Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Nusa Tenggara Barat Lombok
Cerita Rakyat: Cupak dan Gurantang
- 21 Februari 2021

Cupak Gerantang adalah satu dari sekian cerita rakyat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok. Cerita rakyat Gumi Sasak yang semakin hari semakin memudar karena “serangan” modernisasi dan juga karena kurangnya kepedulian. Berceritakan tentang kakak adik yang bertentangan sifat. Dua tokoh yang pasti ada pada setiap cerita rakyat di Nusantara ini, dua karakter yang pasti ada dalam hidup ini. Cupak dan Gerantang. Antagonis dan protagonis.

Oleh: Hubbi S. Hilmi

Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UNS Surakarta Jawa Tengah

Cupak dan Gerantang dua orang yang sangat berbeda. Cupak seorang kakak berperawakan tambun dan tinggi besar, licik, rakus, pendengki, suka berbohong dan mencuri menjadi sifatnya. Wajahnya pun jelek dan seram, tutur katanya kasar dan tidak sopan. Gerantang seorang adik berperawakan tegap namun luwes, tutur katanya halus dan sopan, berwajah tampan nan gagah, baik, jujur dan pemaaf menjadi sifatnya.

Kedengkian dan iri hati yang menyelimuti hati Cupak membuatnya dendam dan berusaha membunuh adiknya, Gerantang. Namun sang adik terus saja memaafkan apa pun yang telah dibuat si Cupak untuk menyingkirkannya. Mereka berdua hidup di sebuah negara yang bernama Daha Negara yang dipimpin oleh Datu Daha sebagai rajanya.

Datu Daha mempunyai seorang putri yang sangat cantik Dewi Sekar Nitra namanya. Suatu ketika sang putri raja diculik oleh seorang raksasa yang sangat jahat, Dewi Sekar Nitra dikurung dalam sebuah sumur tua yang sangat dalam. Raja memberikan sayembara, bagi siapa yang menyelamatkan sang putri, maka ia akan dinikahkan dengan sang putri dan akan menjadi pewaris tunggal kerajaan. Terdengar oleh Cupak sayembara itu, ia mengajak adiknya Gerantang untuk mengikuti sayembara tersebut.

Dengan bantuan kedua patih dari kerajaan Daha Negara, mereka berdua diantar ke belantara tempat sang raksasa tinggal. Cupak sesumbar bahwa ia akan mengalahkan raksasa seorang diri, si adik pun memperingatkannya agar tak sombong. Mendengar suara sang raksasa mendengkur si Cupak gemetar dan kencing di celana, namun karena sudah terlanjur sesumbar, ia memberanikan diri melawan raksasa sendirian. Ia tersungkur dan kalah, melihat kakaknya tersungkur, Gerantang dengan sigap membantu kakaknya dan melawan sang raksasa. Raksasa tersungkur, pingsan dan kalah. Cupak melihat kesempatan emas itu langsung membunuh raksasa dengan sebuah keris yang diberikan Datu Daha sebelum mereka berangkat menuju hutan. Raksasa mati dengan keris Cupak menancap di dada besar nan bidangnya.

Sumur itu dalam sekali adikku, kau tak mau kan membiarkan kakakmu ini yang masuk ke dalamnya? Begitu tutur Cupak kepada Gerantang. Gerantang pun paham, ia langsung menuruni sumur tempat Dewi Sekar Nitra disembunyikan oleh sang raksasa. Dengan bantuan seutas tali, ia menuruni sumur itu seorang diri, ia terkagum melihat kecantikan sang putri raja yang sedang memeluk erat lututnya itu. Setelah memperkenalkan diri, ia berteriak ke arah Cupak yang telah menunggu di permukaan sumur, Cupak dengan sigap dan penuh semangat menarik putri raja melalui seutas tali itu. Gerantang tinggal sendiri di dalam sumur, kalau saja aku menarik Gerantang ke atas, maka ia akan dinikahkan dengan putri, karena ia yang telah berani memasuki sumur, mengalahkan raksasa dan tentu saja ia lebih tampan daripada aku, siasat si Cupak. Cupak pun meninggalkan Gerantang di dalam sumur dan menutup permukaan sumur dengan batu yang sangat besar.

Cupak menuju istana bersama putri, sang raja Daha Negara memenuhi sayembaranya, Cupak senang bukan kepalang karena akan dinikahkan dengan putri raja. Sang putri memberikan kesaksian bahwa Gerantang lah yang menyelamatkannya. Cupak marah dan menantang patih kerajaan beradu Perisean (kesenian khas pulau seribu masjid), untuk membuktikan kebenaran ucapannya bahwa ia sendirilah yang menyelamatkan putri raja.

Patih kalah, Cupak semakin sesumbar. Begawe beleq (pesta besar-besaran) pun digelar di halaman istana, menandakan akan berlangsungnya sebuah pesta pernikahan. Gerantang berhasil keluar dari sumur tua itu dengan usaha, kesabaran dan pertolongan Tuhan. Ia bergegas menuju istana. Melihat kehadiran adiknya yang masih hidup itu, Cupak marah dan menantang Gerantang untuk berduel Perisean, membuktikan siapa yang telah menyelamatkan putri raja. Gerantang sebenarnya mengalah, namun Cupak memaksa dan menganggap sikap mengalah Gerantang ialah sebuah penghinaan, maka Gerantang menerima tantangan itu.

Cupak kalah hanya dengan beberapa kali pantokan penjalin (pukulan rotan), ia tersungkur. Melihat kejadian itu, sang putri membenarkan bahwa Gerantang lah yang menyelamatkannya. Cupak seketika dikepung oleh prajurit Daha, ia hendak dibunuh. Saat Cupak hendak dibunuh, Gerantang meminta raja untuk mengampuni kesalahan kakaknya itu. Atas permintaan Gerantang itu Cupak pun terampuni, namun sebagai hukuman ia dibuang jauh dari istana, sementara itu Gerantang dinikahkan dengan putri raja dan menjadi pewaris tunggal kerajaan Daha Negara. Mereka hidup berbahagia sampai akhir hayat.

Belajar dari Gerantang

Kejahatan pasti akan kalah dengan kebaikan, kira-kira seperti itulah tujuan adanya cerita rakyat yang selama ini kita dengar atau baca dalam kehidupan sehari-hari. Sikap dan sifat yang ditunjukkan oleh Gerantang tersebut mungkin bisa menjadi salah satu pertimbangan untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karakter dari Cupak lah yang harus kita hindari bersama, sikap sombong dan licik hanya akan menghasilkan sebuah kesengsaraan yang berkelanjutan. Jika setiap orang memiliki karakter seperti Gerantang, sudah bisa dipastikan kita tak lagi di “dunia” namun di “surga dunia”.

Cupak dan Gerantang, satu cerita rakyat dari sekian ribu bahkan berjuta-juta jumlahnya di Indonesia. Cerita rakyat yang setiap daerah mesti memilikinya, cerita rakyat yang sudah seharusnya dijaga para generasi. Cerita rakyat bukan hanya berfungsi sebagai sebuah hiburan semata, namun dibalik menghiburnya itu kita harus peka terhadap apa yang disampaikannya. Menggerakkan teaterikal dengan tema-tema cerita rakyat ini mungkin dan memang sudah seharusnya untuk dilakukan di mana pun, oleh siapa pun dan kapan pun. Tak hanya menunggu momentum, namun juga mungkin bisa dilakukan beberapa kali dalam sebulan.

Peran generasi bangsalah yang harus turun tangan dalam menghadapi “serangan” globalisasi yang sudah tak terhitung dampaknya bagi kehidupan sosial masyarakat Nusantara, khususnya dalam pelestarian cerita rakyat seperti Cupak Gerantang. Mungkin kita semua setuju bahwa dengan membentuk komunitas-komunitas dalam masyarakat menjadi wadah “curhatan” cerita-cerita rakyat seperti itu. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat ini, mungkin juga bisa kita manfaatkan untuk menebar “benih-benih” kecintaan dan kebanggaan terhadap apa yang kita miliki, pemanfaat sosial media untuk memopulerkannya, misalnya.

Mungkin tak adil rasanya jika membebankan semuanya hanya pada ruang lingkup komunitas yang didominasi para generasi muda. Masyarakat juga hendaknya mengambil peran, semisal para tokoh masyarakat atau tetua kampung. Para tetua kampung hendaknya menjadi salah satu “dewan penasihat”, dan bahkan sangat mungkin bisa menjadi salah satu sumbernya, karena cerita-cerita seperti Cupak Gerantang lebih banyak diketahui secara detail oleh para tetua kampung di sekitar kita.

Peran pemerintah, tentu saja sangat diharapkan dalam mendukung kegiatan-kegiatan pelestarian budaya seperti ini. Menyelenggarakan sebuah event, semisal teatrikal yang bertemakan cerita rakyat pasti banyak kendala, salah satu masalah utamanya ialah kendala biaya. Kita percaya dan sangat yakin pastilah ada peraturan yang sudah mengaturnya, namun mungkin pemerintah bisa lebih “getol membakar” semangat anak muda dengan fasilitas dan “janji” masa depan yang lebih mumpuni. Solusi lain, misalnya dari dalam dunia pendidikan, menguatkan pelajaran bermuatan lokal sampai tingkatan tertinggi misalnya, mungkin bisa untuk kita pertimbangkan bersama sebagai upaya untuk melestarikannya.

Mari bersama bangun generasi Indonesia dengan kecintaan dan kebanggaan Nusantara. Tak perlu membanggakan budaya luar, karena kita sudah memiliki segalanya bahkan lebih dari mereka. Revolusi bukanlah “berbual”, tapi tindak nyata. Tak perlu sibuk mencari solusi untuk merevolusi mental, karena sepelosok Nusantara dari zaman dahulu kala sudah memiliknya.

Sumber : https://satelitpost.com/redaksiana/cupak-ge https://www.sasak.org/cupak-dan-gerantang-cerita-rakyat-gumi-sasak/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu