Tari Sirih Kuning merupakan pengembangan dari tarian cokek yang merupakan tarian pergaulan di tanah Betawi tempo dulu dan banyak berkembang khususnya di daerah pinggir (Tangerang dan sekitarnya). Arti kata Cokek berasal dari nama seorang Tuan Tanah di kawasan itu yang bernama lengkap Tan Sio Kek dengan mempersembahkan para penari wanita untuk menghibur para tamu dalam setiap perayaan pesta rakyat. Orkes gambang kromong dipergunakan untuk mengiringi tarian ini. Penari bisa berkelompok atau berpasangan antara laki-laki dan perempuan lengkap dengan kebaya khas penari cokek. Biasanya tari sirih kuning juga diadakan untuk mengiringi pengantin Betawi memasuki serangkaian proses penyerahan Sirih Dare oleh mempelai pria kepada pengantin wanita, atau pada hiburan penyambutan tamu kehormatan maupun perayaan lengkap dengan irama lagu khas Betawi “Sirih Kuning”. Fungsi yang terkandung dalam tari sirih kuning yaitu mengiringi pengantin, menghormati para tamu kehormatan yang...
Gong adalah alat musik tradisional yang berasal dari Kalimantan,jawa,danJuga berasal dari asia tenggara dan china namun perbedaannya ada di motif sekitar gongnya motif di gong kalimantan memiliki corak atau motif yang memiliki berbagai makna. Namun kegunaannya yang lain adalah sebagai berikut: -Jika ada seorang pria yang ingin melamar wanita mereka harus membawa gong ini karena dalam maknanya membawa gong berarti menghormati orangtuanya. -Gong juga biasanya di pakai untuk mengiringi tarian adat tradisional dengan cara memukul bagian atas gongnya. -Dan juga gong dapat mengiringi ritual orang yang beragama kaharingan ketika meninggal agar rohnya tenang di alam baka.
Reog adalah kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog sebenarnya. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang sangat kental dengan hal-hal berbau mistis dan ilmu kebatinan yang sangat kuat. Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok. Salah satu cerita yang paling terkenal di masyarakat. Cerita Reog itu tentang Pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Dalam Pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Siga Barong", raja hutan, menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatas kepalanya ditancpkan bulu-bulu merak yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Pementasan Seni Reog Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-har...
Keraton Kutai Kartanegara memiliki sejumlah tari sakral yang hanya dibawakan pada kesempatan-kesempatan khusus. Salah satu di antaranya adalah tari ganjur atau disebut juga tari ganjar ganjur . Tari ini merupakan salah satu tari penting dalam rangkaian Festival Erau karena dibawakan setiap malam sebagai bagian dari rangkaian ritual bepelas. Selain pada Festival Erau, tari ini juga dapat ditemukan dalam seremoni penyambutan tamu agung, upacara penobatan Sultan Kutai, dan acara sakral lainnya. Tari ganjur dibawakan oleh pria dan wanita dari kalangan dalam Keraton Kutai. Tari ini dicirikan dengan sejenis gada kayu berlapis kain yang disebut ganjur . Ganjur tersebut dimainkan oleh dua pria secara berpasangan, dengan gerakan seolah-olah seperti akan saling menyerang. Selain ganjur , digunakan pula kipas sebagai perlengkapan bagi wanita penari. Tari ganjur dibawakan dengan tata busana yang khas, kecuali pada upacara...
Setengah abad yang lalu, wanita penjual jenang gempol menggendong kuali tanah liat yang penuh santan berisi bola-bola putih yang terbuat dari tepung beras. Di tangannya ada kuali yang lebih kecil berisi semacam bubur warna merah. Jenang gempol adalah bola-bola tepung beras dan kelapa, berkuah santan yang gurih, ditambahkan beberapa sendok bubur warna merah cokelat gula Jawa dengan aroma pandan yang harum. Kombinasi santan yang gurih dan bubur merah yang manis, sekaligus mengenyangkan. Jenang gempol cocok dimakan di pagi dan siang hari, sangat khas Yogya dan tidak dijumpai di daerah lain. Mencari jenang gempol di masa sekarang sulit, melihat pedagang jenang gempol lewat menjajakan dagangan pun adalah pemandangan langka, jika mau mencari harus ke pasar. Sebagian pasar tradisional masih menghadirkan simbok penjual jenang gempol namun dengan porsi dagangan yang se adanya. Kadang belum terlalu siang penjual sudah tidak terlihat. Ada jenang gempol legendaris yang ra...
Sanghyang adalah salah satu jenis teater tradisi di Bali yang disuguhkan dalam bentuk tari yang bersifat religius dan secara khusus berfungsi sebagai tarian penolak bala atau wabah penyakit. Sampai saat ini, Tari Sanghyang tidak diadakan sekadar sebagai sebuah tontonan. Tari Sanghyang merupakan tari kerauhan (kesurupan) karena kemasukan hyang, roh, bidadari kahyangan, dan binatang lainnya yang memiliki kekuatan merusak seperti babi hutan, monyet, atau yang mempunyai kekuatan gaib lainnya). Tari ini adalah warisan budaya Pra-Hindu yang dimaksudkan sebagai penolak bahaya, yaitu dengan membuka komunikasi spiritual dari warga masyarakat dengan alam gaib. Tarian ini dibawakan oleh penari putri maupun putra dengan iringan paduan suara pria dan wanita yang menyanyikan tembang-tembang pemujaan. Di daerah Sukawati-Gianyar, tari ini juga diiringi dengan Gamelan Palegongan.Di dalam Tarian ini selalu ada tiga unsur penting yaitu asap/api, Gending Sanghyang dan medium (ora...
Kisah Rara Mendut (dalam bahasa jawa dibaca “Roro Mendut”) merupakan cerita rakyat klasik. Kisah Rara Mendut juga terdapat dalam salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi. Kisah ini kurang lebihnya menceritakan perjalanan hidup dan tragedi cinta seorang perempuan cantik dari pesisir pantai Kadipaten Pati yang hidup pada zaman Sultan Agung. Dikisahkan Kecantikan Rara Mendut memukau semua orang, dari Adipati Praloga (penguasa Kadipaten Pati) hingga Tumenggung Wiraguna (panglima perang Sultan Agung) dari Kerajaan Mataram yang berkuasa saat itu. Namun Rara Mendut bukanlah wanita yang lemah. Dia berani menolak keinginan Tumenggung Wiraguna yang ingin mempersuntingnya. Bahkan secara terang – terangan menunjukkan kecintaaannya pada pemuda lain pilihannya yaitu Pranacitra. Penolakan Rara Mendut tersebut membuat Tumenggung Wiraguna murka dan iri. Tumenggung Wiraguna menghukum Rara Mendut dengan bentuk mewajiban Rara Mendut membayar pajak kepada kerajaan Mataram. Rara...
Kuluk Keteleng Petang Kuluk ke umo (sawah/ladang)ini biasa dikenakan oleh wanita di daerah pegunungan maupun yang tinggal di daerah pantai. Biasanya mereka menyangkutkan ambung (keranjang rotan/bambu)dikepalanya, untuk membawa makanan pergi ke umo dan sekembali dari umo mereka membawa kayu dan hasil kebun. Fungsi kuluk ini untuk melindungi kepala dari sengatan matahari. Umumnya mereka menggunakan kuluk ini dilengkapi dengan baju kurung pendek yang bersiba, dibelah depan dengan kain sarung dipasungkan tergantung (3/4). Cara mengenakan: 1. Sehelai kain sarung batik pada sisi lebarnya diletakkan di tengkuk, kedua ujung dibawa ke depan. 2. Kedua ujung diikat ke kening (gambar no dan 3) 3. Kedua sisi panjang digulung ke tengah hingga selebar +/-30 cm. 4. Ujung kain kemudian dilipat dan disampirkan ke belakang kepala. Referensi: Dalam buku "Kuluk Penutup Kepala Warisan Luhur dari Jambi" Penggagas Ratu Munawwaroh Zulkifli Nurdin
Tutup Kepala Daun Kuluk ini juga dipakai dalam kegiatan sehari-hari oleh para wanita yang sudah menikah. Biasanya dikenakan bersama kebaya katun pendek yang kedua ujungnya diikatkan di perut. Pandanannya adalah sarung yang dikenakan betis. Fungsi penutup kepala ini adalah melindungi kepala dari sengatan matahari. Cara mengenakan: sehelai selendang batik (+/-2 meter)pada sisi panjang diletakkan di tengkuk sama panjang kiri kanan. Ditarik kedepan kening lalu disilangkan, dilipat ke belakang sampai tengkuk,kemudian disimpulkan dan bagian ujungnya dibiarkan tergantung seperti daun. Sumber Dalam Buku" Kuluk Penutup Kepala Warisan Luhur dari Jambi" penggagas Ratu Munawwaroh Zulkifli Nurdin