakantaris angkat kaki). Kemudian Mane ikun menurunkan elang itu dan menyebutkan namanya, Saur ama foti ain: (Saur ama angkat kaki). Begitu dilepaskan, elang itu langsutlg menyambar putus leher lawannya. Ayam itu mati dan dengan demikian Mane ikun memenangkan pertandingan itu.
Setelah kekalahan pertama, mereka senantiasa berjanji untuk menebus kekalahannya. Demikianlah terjadi berulang kali, Tujuh kali mereka berjanji, tujuh kali pula mereka menderita kekalahan. Mereka telah mempertaruhkan segalanya. Akhirnya demi tekadnya, mereka mempertaruhkan orang tua sendiri. Di pihak lain, betapapun tekad mereka, Mane ikun tetap tidak terkalahkan. Segala pertandingan dimenangkan olehnya. Demikian pula pertandingan yang terakhir. Akhirnya Mane Ikun dapat berjumpa kembali dengan orang tuanya. Kepada orang tuanya ia kemudian memperkenalkan diri katanya :
Betul-betul anak bungsu, tali ular sawah telah kendor Keenam saudara laki-laki membuang adik bungsunya Moruk Fuik mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah Rumahnya terletak antara bukit derebaba dan bukit Kailaku Di sana ia berkebun dan menetap Di bukit Kailaku dua elang menari Sedang menari sambil bemyanyi di Ksadan Kailaku Elang laut menerbangkan banyak buah tuak Buah tuak ditanam dan banyak tumbuh di Kailaku Si buluh hitam terbang ke pohon beringin Di pohon beringin ia bertemu bapaknya Putar ekor ke tempat keramat Kepalanya menuju Kfau kramat la tiba di Kfau kramat, tidak memberi sesuatu la tiba di Kfau kramat tidak memberi sinar matahari
https://www.dictio.id/t/fahi-brutu-ratak-cerita-rakyat-nusa-tenggara-timur/125720
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...