Alat Musik
Alat Musik
Karya Essay Jawa Timur Jember
Eksistensi Kemerdekaan Dalam Menjaga Harmonisasi Budaya Indonesia
- 8 Juli 2023

Eksistensi Kemerdekaan Dalam Menjaga Harmonisasi Budaya Indonesia Oleh: Adiesa Asa*

Semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan gagasan utamanya, Garuda sebagai lambang yang menyertainya, tergaung sebagai negeri yang subur tanahnya, indah pesona alamnya, kaya budayanya ialah identitas paten negara Indonesia. Berada pada persimpangan Asia dan Australia, menciptakan kekayaan alam dan budaya yang beragam serta dinamis bagi negara Indonesia. Memiliki kekayaan serta aset yang melimpah ruah didalamnya rupanya Indonesia memiliki sejarah kelam dalam memperjuangkan kedaulatannya. Bagi Indonesia, kata kemerdekaan merujuk pada perjuangan dan pengorbanan dalam pencapaian menuju kemerdekaan dari penjajahan kolonial. 17 Agustus 1945 merupakan hari kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia di penjuru negeri yang mana telah tergaung teks proklamasi yang dibacakan oleh sang tokoh penting negara Indonesia Ir. Soekarno. Kemerdekaan Indonesia memiliki makna yang mendalam selain sebagai kemenangan dalam perjuangan fisik melawan penjajah, kemerdekaan juga mengandung makna politik, sosial, dan budaya yang penting. Secara politik, kemerdekaan memberikan hak kepada rakyat Indonesia untuk menentukan masa depan dan sistem pemerintahan negara. Secara sosial, kemerdekaan membawa harapan akan kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat yang melibatkan persamaan hak, keadilan, dan kesempatan bagi setiap individu, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang budaya mereka. Dengan luas dataran yang mencapai 1.922.570 kilometer persegi dan perairan 3.257.483 kilometer persegi Indonesia menyimpan keberagaman suku, budaya, etnis, agama. Keberagaman dan perbedaan di Indonesia merupakan aset dan ikon bagi identitas negeri. Kelamnya masa penjajahan, banyaknya nyawa yang hilang demi kata merdeka, perbedaan tak boleh menjadi penghalang dalam menjaga dan merajut harmonisasi budaya nusantara. Harmonisasi budaya Nusantara berarti menciptakan keselarasan dan kerukunan antara budaya-budaya yang beragam. Pentingnya harmonisasi budaya Nusantara terletak pada pengakuan dan penghormatan terhadap keberagaman serta perjuangan sang pahlawan kemerdekaan. Harmonisasi budaya Nusantara juga melibatkan pelestarian warisan budaya, seperti bahasa, tarian, musik, seni, dan tradisi lainnya, yang merupakan bagian penting dari identitas dan kekayaan Indonesia. Melalui harmonisasi budaya Nusantara, Indonesia dapat membangun masyarakat yang inklusif, menghargai perbedaan, dan mendorong kerjasama antarbudaya yang berkontribusi pada penguatan persatuan dan kesatuan bangsa serta menjaga keberlanjutan budaya Indonesia di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA Lathifah, A. (2022, Juni Sabtu). Retrieved from https://www.kompasiana.com/alfiyyahlathifah10/62a419832098ab6120210122/harmonisasi-dalam-keberagaman-sosial-budaya Negara, Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar. "Republik Indonesia Tahun 1945." Jakarta, Indonesia: www. mpr. go. id (2001). Wahyudi, E. (2022, Oktober Kamis). Retrieved from https://www.fortuneidn.com/news/eko-wahyudi/ketahui-luas-negara-indonesia-batas-dan-letak-posisinya

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker