Bahan-bahan: ikan tongkol 1/2 kg. minyak goreng 3 sdm. Bumbu-bumbu: bawang merah 10 bh. bawang putih 3 siung lombok merah giling 1 sdm. jae 1 rsd. laos 1 iris kunyit 1 rsd. daun kunyit 1/2 hl. asam kandis 2 bh. asam 3 mata garam 1 sdm. Cara membuatnya: Ikan dibersihkan, dipotong 5, diberi asam dan garam. Bumbu digiling halus, kecuali daun kunyit dan asam kandis. Ikan, bumbu, minyak dan 1/2 gelas air sekaligus dimasak dalam panci dengan api kecil hingga empuk. Keterangan: Ikan tongkol dapat diganti dengan ikan laut lainnya. Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 374-375 TEMPAT RUMAH MAKAN: Restoran Sederhana, Jl. Ampera Raya No. 99 Jakarta Selatan, +(021) 78840042 Restoran Sederhana, Pasar Bendungan Hilir Los H Blok A 47/51 Jakarta Pusat,...
Bahan-bahan: daging 1/2 kg. minyak goreng 1 gls. Bumbu-bumbu: bawang merah 5 bh. lombok merah 1 ons tomat 1 bh. garam 2 sdm. Cara membuatnya: Daging dipotong seperti untuk dibikin dendeng, diberi garam dan diungkep. Bawang merah dan lombok merah digiling kasar bersama tomat. Bila daging telah kering, dimasukkan minyak goreng. Daging digoreng sebentar, ditumbuk, dan digoreng, hingga warna kuning. Bumbu ditumiskan dalam separo dari minyak, hingga matang. Daging dicampurkan ke dalam bumbu hingga rata, diangkat. Keterangan: Cara membuat seperti di atas menghasilkan dendeng yang basah. Dendeng kering didapat bila daging sebelumnya tidak diungkep tetapi dijemur. Bumbu dapat pula sebelum digiling digoreng dahulu atau direbus. Dengan cara ini warna bumbu akan menjadi lebih merah. Kecuali daging dapat digunakan: ikan, udang, telur, kentang...
Daun Kucai atau yang di sebut juga dengan bawang kucai memiliki nama latin Allium tuberosum umumnya di kenal sebagai sayuran daun. Kucai jarang dipakai dalam menu masakan Indonesia. Nama kucai berasal dari Bahasa Hokkian, "Kú-chhài". Penggunaannya umum dalam masakan Tionghoa, seperti bubur ayam. Bahan-bahan 2 genggam cabe rawit 3 buah cabe keriting (saya pakai cabe merah besar) 2 siung bawang merah 2 siung bawang putih 3 buah tomat merah secukupnya terasi sesuai selera daun kucai (saya pakai daun ijox aja) petis madura (bisa d skip) secukupnya garam...
Suku Mentawai adalah suku yang mendiami daerah di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Orang-orang di suku Mentawai memiliki tradisi mentato tubuhnya sendiri dengan motif-motif khusus dan tidak sembarangan yang disebut dengan istilah “Titi”. Sedangkan orang yang pandai mentato disebut dengan nama “Sipatiti” atau “Sipaniti.” Tato yang terlihat di tubuh orang-orang Suku Mentawai menyimbolkan keseimbangan alam dan keindahan serta sebagai bentuk balas jasa yang diberikan kepada Sipatiti. Rata-rata motif tato Suku Mentawai adalah batu, hewan, tumbuhan, busur, panas, mata kail, duri rotan, tempat sagu sampai dengan binatang ternak. Konon tato Suku Mentawai ini adalah seni rajah tubuh tertua di dunia dan lebih tua dari tato Mesir. https://www.boombastis.com/suku-tradisi-tato/61590
Kain songket merupakan kain tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Sedangkan songket yang cukup populer yaitu Songket Padai Sikek dimana Padai Sikek merupakan nama daerah dimana kain tersebut dibuat. Motifnya pun sangat unik yakni motif kuno asli masyarakat Minangkabau dimana pembuatannya masih secara tradisional yang diwariskan secara turun temurun, dan pembuatannya pun memakan waktu berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. http://krjogja.com/web/news/read/2495/Tak_Hanya_Batik_Ini_Kain_Asli_Indonesia_yang_Mendunia
[Versi Elly Kasim] Risaulai ... Hari raba'a pukua satu - 2x Urang manembak si buruang nuri Kanai sikikik nan sadang tabang Jatuah badarai si bungo lado Lai sarawa ndak babaju - 2x Jo a den tampuah galanggang rami Mangko den duduak balangang-langang Jatuah badarai si aia mato Bada kariang parancah paku Paku digulai anak rang Lolong Bia lah kariang banda di hulu, sayang Ka bakeh hujan den mintak tolong Barakik-rakik kito ka hulu Baranang-ranang yo ka tapian Bia basakik kito dahulu, sayang Asa lai sanang yo kamudian O risaulai ... O risaulai ... [Versi Tiar Ramon] Risaulai ... Oi Risaulai ... Hari raba'a pukua satu - 2x Urang manembak si buruang nori Kanai sikikik nan sadang tabang Jatuah badarai si bungo lado Lai sarawa tak babaju - 2x Jo a den tampuah galanggang rami Mangko den duduak balangang-langang Jatuah badarai si aia mato Barakik-rakik kito kahulu Baranang-ranang yo ka tapian Bia basakik kito dahulu, sayang Asa lai sanang di kamudian Bada kari...
Tinggalah kampuang ranah Balingka Gunuang Singgalang (ondeh) lai ka manjago Oi mandeh kanduang tolong jo do'a Antah pabilo (ondeh) kito basuo Reff: Takadia untuang kok lai ka mujua Bilo masonyo kito basuo Sadangnyo arek tali jo buhua Bakarek rotan kini jadinyo Jikok taragak yo nak basuo Didalam nyanyi (ondeh) denai pasankan Jikok taragak mandeh jo ambo Didalam mimpi (ondeh) kito batamu Oi mandeh kanduang tolong jo do'a Antah pabilo (ondeh) kito basuo (Ciptaan Syahrul Tarun Yusuf, Dipopulerkan oleh Elly Kasim) ©ourtesy of https://laguminanglamo.wordpress.com/
Permainan tradisional sangatlah populer sebelum masuknya teknologi ke Indonesia. Dahulu, anak-anak biasanya bermain dengan menggunakan alat yang seadanya. Namun saat ini, mereka telah bermain dengan permainan berbasis teknologi yang berasal dari luar negeri dan juga mulai meninggalkan mainan tradisional. Seiring dari perubahan zaman, permainan tradisional perlahan-lahan mulai dilupakan oleh anak-anak Indonesia. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang sama sekali tidak mengenal permainan tradisional. Meskipun permainan tradisional telah jarang ditemukan, masih terdapat beberapa anak-anak Indonesia yang ada di daerah-daerah terpencil yang memainkan permainan tradisional ini. Bahkan, permainan tradisional juga digunakan oleh para psikolog untuk terapi pengembangan kecerdasan anak. Melihat banyaknya manfaat yang terdapat di dalam permainan tradisional, tidak ada salahnya jika kita melestarikan dan juga memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada para generasi muda Indonesia dan...
Naskah kuno milik Kesultanan Inderapura, Pesisir Selatan, pertama kalinya akan diperlihatkan kepada khalayak ramai Sumatera Barat dalam pameran yang digelar UPTD Museum Nagari Adityawarman Padang, Selasa (23/9) mendatang. Kepala UPTD Museum Nagari Adityawarman Padang, Noviyanti, di Padang, Ahad, mengatakan kerja sama dengan keturunan Kesultanan Inderapura untuk memamerkan naskah kuno tersebut bertujuan memberikan pembelajaran kepada pelajar serta memperluas wawasan masyarakat terkait pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam naskah-naskah tersebut. Ia mengatakan, naskah milik keturunan Kesultanan Inderapura tersebut akan menjadi maskot dalam pameran kali ini. Selain naskah itu, masih ada 61 naskah kuno lain yang akan dipamerkan diantaranya 12 Al Quran kuno, kemudian naskah tentang kumpulan hadist, ilmu tauhid, fiqih, syair, nazam, tambo, kaba dan beberapa naskah lain. "Kami juga akan menggelar diskusi tentang naskah kuno ini," katanya. Pembicara yang aka...