Leu adalah nama seorang pemuda yang miskin. Ibu dan bapaknya meninggal selagi ia masih kecil. Tinggalnya disebuah desa yang terpencil, jauh dari masyarakat ramai. Sejak ditinggalkan orang tuanya ia hidup sebatang kara. Untuk menyambung hidupnya sehari-hari sebagian besar tergantung dari penghasilan orag-orang disekitarnya, caranya ialah dengan meminta bantuan Leu seperti menjaga anak-anak, membersihkan kebun dan lain-lain pekerjaan sesuai dengan kemampuan Leu sendiri. Sebagai imbalannya ia diberi sekedar makanan dan minuman untuk hari itu dan sedikit beras atau jagung. Apabila tidak ada orang yang meminta bantuan tenaganya maka ia pergi ke sungai untuk menangkap udang. Ini juga untung-untungan ada kalanya ia tidak memperoleh seekorpun.Ia pulang dengan tangan hampa. Ada kalanya ia memperoleh langkah kanan.
Kini sudah sebulan penuh Leu tidak lagi mendapat panggilan dari orang-orang sekampungnya yang selama itu sering meminta bantuannya. Jadi selama itu pula pekerjaan sehari-harinya hanya pergi ke sungai untuk menangkap udang. Pada suatu hari pagi-pagi benar ia bangun, alat-alat penangkap udangnya diambil dan langsung saja pergi menuju sungai sperti biasanya. Rupanya hari itu ia memperoleh langkah kiri. Dari pagi hari hingga menjelang petang tak haus mulai dirasakannya. Selagi lagi berkemas-kemas hendak pulang, tiba-tiba muncul seekor udang besar dari balik sebuah batu yang tidak jauh dari padanya. Langsung saja menjerat udang itu dan iapun berhasil menangkapnya. Langsung disimpan dalam kelerenya (sejenis keranjang yang terbuat dari daun lontar). Dengan udang yang seekor itulah ia kembali dengan sedih ke rumahnya.
Seperti biasanya Leu kembali dari menangkap udang sering disapa atau dutegur oleh orang-orang kampung yang dilewatinya untuk mampir sebentar sekedar minum nira untuk melepaskan dahaganya. Dan hal ini jarang sekali ditolak oleh Leu. Namun hari itu tidak satupun sapaan dari orang-orang yang dilayaninya. Leu hanya melambai-lambaikan tangannya, sambil berlari-lari kecil ia langsung saja pulang ke rumahnya. Setiba di rumahnya matahari hampir terbenam. Ia cepat-cepat menyalakan api dan berasnya yang masih tinggal sedikit dibuatnya bubur untuk dimakannya malam itu. Dan udang yang seekor itu dijadikan lauknya. Karena capainya barangkali, maka setelah ia selesai makan iapun tertidur dengan nyenyaknya kemudian ia bermimpi. Dalam mimpinya ia seolah-olah hari telah pagi dan ia telah menangkap udang. Sambil menangkap udang iapun bernyanyi-nyanyi kecil tanda gembiranya karena memperoleh udang yang banyak.
Dan memang benar dalam mimpinya itu ia memperolah udang yang banyak sekali dan semuanya itu ditangkapnya dengan mudah. Dalam sekejap saja kelerenya telah penuh dengan udang yang besar-besar. Iapun pulang ke rumahnya. Di tengah jalan seperti biasa ia ditegur untuk mampir sebentar untuk minum nira. Ia mendapat teguran pertama dari seorang kenalannya yang sedang menyadap lontar, katanya: "Adik Leu yang baik. Mampirlah sebentar untuk minum nira barang sedikit, kemudian baru melanjutkan perjalananmu. Nampaknya engkau gembira sekali pasti hasil tangkapanmu banyak bukan?". Demikianlah sapaan dari penyadap lontar itu. Jawab Leu: "Hari ini saya sedikit beruntung," dan dengan sikap yang ramah Leu menerima sapaan itu. Kelere yang penuh dengan udang -udang itu digantungnya diatas pagar di muka rumah penyadap lontar. Kemudian iapun masuklah. Sambil ngobrol Leu pun minum nira yang sudah disediakan. Namun dalam pada itu udang-udang Leu yang digantung di atas pagar, telah diganyang habis oleh ayam-ayam waktu Leu akan pulang dan diambil kelerenya itu ternyata telah kosong. Leu sangat marah kepada ayam-ayam itu sambil berkata: "Hai kamau bangsa ayam tidak tahu sopan santun. Mengapa udang-udang saya dimakan semuanya?. Kamu tidak mengetahui bahwa udang-udang itu dengan susah payah baru dapat menangkapnya," Leu lalu memprotes hal ini kepada pemilik-pemilik ayam itu.
Dan atas musyawarah kedua belah pihak, Leu mendapat pergantian seekor ayam jantan. Kemudian Leu pun melanjutkan perjalanannya. Belum selang beberapa lama berjalan ia ditegur: "Adikku Leu yang baik singgahlah sebentar, sudah lama engkau tidak mampir ke rumahku. Rupa-rupanya hari ini engkau bukan dari menangkap udang melainkan baru saja dari menyabung ayam." Leu menjawab: "Tidak demikian seperti katamu: Ayam ini diperoleh sebagai pengganti udang-udang hasil tangkapanku yang telah dimakannya. Setelah melalui suatu musyawarah agar saya dengan pemilik ayam itu., sambil memberikan penjelasan itu Leu pun mampirlah. Ayam pun diikat di halaman. Sementara Leu minum, seekor kucing datang menyerang ayam itu, leher ayam itu diterkam. Ayam pun matilah. Melihat perbuatan kucing itu Leu pun menjadi naik darah. Dan atas musyawarah dengan pemiliknya Leu pun mengambil kucing itu.
Leu pamit lagi dan melanjutkan perjalanannya. Lagi-lagi disapa oleh kenalannya untuk mampir sebentar. Tidak ada alasan bagi Leu untuk menolaknya dan iapun mampirlah. Kucing diikat dipinggir rumah dan Leu pun masuk ke dalam rumah. Sementara berada didalam, seekor anjing datang menyerang kucing itu. Kucing pun matilah. Akibat kejadian ini Leupun bertambah marah sambil berkata: "Hai kamu bangsa anjing, sungguh kejam kamu, mengapa kucingku ini diterkam hingga mati. Tidak tahukah kamu bahwa kucing itu diperoleh dengan susah payah? Kucing itu sebagai pengganti ayamku yang telah diterkam olehnya. Dan ayam itu juga sebagai pengganti dari udang-udangku yang telah dimakannya. Udang-udang yang dimakan itu aku peroleh dengan susah payah dari sungai yang letaknya sangat jauh dari sini."
"Baiklah saya akan mengadakan perhitungan dengan tuanmu."Dan dengan pengerttia baik dari kedua belah pihak, anjing itu menjadi milik Leu lagi sebagai pengganti kucingnya yang telah mati. Kemudian Leu pun melanjutkan lagi perjalanannya. Belum berapa lama Leu berjalan, seorang kenalan baik Leu yang paling intim memanggilnya sambil berkata : "Haikawan Leu hari ini kamu membawa anjing. Dari mana kau memperolehnya? Leu pun singgah lagi.
Anjingnya diikat di pinggir pagar rumah kenalannya itu. Sambil mengobrol Leu menceriterakan segala persoalan yang dialami hari itu, termasuk bagaimana memperoleh anjing tersebut. alam pada itu seekor babi jantan besar datang menyerang anjing itu dan anjing itupun matilah. Untuk kesekian kali Leu menjadi marah, sambil bersungut ia menceriterakan bagaimana ia memperoleh anjing itu. Musyawarah lagi antara Leu dengan pemilik bai itu, hasilnya Leu mengambil babi itu sebagai pengganti anjingnya yang telah mati. Perjalanan pun dilanjutkan lagi sambil menggiring seekor babi jantan. Lagi-lagi dalam perjalanan menuju rumahnya itu Leu ditegur oleh seorang tetangganya yang paling akrab. Tetangganya itu sedang menggembalakan kerbau-kerbaunya di dekat rumah Leu.
"Hai kawan Leu, hari ini kamu membawa seekor babi. Dari mana kamu memperoleh babi itu?". Jawab Leu. "Beginilah ceriteranya, babi itu kuperoleh sebagai pengganti anjingku yang telah mati digigitnya. Anjing itu aku peroleh sebagai pengganti kucingku yang telah diterkamnya sampai mati. Kucing itu aku dapat sebagai pengganti ayamku yang telah diterkamnya hingga mati dan ayam itu juga diperoleh sebagai pengganti udang-udangku yang telah dimakannya. Sedang udang-udang itu saya peroleh dengan susah payah dari sungai yang letaknya sangat jauh dari sini."
"Sudah adik Leu. Lupakan semua itu. Memang kamu sangat beruntung benar karena babi itu kamu peroleh sebagai pengganti hasil jerih payahmu. Ikatlah babimu itu dan marilah kita berbincang-bincang sedikit karena sudah lama sekali engkau tidak muncul di rumahku lagi."
Dengan gembira Leu mengikat babinya di bawah sebuah pohon dan mereka pun mulai mengobrol. Sementara lagi asyik mengobrol, seekor kerbau tiba-tiba saja menanduk babi itu dan perut babi itu koyaklah. Babipun mati seketika itu juga.
Hai! apa-apaan ini semua. Mengapa kerbau ini menanduk babiku lagi? Babi itu telah mati dan aku tidak memiliknya lagi. Sesuai dengan pengalaman yang sudah-sudah maka kerbau yang menanduk babi itu harus menjadi milikku sebagai penggantinya bai saya." Terjadi lagi musyawarah antara Leu dan pengembala kerbau itu. Hasilnya, kerbau itu menjadi milik Leu lagi. Degan gembira Leu menarik kerbau itu ke rumahnya. Dikatnya kerbau itu pada sebatang pohon dibelakang rumahnya. Bulan main gembiranya karena dengan mudah ia telah memperoleh seekor kerbau dengan hasil udang yang ditangkapnya hari itu. Dengan tidak diketahuinua tali pengikat kerbau itu putus. Leu tidak tahu kemana larinya kerbau itu, dicarinya kesana-kemari tidak juga bertemu. Di sebuah tikungan ia bertemu dengan seorang kakek yang d=sudah tua. Disapanya kakek tua itu dengan ramahnya. "Hai kakek yang budiman! Tolonglah saya barang kali kakek mengetahui dimana kerbauku berada, kerbau itu terlepas dari ikatannya dan sudah kucari tetap tidak juga bertemu." Kakek tua itu menjawab' "Hai anak muda. Sesungguhnya kakek dapat menolongmu menunjukkan dimana kerbau itu berada asalkan engkau mau menurutkan segala perintahku. Dan ini pun perlu pengorbanan darimu hai anak muda." Leu menjawab' "Apa saja yang kakek amanatkan akan saya lakukan tanpa keluhan apaupun asalkan kerbauku dapat ketemukan kembali."
"Sebelum kakek beritahukan dimana kerbau itu berada ada beberapa hal yang engkau harus camkan dan ingat baik-baik. Yakni bahwa engkau selalu bersedia menolong orang-orang yang susah hidupnya. Engkau tidak boleh sekali-kali memiliki barang yang diperoleh dengan cara tidak halal. Engkau tidak boleh malas bekerja serta jangan sekali-kali engkau berbuat hanya untuk menarik keuntungan bagi diri sendiri dan engkau selalu harus rendah hati meski engkau kaya dan pinter sekalipun."
"Sesudah ini semua diresapkan dalam hati maka kini pergilah engkau ke danau yang berada di lereng bukit itu. Kerbau sedang berkubang disana. Seluruh badannya terbenam dalam danau itu.
Timbalah air danau itu sampai badan kerbau itu kelihatan. Kalau sudah terlihat seluruhnya bawalah kerbau itu kerumahmu. Tetapi engkau harus menungganginya." "Terima kasih kakek yang budiman, saya akan melakukan semua pesanan itu." Iapun melanutkan perjalanan menuju danau yang ditunjukkan kakek tua itu. Benar kerbaunya ada disana. Sehari-harian ia menimba air danau itu sesuai dengan perintah kakek itu. Setelah badan kerbau itu kelihatan seluruhnya, kerbau itu dihalaunya keluar dari danau. Seperti pesan kakek, Leu pun menunggang kerbau itu dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Gembiranya bukan kepalang, karena telah menemukan kerbaunya kembali. Tiba-tiba saja kerbau itu berlari tunggang langgang sehingga tidak terkendali lagi. Leu pun jatuh tersungkur ke tanah. Karena sakitnya iapun berteriak meminta tolong. Kiranya apa yang telah terjadi? Leu bukan jatuh dari atas punggung kerbau, melainkan ia jatuh dari atas tempat tidurnya. Dan danau seperti dalam mimpinya itu bukan danau sebenarnya melainkan ia telah kencing membasahi seluruh tempat tidurnya. Setelah siuman Leu masih tergeletak di tanah, semuanya itu hanya mimpi belaka.
sumber:
Sayur sop ayam adalah salah satu masakan rumahan yang sangat populer di Indonesia khas ala Nur Kitchen . Rasanya yang ringan, segar, dan gurih membuat hidangan ini cocok disantap kapan saja, terutama saat cuaca dingin atau saat ingin makanan yang menenangkan. Selain enak, sayur sop ayam juga kaya akan nutrisi karena terdiri dari berbagai sayuran dan protein dari ayam. Bahan-Bahan Sayur Sop Ayam Berikut bahan yang perlu disiapkan: 500 gram daging ayam (potong sesuai selera) 2 buah wortel (iris bulat) 2 buah kentang (potong dadu) 1 batang daun bawang (iris) 1 batang seledri (ikat atau iris) 1 liter air Bumbu Halus: 4 siung bawang putih 1/2 sendok teh merica Garam secukupnya Bumbu Tambahan: 1/2 sendok teh gula Kaldu bubuk secukupnya (opsional) Cara Membuat Sayur Sop Ayam Rebus Ayam Didihkan air, lalu masukkan potongan ayam. Rebus hingga setengah matang. Buang kotoran atau busa yang muncul agar kuah tetap jernih. Tumis Bumbu Haluskan bawang putih dan merica, lalu...
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...