Bantaeng - Nama Dusun Batu Ruyung, Desa Karatuang, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, konon berangkat dari cerita ruyung atau duyung. Legenda turun temurun yang dipercayai masyarakat hingga diabadikan menjadi nama sebuah dusun. Dusun Batu Ruyung tak jauh dari pusat Kecamatan, paling sekitar 4 sampai 5 kilometer dan bisa ditempuh selama 8 menit perjalanan. Akses menuju dusun juga mudah. Jalannya mulus, arus lalu lintas lancar yang dilengkapi petunjuk arah Legenda yang dipercayai masyarakat bukan sekadar cerita. Batu Ruyung memang berwujud bebatuan asli berukuran cukup esar yang terdapat di halaman rumah salah satu warga. Konon, tumpukan bebatuan itu jelmaan duyung yang akhirnya diabadikan menjadi nama daerah tersebut. Dulu, ada seekor duyung berada di sana lalu makelong-kelong atau bersyair sepanjang hari. Buah syairnya melahirkan kalimat syarat makna. Kelong-kelong ruyung kala itu mengisahkan kehidupannya yang malang. Sayang cerita rakyat ini tidak terlalu banyak diingat atau diketahui sebagian besar masyarakat di kabupaten berjuluk "Butta Toa" atau tanah tua Legenda yang dipercayai masyarakat bukan sekadar cerita. Batu Ruyung memang berwujud bebatuan asli berukuran cukup esar yang terdapat di halaman rumah salah satu warga. Konon, tumpukan bebatuan itu jelmaan duyung yang akhirnya diabadikan menjadi nama daerah tersebut. Dulu, ada seekor duyung berada di sana lalu makelong-kelong atau bersyair sepanjang hari. Buah syairnya melahirkan kalimat syarat makna. Kelong-kelong ruyung kala itu mengisahkan kehidupannya yang malang. Sayang cerita rakyat ini tidak terlalu banyak diingat atau diketahui sebagian besar masyarakat di kabupaten berjuluk "Butta Toa" atau tanah tua ini. Sore itu Sabtu 30 November 2019, Tagar menyambangi kediaman seorang kakek bernama Daeng Sakari yang akrab disapa kakek Sakari. Katanya, kakek Sakari adalah satu tetua yang mengetahui detail cerita Batu Ruyung. Sakari mengaku risau karena kebanyakan orang-orang di sana tidak lagi mengenal legenda hidup tanah Dusun Batu Ruyung. Menurutnya, cerita rakyat kian tergerus zaman. Bahkan sebagian orang di dusun tersebut tidak sedikit tahu tentang sejarah dusunnya. "Tena antu nakulle nipelak turioloa nak, nasabak tanga laniak tongki tukamma kammayyane punna taena turiolota (Kita tidak seharusnya melupakan (cerita) orang-orang terdahulu, karena tidak akan ada (eksistensi) manusia saat ini, tanpa kehadiran para pendahulu," kata kakek Sakari. Kakek yang mengaku berusia lebih 100 tahun ini tidak ingat kapan dia dilahirkan. Begitu juga istrinya, nenek Singarak yang katanya berusia sekitar 70 tahun. Kakek-nenek ini tinggal di sebuah rumah panggung yang berada tak jauh dari SD Negeri 114 Allu, Kelurahan Karatuang, kecamatan Bantaeng. Sembari perlahan mendeguk air putih hangat, Sakari mulai fokus menggali memori lamanya tentang legenda Batu Ruyung. Guratan dahi dan pancaran matanya menatap nanar bercerita. Dia mengerti bahasa Indonesia, namun tidak bisa melafalkannya "Tena antu nakulle nipelak turioloa nak, nasabak tanga laniak tongki tukamma kammayyane punna taena turiolota (Kita tidak seharusnya melupakan (cerita) orang-orang terdahulu, karena tidak akan ada (eksistensi) manusia saat ini, tanpa kehadiran para pendahulu," kata kakek Sakari. Kakek yang mengaku berusia lebih 100 tahun ini tidak ingat kapan dia dilahirkan. Begitu juga istrinya, nenek Singarak yang katanya berusia sekitar 70 tahun. Kakek-nenek ini tinggal di sebuah rumah panggung yang berada tak jauh dari SD Negeri 114 Allu, Kelurahan Karatuang, kecamatan Bantaeng. Sembari perlahan mendeguk air putih hangat, Sakari mulai fokus menggali memori lamanya tentang legenda Batu Ruyung. Guratan dahi dan pancaran matanya menatap nanar bercerita. Dia mengerti bahasa Indonesia, namun tidak bisa melafalkannya. Kita tidak seharusnya melupakan cerita orang-orang terdahulu, karena tidak akan ada manusia saat ini. Dalam bercerita, Sakari juga melantunkan kelong-kelong dengan nada-nada sakral. Sempat dua kali dia mengulangi syair duyung yang membuat suasana menjadi mistis sore itu. Usai melantukan kelong, aura dingin seperti menyusupi ruangan tersebut. Entah karena cuaca mendung yang mendukung atau memang reaksi gaib dari kelong tersebut. Nenek Singarak berperan sebagai penterjemah dendang kelong kakek Sakari. :Oh ibu, oh ibu datanglah kemari, saya haus sekali. Ibuku adalah duyung, ayahku (ikan) lumba-lumba di sana (laut)," kata nenek mengartikan kelong si kakek. Nenek Singarak mengatakan, dulunya ada manusia yang menjelma menjadi duyung. Saat itu, Tanah Butta Toa Bantaeng sebagian besar masih berupa lautan. Namun karena suatu sebab, anaknya ditinggal di salah satu titik di daerah Bantaeng. Duyung itu pergi, sementara anaknya menunggu dan terus memanggil-manggil ibunya. Kalimat-kalimat dalam kelongnya seperti menceritakan nasib yang dialaminya pada waktu itu. Nadanya meraung-raung menandakan betapa pilunya hati seorang anak yang ingin sekali berjumpa ibu dan ayahnya. Konon karena ayah duyung itu adalah seekor Lumba-lumba, orang-orang hingga kini tidak lagi berani memakan ikan Lumba-lumba hingga hari ini. Matahari kian menepi ke ufuk timur, sementara tiga orang di rumah panggung yang tak lagi kokoh masih larut dalam kisah-kisah Batu Ruyung. Tak seorang pun berani atau berniat memindahkan bebatuan tersebut dari halaman rumah kakek itu. Mereka membiarkan batu itu tetap pada posisinya. "Tena antu nakulle nipelak turioloa nak, nasabak tanga laniak tongki tukamma kammayyane punna taena turiolota (Kita tidak seharusnya melupakan (cerita) orang-orang terdahulu, karena tidak akan ada (eksistensi) manusia saat ini, tanpa kehadiran para pendahulu," kata kakek Sakari. Kakek yang mengaku berusia lebih 100 tahun ini tidak ingat kapan dia dilahirkan. Begitu juga istrinya, nenek Singarak yang katanya berusia sekitar 70 tahun. Kakek-nenek ini tinggal di sebuah rumah panggung yang berada tak jauh dari SD Negeri 114 Allu, Kelurahan Karatuang, kecamatan Bantaeng. Sembari perlahan mendeguk air putih hangat, Sakari mulai fokus menggali memori lamanya tentang legenda Batu Ruyung. Guratan dahi dan pancaran matanya menatap nanar bercerita. Dia mengerti bahasa Indonesia, namun tidak bisa melafalkannya. Kita tidak seharusnya melupakan cerita orang-orang terdahulu, karena tidak akan ada manusia saat ini. Dalam bercerita, Sakari juga melantunkan kelong-kelong dengan nada-nada sakral. Sempat dua kali dia mengulangi syair duyung yang membuat suasana menjadi mistis sore itu. Usai melantukan kelong, aura dingin seperti menyusupi ruangan tersebut. Entah karena cuaca mendung yang mendukung atau memang reaksi gaib dari kelong tersebut. Nenek Singarak berperan sebagai penterjemah dendang kelong kakek Sakari. :Oh ibu, oh ibu datanglah kemari, saya haus sekali. Ibuku adalah duyung, ayahku (ikan) lumba-lumba di sana (laut)," kata nenek mengartikan kelong si kakek. Nenek Singarak mengatakan, dulunya ada manusia yang menjelma menjadi duyung. Saat itu, Tanah Butta Toa Bantaeng sebagian besar masih berupa lautan. Namun karena suatu sebab, anaknya ditinggal di salah satu titik di daerah Bantaeng. Duyung itu pergi, sementara anaknya menunggu dan terus memanggil-manggil ibunya. Kalimat-kalimat dalam kelongnya seperti menceritakan nasib yang dialaminya pada waktu itu. Nadanya meraung-raung menandakan betapa pilunya hati seorang anak yang ingin sekali berjumpa ibu dan ayahnya. Konon karena ayah duyung itu adalah seekor Lumba-lumba, orang-orang hingga kini tidak lagi berani memakan ikan Lumba-lumba hingga hari ini. Matahari kian menepi ke ufuk timur, sementara tiga orang di rumah panggung yang tak lagi kokoh masih larut dalam kisah-kisah Batu Ruyung. Tak seorang pun berani atau berniat memindahkan bebatuan tersebut dari halaman rumah kakek itu. Mereka membiarkan batu itu tetap pada posisinya. Kakek Sakari mengatakan, anak-anak kecil yang tak tahu kisah dibalik batu itu sangat suka bermain di sekitar sana. Tak jarang ada di antara mereka yang duduk di atas batu dan seolah menungganginya. Dulu, sambung nenek Singarak, ketika ayahnya bernama I Painro masih hidup, batu itu sangat dijaga agar kisahnya terus sakral dan terjaga. Di malam-malam tertentu, ayahnya kerap menyalakan lilin sebagai penerang tumpukan bebatuan. Dari ayahnya juga, nenek Singarak dan kakek Sakari mendengar banyak cerita duyung dan berupaya melestarikannya. Mereka berdua berharap, sejarah tetap hidup sekalipun satu persatu bukti fisik hilang dan tertimbun bangunan. "Kupasangko anne nak, na nupanjari pappilajarang nanaisseng tongi ia ngasekna tau maraenga (Cerita ini saya sampaikan agar bisa engkau pelajari dan engkau bisa menceritakannya kembali kepada orang-orang di luar sana," tuturnya. Sumber : https://www.tagar.id/duyung-yang-hilang-di-dusun-batu-ruyung-bantaeng
Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland