Tari Maengket terdiri dari 3 babak yaitu: Maowey Kamberu, Marambak dan Lalayaan Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada acara pengucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasil pertanian terutama tanaman padi yang berlipat ganda/banyak. Marambak adalah tarian dengan semangat kegotong-royongan (mapalus), rakyat Minahasa Bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumah dibangun maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasa daerah disebut “rumambak” atau menguji kekuatan rumah baru dan semua masyarakat kampong diundang dalam pengucapan syukur. Lalayaan adalah tari yang melambangkan bagaimana pemuda-pemudi Minahasa pada zaman dahulu akan mencari jodoh mereka. Tari ini juga disebut tari pergaulan muda-mudi zaman dahulu kala di Minahasa. Seni Tari Maengket diperkirakan sudah ada di Minahasa sejak masa sistem bercocok tanam. Tarian tradisional rakyat ini hanya dipertunjukkan pada musim panen dengan gerakan sederhana...
Pertunjukan tari adat banyuwangi yang dilakukan oleh masyarakat desa Olehsari Kec. Glagah. Kab. Banyueangi. Pertunjukan tari ini dilakuka pada 7 hari berturut-turut selama awal bulan syawal, sebagi simbolis rasa syukur tentang kedamaian dan ketentraman masyarakat desa serta melimpahnya hasil pertanian (bahan pangan) di dese tersebut. tarian ini diliputi perasaan magis dan mistis karena tak sembarang permpuan yang bisa menarikanya, konon katanya pemilihan penari seblang ditentukan oleh leluhur mereka yang ruhnya masuk kedalam salah seorang pemangku adat dan menunjuk salah seorang perempuan desa untuk menarikannya. penari seblang adalah sosok perempuan yang jujur,berhati bersih dan baik hati. kerennya lagi adalah saat seblang menari penari dirasuki ruh leluhur mereka kemudian menari sesuai dengan nyanyian sinden dengan mata terpejam. Untuk melihat kerennya silahkan datang ke kota kami BANYUWANG. banyuwangi masih punya banyak adat dan kebudayaan yang luar biasa menarik juga...
Tari Orek - orek merupakan jenis tari pergaulan, yaitu tarian berpasangan laki-laki dan perempuan yang mempunyai maksud untuk mempererat hubungan pergaulan. Tari ini mempunyai maksud untuk mewujudkan rasa syukur setelah adanya panen raya.
Kesenian " RUDAT" adalah salah satu kesenian khas desa Subang Kec. Subang Kab. Kuningan . Awal kisah tarian RUDAT ini diperkenalkan oleh penduduk subang yang menuntut ilmu agama Islam di pesantren Kuningan, sepulangnya mereka dari menuntut ilmu disana mereka juga memperkenalkan kesenian tari ini kepada warga Subang Dalam perkembangannya Kesenian Rudat ini sempat mendapat tempat di hati masyarakat Subang dan sekitarnya, apalagi pada sekitar era tahun 80-an, Rudat sempat menjadi Kesnian Favorit bagi warga masyarakat subang, bahkan pada saat itu semua kalangan sangat menyukai Rudat, dari mulai anak-anak, remaja Hingga orang Tua, hampir setiap ada peringatan hari besar keagamaan, di setiap Mushola-mushola yang berada di wilayah Desa Subang, mengadakan Kesenian Rudat. pada peringatan Isra Mi'raj misalnya, Kesenian Rudat ini selalu dilaksanakan, dan pada Isra Mi'raj di Desa Subang juga punya Ciri Khas, yaitu dengan disajikannya " WEDANG KONENG ", Papais, Buras , opak...
Bermula dari tanah Karawang, Jawa Barat, tari bajidor kahot mengombinasikan tari ketuk tilu dan jaipongan sebagai dasar gerak. Yang membedakan, tari bajidor kahot tidak mengoptimalkan bahu untuk bergerak seperti pada jaipongan dan ketuk tilu . Dalam tari bajidor kahot , pinggul, lengan, bahu, kepala, dan tangan digerakkan dengan dinamis. Langkah-langkah kaki pun menjadi bagian dari tari bajidor kahot . Para penari bajidor kahot mengenakan kebaya khas tanah Pasundan. Dengan kebaya yang didesain pas dengan bentuk tubuh, penari bajidor kahot terlihat menawan. Terlebih, pakaian yang dikenakan berwarna cerah. Tambahan aksesori berupa selendang dan kipas membuat pertunjukan tari bajidor kahot terlihat sangat indah. Gerakan-gerakan dalam tari ini terlihat dinamis, energik, seksi, dan anggun. Sering kali para penari juga berpindah-pindah membentuk formasi yang menarik. Tari bajidor kahot diciptakan pada sekitar tahun 2000. Dalam setiap pertunjukannya, tari in...
Tari kreasi baru yang diciptakan Atin Kisam, salah satu putra Bapak Kisam Jiun, pimpinan kelompok topeng Betawi Ratna Timur di Jakarta Timur. Nandak berarti menari, sedangkan Ganjen berarti genit dan lincah. Tari ini menggambarkan anak yang menginjak remaja, yang ceria, gembira, dan menuntut kebebasan
Tari Penyambutan di Inspirasi Tari Kejai yang sakral dan Agung di Tanah Rejang Tari Penyambutan adalah Tari Kreasi Baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejai. Terinspirasi oleh tari Kejai karena Suku Rejang sendiri jaman dahulu tidak mempunyai Tari Penyambutan, di jaman dahulu penyambutan tamu dilakukan dengan upacara adat. Tari Kejai adalah tarian sakral dan agung, sehingga sangat pantas untuk di persembahkan untuk Penyambutan Tamu, seperti Pejabat Tinggi Negara, Menteri, Bupati yang berkunjung ke Tanah Rejang, atau pada even-even lain yang bersifat ceremonial, seperti pada acara penyambutan piala Adipura yang tiba di Kota Curup tanggal 7 juni lalu.
Remo dance is a welcoming dance special from East Java which described dynamical characteristic of Surabaya/ East Java Society as a picture of Prince's courage. It supported by Gamelan music and in this Gending there are Bonang, Saron, Gambang, Gender, Slentem, Zither, Flute, Ketuk, Kempul, and Gong with Slendro rhythm.
Konon Tari Gambyong tercipta berdasarkan nama seorang penari jalanan (tledhek) yang bernama si Gambyong yang hidup pada zaman Sinuhun Paku Buwono IV di Surakarta (1788-1820). Sosok penari ini dikenal sebagai seorang yang cantik jelita dan memiliki tarian yang cukup indah. Tak heran, dia terkenal di seantero Surakarta dan terciptalah nama Tari Gambyong. Tarian ini merupakan sejenis tarian pergaulan di masyarakat. Ciri khas pertunjukan Tari Gambyong, sebelum dimulai selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang. Sebab, kendang itu biasa disebut otot tarian dan pemandu gendhing.