Di sebuah dusun hiduplah sebuah keluarga petani kecil, dengan dua orang anak, yaitu seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Anak perempuan bernama Rambu Kahi dan anak laki-laki bernama Umbu Delu. Mata pencaharian mereka hanyalah berkebun. Ketika Umbu Delu berumur 1 tahun, ibu Umbu Delu pergi untuk selamanya mendahului mereka. Tinggalah ayah bersama kedua anaknya Rambu Kahi dan Umbu Delu. Tetapi, tiga bulan kemudian ayah mereka mengikuti jejak almarhumah, meninggalkan mereka. Rambu Kahi berumur tiga tahun dan adiknya Umbu Delu berumur satu tahun. Hari demi hari dilalui tanpa ada orang yang menghiraukannya apalagi menjenguknya. Makanan yang ditinggalkan oleh ayah dan ibu mereka hanyalah sebakul nasi yang ditumbuk oleh Rambu Kahi.
Lama kelamaan padi itupun habis, Rambu Kahi bingung untuk minta pertolongan kepada siapa? Setiap malam jika sudah selesai makan malam Rambu Kahi mendengar piring yang dicuci, ia berdiri berdiri tepat di tempat pencucian piring, ia mengangakan mulutnya ia telan remah nasi dan air cucian piring. Ia tidak melupakan adiknya . Demikianlah dari hari ke hari sampai Rahi Kahi dan Umbu Delu bertambah besar. Makin lama paras Rambu Kahi bertambah jelita. Kecantikannya tersohor, namun belum ada yang bisa meluluhkan hati Rambu Kahi.Begitulah seterusnya hingga pada suatu saat, datanglah seorang jejaka yang menyukai Rambu Kahi. Lalu, merekapun menikah dan Rambu Kahi ikut dengan suaminya meninggalkan Umbu Delu. Delapan tahun kemudian, dalam kesendiriannya, Umbu Delu mulai berpikir bagaimana cara untuk bertemu untuk kakaknya yang sudah berumah tangga. Ia berangkat meninggalkan gubuknya dan pergi mencari saudara perempuannya yang tidak jelas dimana arahnya. Ia mencari saudara perempuannya dengan Gasing Ajaib miliknya.
Perjalanan panjang ia lalui demi mencari kakaknya, yang walaupun diperjalanan mengalami banyak halangan dan rintangan, ia tidak putus asa. Terkadang bila bertemu orang yang sedang bermain gasing, ia diajak untuk bermain gasing bersama-sama. Dalam setiap permainan, gasing milik Umbu Delu selalu menang. Sampai-sampai ia dikeroyok dan gasing ajaibnya dirampas darinya. Dengan penuh kesabaran, ia mengikuti teman-temannya agar tahu kemana gasing itu dibawa. Semalam-malaman, Umbu Delu dengan perasaan sangat sedih, ia menangis agar gasing itu kembali, karena hanya gasing itulah yang dapat mempertemukannya dengan saudara perempuannya. Tangisan itu sangat memilukan hati para warga kampung. Maka, penghuni kampung bersepakat untuk mengembalikan gasing miliknya maksud agar ia dapat melanjutkan perjalanannya. Setibanya Umbu Delu di depan pintu kampung tempat yang ditunjukkan gasingnya yaitu dimana tempat kakaknya berada.
Dari kejauhan Nampak seorang ibu yang sedang menenun kain setengah jadi. Ibu itu adalah Rambu Kahi, namun Umbu Delu tidak mengenalnya. Karena keasyikkan menenun kain, ia tidak tahu apa yang dilakukan adiknya dibelakang yang bersyair adat lalu memutar gasingnya. Setelah bersyair, gasing itu diputar dan diarahkan tepat dimana Umbu Delu mengarahkannya. Kain yang sementara ditenun oleh Rambu Kahi dirobek dan dibuang jauh-jauh oleh gasing itu. Melihat hal itu, Rambu Kahi marah dan geram. Dipanggilnyalah suaminya untuk menangkap anak itu dan kemudian diikat pada tangga sebuah rumah. Saat itu umur Umbu Delu 12 tahun. Ia disiksa, dipukul, digosok, dengan benda-benda gatal. Ia diperlakukan sangat kejam. Umbu Delu menangis dengan ratapan memilukan hati. Namun demikian tidak ada yang mendengarkan piluan hatinya. Demikian setiap malam ia menangis. Tetapi semua penghuni kampung tidur lelap. Namun ada seorang yang sudah setengah lanjut yang selalu mendengarkan ratap tangisnya.Oleh karena itu, ia memberitahukan ke Rambu Kahi agar tidak terlalu cepat untuk tidur agar bisa mendengarkan ratap tangis Umbu Delu. Mendengar hal itu, Rambu Kahi berusaha tidak cepat tidur.
Namun, usaha itu berlangsung sia-sia, ia selalu cepat mengantuk dan tidur. Karena itu ibu itu, menganjurkan Rambu Kahi nuntuk memotong kukunya sampai ke daging, agar dia dapat bertahan karena sakit yang dialami karena kuku itu. Ternyata saran ibu itu benar, dan Rambu Kahi mendengarkan ratapan Umbu Delu dari awal sampai akhir.
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tah...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi bagi kami, hut...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.