Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Sulawesi Barat Mandar
Cerita Rakyat Mandar ( Karake’ lette )
- 6 Januari 2021

Dahulu kala kerajaan Balanipa, Mandar, Sulawesi Barat tengah dilanda petaka. Bala tentara kerajaan Gowa menyerang dengan jumlah pasukan yang besar. Sementara Balanipa hanya memiliki sedikit pasukan perang mengingat Balanipa hanyalah kerajaan kecil yang selama ini hidup dengan damai, tanpa ada peperangan. Setelah melalui berbagai musyawarah, diputuskanlah untuk diadakan sayembara agar para pemuda bersedia menjadi prajurit. Kelak jika kemenangan sudah di tangan, mereka akan mendapatkan hadiah yang tidak sedikit jumlahnya. Pengumuman segera disebarkan ke seluruh pelosok negeri. Semua pemuda di wilayah Balanipa ikut ambil bagian. Tak hanya tertarik pada hadiah yang dijanjikan, mereka juga tergerak untuk membela tanah airnya dari serangan musuh.

Di suatu kampung, di lereng gunung, tinggallah seorang laki-laki setengah baya yang cacat kakinya sehingga tidak bisa berjalan. Dia juga ingin mengikuti sayembara itu. Para pemuda di sekitarnya tertawa mengejek. Mereka mengatakan bahwa tidak mungkin lelaki tua itu mengikuti sayembara, mengingat sayembara itu hanya untuk para tobarani (pemberani). Bukan untuk lelaki tua yang cacat kedua kakinya. Mendengar ejekan tersebut lelaki tua itu diam saja. sepertinya, dia tak mungkin mengikuti sayembara itu. Apalagi ikut pasukan perang melawan kerajaan Gowa. Ketika dia menyampaikan niatnya untuk mendaftarkan diri kepada punggawa Balanipa, jawaban yang sama pun dia terima. Punggawa kerajaan juga mengejeknya dan menyuruh dia kembali ke rumah karena nanti malah akan merepotkan pasukan yang lainnya. Akhirnya lelaki tua itupun pulang dan tidak jadi mengikuti sayembara tersebut.

Sayembara pun digelar. Dipilihlah pemuda-pemuda yang kuat, tangkas dan gagah berani untuk bergabung dengan pasukan Balanipa. Mreka diatih dengan berbagai keterampilan pedang dan strategi perang. Setelah persiapan secukupnya, mereka segera akan diberangkatkan ke medan perang. Dengan menggunakan bermacam-macam senjata, seperti tombak, pedang dan panah. Mereka berangkat ke Teluk Mandar tempat bala tentara Kerajaan Gowa akan mendarat.

Akhirnya hari itu tiba. Tampak pasukan Kerajaan Gowa datang dari laut hendak merapat ke dermaga pelabuhan Mandar. Pasukan Balanipa segera bersiap. Ketika pasukan Kerajaan Gowa mulai turun dari kapal, serentak pasukan Balanipa menyerang. Terjadilah pertempuran sengit. Mereka saling serang dengan senjata andalannya. Pasukan Balanipa bertempur dengan gagah berani. Keinginan membela tanah airnya dari serangan musuh semikian kuat. Deikian juga pasukan dari Gowa yang dipimpin sendiri oleh Raja Gowa. Mereka begitu berhasrat untuk menguasai kerajaan Balanipa.

Oleh karena jumah pasukan yang jauh lebih banyak, lebih kuat, dan lebih terlatih, pasukan Kerajaan Gowa mulai menguasai keadaan. Prajurit dari Balanipa mulai kocar-kacir. Banyak pemuda-pemuda yang gugur mempertahankan tanah airnya. Pada akhirnya, Panglima Perang Kerajaan Balanipa memutuskan untuk mundur ke Kota Raja, lalu melapor ke Raja Balanipa, kemudian menyusun strategi berikutnya. Sementara itu, Raja Gowa sangat senang karena telah memeperoleh kemenangan di Teluk Mandar. Untuk sementara dia memutuskan beristirahat dulu sebelum menyerang kota Raja Balanipa.

Raja Balanipa yang mendengar laporan panglima perangnya sangat gusar. Pasukannya telah kalah dan begitu banyak pemuda yang gugur di medan perang. Sementara itu tak banyak agi pemuda yang bisa diandalkan untuk berperang. Bagaimana caranya utnuk dapat mengalahkan pasukan kerajaan Goawa yang begitu kuat? Bagaimanapun, dia takkan menyerah. Lebih baik mati daripada menyerahkan tanah Mandar ke orang Gowa. Pada saat genting itu muncullah lelaki dengan cacat kaki menghadap Raja Balanipa.

Di hadapan raja, lelaki tersebut mengenalkan dirinya dengan nama I Karake’lette dan bermaksud ingin ikut berperang melawan Raja Gowa. Raja yang mendengar, tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin oran gcacat seperti itu dapat berperang melawan musuh yang begitu kuat. Namun I karake’lette kelihata bersungguh-sunggu ingin membantu raja Balanipa. Tak tampak keraguan di wajahnya. Raja lalu menanyakan apa yang di inginkan lelaki tersebut jika ia menang melawan Raja Gowa. I karake’lette tidak meminta apapun, dia hanya ingin menunjukkan bakti dan cintanya kepada tanah Balanipa.

Akhirnya Raja Balanipa setuju. Berangkatlah I Karake’lette ke Teluk Mandar. Sesampainya di sana, dia menyelinap masuk ke atas kapal yang ditumpangi oleh Raja Gowa yang tengah berpesta pora. Dia segera mendekat ke singgasana Raja Gowa. Raja Gowa dan pengawalnya terkejut melihat kehadiran I Karake’lette. Di hadapan Raja Gowa I Karake’lette menantangnya untuk bertanding. Jika Raja Gowa menang, maka dia dapat mengambil seluruh isi kerajaan Balanipa. Namun, jika tidak, Raja Gowa harus segera angkat kaki dari wilayah Balanipa dan tidak boleh kembali lagi ke tanah Balanipa.

Raja Gowa sangat marah mendengar tantangan tersebut. Namun dia tidak menolak tantangan itu. Di pikirnya lelaki cacat itu tak mungkin memenangkan pertarungan apapun melawannya. I Karake’lette segera mengeluarkan dua buah jeruk nipis dan sebilah keris dari sakunya. Jika Raja Gowa dapat membelah dua jeruk nipis yang di lemparkan I Karake’lette maka raja Gowa yang menjadi pemenang. Namun, jika I Karake’lette yang berhasil membelah dua jeruk tersebut maka dirinyalah yang menjadi pemenang. Raja Gowa setuju dengan aturan main pertarungan itu.

Seketika i Karake’lette melemparkan jeruk nipis itu dan disambut ayunan keris Raja Gowa. Namun sayang, sabetan keris meleset, tidak mengenai jeruk nipis itu sama sekali. sebaliknya lemparan jeruk nipis dari Raja Gowa bisa ditebas oleh I Karake’lette dan terbeah jadi dua. Raja Gowa tahu dia telah kalah. Pertarungan tadi telah dimenangkan oleh I Karake’lette. Raja Gowa sangat marah, dia ingkar janji, lalu menyerang I Karake’lette. I Karake’lette menghindar dengan gesit. Dia berbalik menyerang sehingga Raja Gowa tertusuk oleh keris I Karake’lette dan tewas seketika.

I Karake’lette segera keluar kapal dan kembali ke Kota Raja Balanipa. Sementara itu, pasukan Kerajaan Gowa yang kehilangan rajanya ketakuan dan segera angkat kaki dari Teluk Mandar. Sesampainya di kota I Karake’lette disambut meriah oleh rakyat Kerajaan Balanipa dan rajanya. Mereka berterima kasih karena telah diselamatkan oleh I Karake’lette, seorang lelaki cacat kaki yang ternyata punya kesaktian yang tidak terduga. Sebagai hadiah Raja Balanipa mengangkat I Karake’lette menjadi punggawa kerajaan dan memberikan sebidang tanah yang luas untuk I Karake’lette dan anak cucunya

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu