Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat mataram
cilinaya
- 13 Desember 2014

Cilinaya adalah seorang putri dari Kerajaan Daha. Ia menikah dengan seorang pangeran dari Kerajaan Keling yang bernama Raden Panji. Ketika Cilinaya sedang mengandung, ayah mertuanya (Raja Keling) ingin membunuhnya secara diam­diam. Mengapa Raja Keling ingin membunuh menantunya sendiri? Temukan jawabannya dalam cerita Cilinaya berikut ini!

Pada zaman dahulu, tersebutlah sepasang kerajaan kembar di Nusa Tenggara Barat, yaitu Kerajaan Daha dan Kerajaan Keling. Dikatakan kerajaan kembar karena kedua kerajaan tersebut dipimpin oleh dua raja kakak­beradik. Raja Daha adalah sang kakak sedangkan Raja Keling adiknya. Kedua raja tersebut sama­sama telah menikah, namun belum juga dikaruniai seorang anak. Akhirnya, mereka bersepakat untuk pergi bernazar di puncak Bukit Batu Kemeras yang terletak di antara kedua kerajaan mereka. Pada hari yang telah ditentukan, Raja Daha dan Raja Keling datang ke puncak bukit tersebut untuk menyampaikan nazar mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Setibanya di sana, Raja Keling yang terlebih dahulu menyampaikan nazarnya.

“Oh, Tuhan! Jika hamba dikaruniai seorang anak, hamba akan membawa daun sirih ke tempat ini!” ucap Raja Keling dengan penuh kayakinan. Mendengar nazar adiknya itu, Raja Daha tersenyum seraya bertanya, “Hanya itukah nazarmu, Adikku? Apakah para dewa akan mengabulkan permintaanmu dengan nazarmu yang sangat ringan itu?”

“Entahlah, Kakanda! Yang penting Adinda telah menyampaikan nazar ini dengan niat ikhlas,” jawab Raja Keling. Setelah itu, giliran Raja Daha yang menyampaikan nazarnya. Karena sangat berharap memiliki seorang anak, maka ia menyampaikan nazar yang cukup berat.

“Oh, Tuhan! Kabulkan permintaan hamba ini! Jika hamba dikaruniai seorang anak, hamba akan mempersembahkan seekor lembu berselimut sutera, bertanduk emas, dan berkuku perak di tempat ini!” ucap Raja Daha. Setelah menyampaikan nazar, kedua raja kakak­beradik tersebut kembali ke kerajaan masing­masing. Sebulan kemudian, masing­masing istri dari kedua raja tersebut diketahui mengandung. Betapa senang hati Raja Daha dan Raja Keling mendengar kabar gembira tersebut.

Beberapa bulan kemudian, para permaisuri itu melahirkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Istri Raja Keling melahirkan seorang anak laki­laki tampan sehari sebelum istri Raja Daha melahirkan bayi perempuannya yang cantik jelita. Selang beberapa hari kemudian, Raja Keling dan Raja Daha bersama istri dan anak beserta para pengawal mereka datang ke Bukit Batu Kemeras untuk membayar nazar. Oleh karena rasa syukur yang mendalam, Raja Keling membayar nazar lebih besar dari apa yang dia niatkan, yaitu dengan membawa seekor lembu berselimut sutera, bertanduk emas, dan berkuku perak.

Sementara itu, Raja Daha membayar nazarnya jauh lebih kecil dari apa yang dia niatkan, yaitu hanya membawa seekor lembu biasa. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, apa yang dilakukan Raja Daha tersebut merupakan suatu pantangan dan dapat mendatangkan malapetaka baginya. Ternyata, apa yang diyakini masyarakat tersebut benar­benar terjadi. Di tengah perjalanan pulang, rombongan Raja Daha tiba­tiba dihadang oleh angin puting beliung. Angin itu berputar­putar dan menerbangkan putri Raja Daha. Semakin lama, angin itu semakin jauh menerbangkan sang bayi. Raja Daha dan istrinya tak kuasa menahan tangis karena kehilangan putri semata wayangnya. Sementara itu, putri Raja Daha yang diterbangkan angin itu akhirnya jatuh di sebuah taman di pinggir danau. Bayi itu kemudian ditemukan oleh sepasang suami istri penjaga taman yang bernama Pak Bangkol dan Bu Bangkol. Mereka mengambil bayi itu untuk dijadikan anak angkat dan memberinya nama Cilinaya. Waktu terus berjalan. Cilinaya pun tumbuh menjadi gadis yang cantik nan rupawan. Ia adalah gadis yang cerdas. Berbagai ilmu seperti menenun, memasak, dan merangkai bunga yang diajarkan oleh Bu Bangkol kepadanya dapat dikuasainya dengan cepat. Setiap selesai menenun, Cilinaya sering bermain sendiri di taman bunga. Suatu hari, ketika Cilinaya sedang asyik bermain di taman itu, ia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang sedang melintas di daerah itu. Rupanya, pemuda itu adalah putra Raja Keling yang bernama Raden Panji. Berawal dari pertemuan itulah hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menikah. Setelah beberapa lama tinggal di rumah Pak Bongkol, Raden Panji kembali ke Kerajaan Keling untuk memperkenalkan Cilinaya kepada kedua orang tuanya. Ketika itu, Cilinaya sedang hamil tua. Setibanya di istana, Raden Panji menceritakan semua perihal tentang diri dan keluarga Cilinaya kepada ayahandanya.

“Maafkan Nanda, Ayah! Nanda telah menikah tanpa memberitahu Ayahanda sebelumnya. Perkenalkan, ini istri Nanda, Ayah! Namanya Cilinaya. Ia adalah anak penjaga taman,” ungkap Raden Panji di hadapan ayahandanya. Mendengar cerita itu, Raja Keling merasa sangat kecewa karena putranya menikah dengan anak orang biasa. Hal itu tentu saja akan mencoreng nama baik keluaga besar Istana Keling. Meski demikian, Raja Keling tetap menyembunyikan perasaan kecewa itu. Pada suatu hari, Raja Keling berpura­pura sakit, lalu menyuruh Raden Panji mencarikannya hati kijang ke hutan untuk mengobati sakitnya. Begitu putranya berangkat ke hutan, Raja Keling segera memerintahkan patihnya untuk menghabisi nyawa Cilinaya.

“Patih, singkirkan istri Raden Panji dari istana! Aku tidak ingin nama baik keluarga istana ini tercoreng gara­gara mempunyai menantu dari orang biasa!” seru Raja Keling.

“Baik, Baginda! Perintah Baginda segera hamba laksanakan,” jawab Patih istana. Bersama beberapa pengawal istana, Patih itu menangkap Cilinaya yang baru saja melahirkan seorang anak laki­laki. Setelah itu, mereka membawa Cilinaya bersama anaknya ke pantai Tanjung Menangis. Sesampainya di bawah sebuah pohon ketapang yang rindang, mereka pun berhenti. Sebelum diakhiri hidupnya, Cilinaya memeluk erat­erat putranya lalu berpesan kepada Patih dan pengawalnya.

“Dengarlah, wahai Tuan­Tuan! Jika darah saya nanti berbau amis berarti itu menandakan bahwa saya adalah anak orang biasa. Namun, jika darah saya berbau harum berarti saya putri seorang raja,” pesan Putri Cilinaya. Setelah mendengar pesan itu, Patih istana segera menghabisi nyawa Cilinaya dengan sebuah keris. Tak ayal lagi, istri Raden Panji itu pun tergeletak di tanah sambil memeluk bayinya yang sedang menangis. Darah yang menetes keluar di tubuhnya menebarkan bau yang sangat harum. Patih dan para pengawal istana sangat menyesal ketika mencium bau harum itu. Mereka menyesal karena telah menghabisi nyawa Cilinaya yang ternyata adalah seorang putri raja. Namun, apa hendak dibuat, nyawa Cilinaya tidak tertolong lagi. Mereka pun segera kembali ke istana untuk melaporkan peristiwa itu kepada Raja Keling. Sementara itu, Raden Panji bersama pengawalnya yang kebetulan melintas di daerah itu mendengar suara tangis bayi. Mereka pun segera mencari sumber suara tangis itu. Tak berapa lama kemudian, mereka menemukan seorang perempuan tergeletak sambil memeluk bayi. Raden Panji pun tersentak kaget setelah mengetahui bahwa perempuan itu adalah istrinya. Ia tak kuasa lagi menahan rasa sedih sehingga tak terasa air matanya menetes keluar dari kedua kelopak matanya.

“Oh, Tuhan! Sungguh malang nasib istriku,” rintih Raden Panji. Baru saja Raden Panji mengucapkan rintihan hatinya, tiba­tiba petir menyambar­nyambar. Di sela­sela suara petir itu terdengar suara dari langit.

“Wahai, Raden Panji! Buatlah peti untuk istrimu. Setelah itu, kamu hanyutkan dia ke laut. Atas kuasa Tuhan, kelak kalian akan bertemu kembali!” demikian pesan suara itu. Mendengar suara itu, Raden Panji segera memerintahkan para pengawalnya untuk membuat peti lalu memasukkan istrinya ke dalam peti itu. Usai menghanyutkan peti itu ke laut, Raden Panji kembali ke istana dengan menggendong putranya. Ia memberi nama putranya itu Raden Megatsih. Sementara itu, di tempat lain, istri Raja Daha sedang mandi di pantai. Ketika melihat sebuah peti hanyut terbawa gelombang, ia segera menyuruh beberapa pengawal istana untuk mengambil peti itu. Alangkah terkejutnya sang permaisuri setelah membuka peti itu. Ia melihat seorang putri cantik terbaring di dalamnya. Putri itu tidak lain adalah Cilinaya yang telah hidup kembali. Akhirnya, ia membawa Cilinaya ke istana dan mengangkatnya sebagai anak.

Beberapa tahun kemudian, Raja Daha mengadakan pesta sabung ayam di istana. Raja Daha mempunyai seekor ayam jantan sangat tangguh yang belum pernah terkalahkan. Pada pesta kali ini, Raja Daha mempertaruhkan separuh harta kekayaannya. Peserta dari berbagai penjuru negeri pun berdatangan untuk mengalahkan ayam jagoan Raja Daha, tak terkecuali Raden Megatsih yang telah beranjak dewasa. Putra Raden Panji itu juga mempunyai ayam yang sakti. Saat yang dinanti­nantikan oleh seluruh rakyat Keling pun tiba. Pesta sabung ayam itu segera dimulai. Pesta itu sangat meriah. Para penonton bersorak­sorai menyaksikan pertarungan ayam­ayam aduan tersebut. Sudah puluhan ayam yang telah beradu, namun belum seekor ayam pun yang mampu mengalahkan ayam jagoan Raja Daha. Kini, giliran ayam Raden Megatsih yang akan beradu dengan ayam Raja Daha. Rupanya, ayam Raden Megatsih sangat sakti sehingga dapat mengalahkan ayam Raja Daha dengan mudah. Setelah memenangkan pertarungan itu, ayam Raden Megatsih berkokok.

“Do do Panji kembang ikok Maya”,

Artinya: “Ayahku Panji, Ibuku Cilinaya.” Cilinaya yang mendengar dan mengerti maksud kokok ayam itu segera memeluk Raden Megatsih.

“Oh, Putraku! Ketahuilah, aku ini Ibumu, Cilinaya,” ungkap Cilinaya. Raden Megatsih membalas pelukan ibunya dengan erat. Rasa haru pun menyelimuti hati kedua ibu dan anak itu. Setelah itu, Raden Megatsih pulang menemui ayahnya dan menceritakan pertamuannya dengan sang ibu. Alangkah bahagianya hati Raden Panji mendengar berita gembira itu. Tanpa membuang­buang waktu, Raden Panji bersama putra dan kedua orang tuanya segera ke istana Kerajaan Daha untuk menemui Cilinaya. Di hadapan Raja Daha dan seluruh keluarga istana Daha, Raden Panji menceritakan semua kisah hidupnya sehingga terungkaplah semua rahasia yang tidak mereka ketahui selama ini. Raja Daha pun mengerti bahwa Cilinaya adalah putrinya yang dulu diterbangkan angin dan ditemukan oleh si penjaga taman. Demikian pula Raja Keling baru menyadari bahwa ternyata menantunya yang pernah ia bunuh itu adalah seorang putri raja yang merupakan kemenakannya sendiri. Ia pun meminta maaf kepada Cilinaya atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Akhirnya, dengan perkawinan Raden Panji dari Kerajaan Keling dengan Putri Cilinaya dari Kerajaan Daha, maka semakin eratlah hubungan kekerabatan antara kedua kerajaan tersebut. Raden Panji dan Cilinaya pun hidup bahagia bersama seluruh keluarganya.

Demikian cerita Cilinaya dari daerah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas di antaranya adalah akibat buruk dari sifat tidak menepati janji. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Raja Daha yang tidak memenuhi syarat janjinya ketika membawa nazarnya. Akibatnya, putrinya yang masih bayi diterbangkan angin puting beliung sehingga mereka harus berpisah, walaupun pada akhirnya mereka bertemu kembali. Pesan moral lainnya adalah bahwa hendaknya kita tidak meremehkan orang lain sebelum mengenal lebih dalam tentang diri orang itu. Sifat ini terlihat pada Raja Keling yang mengira Cilinaya berasal dari keluarga orang biasa.

 

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/204-Cilinaya

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu