Teman-teman mari kita mengenal sebuah dongeng dari Pulau Sawu yang berjudul "Menghilangnya Dua Putra Raja." Dongeng ini banyak diceritakan oleh orang-orang tua masyarakat Timor, Rote, Sumba dan Sawu. Biasanya mereka bercerita kepada anak-anaknya ketika waktu senggang. Dongeng "Menghilangnya Dua Putera Raja," adalah sebagai berikut. Dahulu kala hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin. Keluarga itu terdiri dari pasangan suami -istri dua orang anak yang masih kecil. Kehidupan keluarga hanya mengandalkan sebidang tanah warisan yang tidak luas. Tanah warisan itu sudah ditanami turun temurun, maka tanah itu sudah tidak subur lagi. Untuk membantu orang tuanya, kedua anak yang masih kecil itu bekerja. Pekerjaan yang mereka lalukan adalah menjadi pengembala kambing milik raja. Pada suatu sore, ketika mereka hendak mengandangkan kambing -kambing milik raja, turun hujan yang sangat lebat. Keduanya berlari untuk berteduh di sebuah pondok reyot. Pondok itu berantakan, diterjang...
Pada waktu lalu di Kalbano, suatu tempat yang terletak di pantai selatan pulau Timor, berdiam seorang petani, Taus Taopan namanya. Selain bertani ia pun sewaktu-waktu pergi mengail ikan. Pada suatu hari ia pergi mengail ikan dipantai laut Kalbano. Kail yang sedang diturunkan ke dalam air, tidak berapa lama terasa umpannya dimakan ikan. Tali kail segera ditarik tetapi sayang sekali kail tersebut putus sehingga mata kailnya tertinggal di dalam air. Ia berpikir bahwa pasti ia akan yang memakan umpannya itu adalah ikan yang besar. Setelah diselidiki maka ternyata yang sedang menelan kailnya itu adalah seekor buaya besar yang bernama Besimasi. Ia sangat susah karena kailnya hanya sebuah itu saja. Ia mencari cara-cara apa yang harus dilakukan nanti agar mata kailnya itu ditemukan kembali. Keesokan harinya ia kembali ke pantai, kalau-kalau ikan yang menelan kailnya itu naik kedarat. Di pantai, didapatinya seorang perempuan itu katanya: "Hai perempuan, apa yang sedang kau kerjakan?" Jawab p...
Leu adalah nama seorang pemuda yang miskin. Ibu dan bapaknya meninggal selagi ia masih kecil. Tinggalnya disebuah desa yang terpencil, jauh dari masyarakat ramai. Sejak ditinggalkan orang tuanya ia hidup sebatang kara. Untuk menyambung hidupnya sehari-hari sebagian besar tergantung dari penghasilan orag-orang disekitarnya, caranya ialah dengan meminta bantuan Leu seperti menjaga anak-anak, membersihkan kebun dan lain-lain pekerjaan sesuai dengan kemampuan Leu sendiri. Sebagai imbalannya ia diberi sekedar makanan dan minuman untuk hari itu dan sedikit beras atau jagung. Apabila tidak ada orang yang meminta bantuan tenaganya maka ia pergi ke sungai untuk menangkap udang. Ini juga untung-untungan ada kalanya ia tidak memperoleh seekorpun.Ia pulang dengan tangan hampa. Ada kalanya ia memperoleh langkah kanan. Kini sudah sebulan penuh Leu tidak lagi mendapat panggilan dari orang-orang sekampungnya yang selama itu sering meminta bantuannya. Jadi selama itu pula pekerjaan sehari-hariny...
Pada jaman dahulu berdiamlah seorang nenek disebuah kota. Kota tersebut diperintah seorang raja. Pekerjaan yang dilakukan nenek sehari-hari adalah mengambil kayu api dari hutan dan dijualnya ke kota. Pekerjaan mencari dan mengumpulkan kayu di hutan memakan waktu cukup lama. Oleh sebab itu, terlebih dahulu harus mempersiapkan makanan seperlunya sebelum ia pergi. Pada suatu hari, sekembalinya ia dari hutan, didapatinya makanannya sudah habis sebagian. Ia tidak mengetahui sama sekali siapa sebenarnya yang memakan makanan itu. Keadaan ini berlangsung berturut-turut selama tiga hari. Timbul kecurigaan di dalam hatinya. Keesokan harinya yaitu hari keempat ketika pulang dari hutan ia meletakkan kayu hasil pencahariannya itu agak jauh dari rumahnya. Perlahan-lahan ia melangkah menuju ke rumahnya, di sana didapatinya seekor ular kecil sedang memakan makanan yang telah dipersiapkannya. Makanan itu tersimpan didalam alat penyimpanan makanan yang terbuat dari daun lontar dan biasa...
Suami-isteri Seuk Lilin Morin dan Meli Eki mempunyai dua orang putera yang sulung bernama Meli Eki Kawaik dan yang bungsu bernama Meli Eki Kiik. Keduanya tidak mempunyai saudara perempuan. Itulah sebabnya mereka ingin merantau untuk mencari seorang gadis yang kelak kemudian akan dijadikan isterinya. Untuk maksud itu ke duanya harus meninggalkan orang tuanya menuju ketempat perantauan yang bagi mereka sendiri belum jelas dimana. Dalam perjalanannya itu, tibalah mereka di suatu tempat yang disebut Rai Husar. Di tempat ini Meli Eki mengetuk dengan ujung jari kakinya maka tiba-tiba terbukalah Raik Husar itu. Ternyata di tempat yang terbuka itu, terdapat sebuah keranjang. Tali keranjang itu besar lagi panjang, sementara itu Rai Husar yang terbuka itu, sangat dalam sehingga sulit dijangkau tanpa bantuan sesuatu alat untuk mencapai dasarnya. Setelah melihat alat tersebut maka Mane Ikun atau Meli Eki Kiik mengambilnya dan diserahkan kepada kakaknya Mane Ulun atau Meli Eki Kawaik, sambil...
Dalam sebuah kampung yang bernama We-Kto-Talaka tumbuhlah sebuah pohon beringin besar tepat di depan istana dari raja Malaka. Daunnya sangat rindang. Pohon beringin itu biasa disebut dengan nama Hali Malaka. Suatu ketika hinggaplah seekor ayam betina pada salah satu cabang beringin itu. Ayam betina itu dikirim oleh Nai Maromak atau Yang Mahakuasa ke dunia ini. Bertepatan pula pada waktu itu raja sedang berjalan-jalan menghirup udara segar di bawah pohon beringin tersebut. Setelah dilihatnya ayam betina itu, raja Malaka langsung mengambil sumptnya untuk menyumpit ayam betina itu. Sementara raja mencari-cari tempat yang cukup baik untuk menyumpitnya, tiba-tiba raja mendengar suatu suara yang mengatakan: "Hai tuan raja Malaka, janganlah engkau membunuh saya dengan sumpitmu, sebaiknya marilah kita mengadakan perundingan lebih dahulu." Kemudian ayam betina itu menruskan pembicaraannya demikian. "Tuan raja jangan memubunh saya, oleh karena saya ini adalah utusan dari Yang Mahakuasa da...
Flobamora merupakan akronim dari 3 pulau besar di Nusa Tenggara Timur yaitu Flores, Timor dan Sumba Yang memiliki arti yaitu, seorang perantau mengenang kampung halaman nya yang berada di antara ketiga pulau besar tersebut Lirik: flobamora tanah air ku yang tercinta........ tempat beta ... di besarkan ibunda meski beta lama jauh di rantau orang beta inga mama janji pulang e Reff Biar pun tanjung teluknya jauh tapele nusa ku tapi slalu terkenang di kalbu ku u.....u...u.... Anak timor main sasando dan ma nyanyi bolelebo rasa girang dan badendang pulang e......... Hampir siang beta bangun sambil managis mengenangkan flobamora lelebo................. rasa dingin beta ingat di pangku mama air mata basa pipi sayang e............
Pada dahulu kala di puncak gunung Kelimutu atau yang biasa disebut Bhua Ria (hutan lebat yang selalu berawan), terdapat sebuah desa yang di kepalai oleh Konde Ratu. Dalam daerah tersebut, terdapat dua tokoh yang sangat disegani, yaitu Ata Polo si tukang sihir jahat dan kejam yang suka memangsa manusia, dan Ata Bupu yang dihormati karena sifatnya yang berbelas kasih serta memiliki penangkal sihir Ata Polo. Walaupun memiliki kekuatan gaib yang tinggi dan disegani masyarakat, keduanya berteman baik serta tunduk dan hormat kepada Konde Ratu. Ata Bupu dikenal sebagai petani yang memiliki ladang kecil di pinggir Bhua Ria, sedangkan Ata Polo lebih suka berburu mangsa berupa manusia di seluruh jagat raya. Pada masa itu, kehidupan di Bhua Ria berlangsung tenang dan tenteram, sampai kedatangan sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) yang meminta perlindungan Ata Bupu karena ditinggal kedua orang tuanya ke alam baka. Karena sifatnya yang berbelas kasih, permintaan kedua anak yatim piatu tersebu...
Mitos lahirnya Nua Ende dapat ditelusur melalui unsur pra sejarah yang dapat dijadikan sumber penelitian. Dongeng-dongeng yang diteliti ini adalah kutipan dari karangan S.Roos “ Iets Over Ende “ dan karangan Van Suchtelen tentang onderafdeling Ende. Walaupun cerita ini tidak terperinci namun setidaknya dapat menjadi gambaran awal untuk mengkaji asal-usul orang Nua Ende di Flores, NTT. Diceritakan tahun 1872, kira-kira sepuluh turunan lalu, sudah turun dua orang dari langit yang bernama Ambu Roru (lelaki) dan Ambu Mo` do (wanita). Mereka kemudian kawin dan mendapat lima anak, tiga wanita dan dua lelaki. Satu wanita menghilang tanpa kembali lagi sementara empat anak yang lain melanjutkan turunan Ambu Roru dan Ambu Mo`do di Ende. Pada suatu hari, para nelayan asing yakni Borokanda, Rako Madange dan Keto Kuwa bersampan dari Pulau Ende ke Pulau Besar karena untuk menangkap ikan. Mereka mendapat banyak ikan yang separuhnya mereka makan ditempat dan yang sisanya akan dibawa ke rum...