Sup Buntut Bu Ugi makanan favorit yang menjadi khas di obyek wisata Tawangmangu. Warung sederhana yang menyajikan masakan Jawa ini tidak pernah sepi pengunjung, Bila hari Minggu tempat ini dipadati wisatawan yang ingin menjajal kelezatan sup buntut sambil menikmati udara yang segar dan melihat pemandangan disekitar. http://www.karanganyarkab.go.id/20101227/sate-kelinci/
Bahan-bahan 100 g bawang putih 1 btr kemiri 1 sdm minyak wijen(lee kum kee) 180 ml minyak goreng Langkah Kupas bawang putih,cuci bersih bawang dan kemiri lalu keringkan. Tumbuk kasar bawang putih dan kemiri,masukkan dalam wadah kering dan bersih kemudian masukkan minyak wijen dan minyak goreng,aduk rata.Tutup rapat. Diamkan selama 3-4 hari...
Bahan-bahan 1 papan tempe 4 buah tahu putih 15 butir telur puyuh Bumbu: 4 siung bawang merah 3 siung bawang putih 3 buah cabe merah besar 5 buah cabe galak/pedas 1,5 sdt garam -- 1 batok gula merah 2 sdm kecap manis secukupnya Air matang Minyak goreng Langkah Tempe potong da...
Bahan-bahan 400 gr ayam (potong beberapa bagian jika suka) 5 siung bawang putih, potong tipis² 4 siung bawang merah, potong tipis² 2 ruas jari lengkuas, potong tipis² 3 lembar daun jeruk 2 sdt ketumbar bubuk 1 sdt garam 125 gr gula merah 500-800 ml air kelapa (sampai ayam terendam) Langkah Cuci bersih ayam kemudian potong² sesuai selera ...
Bahan-bahan 5 porsi 5 ekor Lele asap/bakar/goreng secukupnya Kemangi 200 ml santan *kelapa diblender dengan air matang Bahan sambal* 1 ruas kencur 2 siung bawang putih Garam dan gula 20 Cabe Langkah 10menit Haluskan bahan sambal Tambahkan lele, kemangi dan dipenyet di atas cobek, siram santan Lele santan...
Bahan-bahan 15 porsi 250 gr tempe yg sdh terlalu matang boleh yg sdh 3-4 hari 250 gr tempe biasa 8 potong tahu ukuran 2x3x1,5 cm, goreng 1/2 matang saja Bumbu yg dihaluskan : 5 buah cabe merah besar 5 cabe rawit merah (atau sesua selera) 5 siung bw putih 7 siung bw merah 1/2 ruas jari kencur 7 lembar daun jeruk 1 sdt garam / sesuai selera 1 sdm gula merah 500 ml Santan kelapa dari 1/2 butir kelapa (kira-...
Kupatan Gunung Kendeng merupakan tradisi Lebaran saling bermaaf-maafan dan mensyukuri alam yang terjaga. Tradisi tersebut dilakukan oleh warga Desa Mbitingan, Timbrangan dan Tegaldowo dan beberapa lokasi di Rembang. Sumber air Sumur Gede, Desa Tegaldowo jadi lokasi utama perayaan. Panggung persis di kanan sumber air berukuran 3×3 meter. Dekorasi dari bambu dan hasil pertanian seperti jagung, labu, pisang, dan lain-lain buatan warga. tradisi tersebut dilakukan untuk mensyukuri karunia Tuhan berupa sumber air dan hasil bumi sekaligus mengingatkan semua bisa dinikmati jika menjaga gunung dan alam. acara tersebut dilakukan selama dua hari. Hari pertama ada “Temon Banyu Beras,” mencuci beras dan memasukkan ke ketupat. Lalu arak-arakan tujuh ibu-ibu membawa jun (gentong air kecil) menuju sumber air. Sembari berjalan mereka menembangkan lagu. Di belakang, rombongan perempuan berkebaya dan berkain panjang mengikuti. Di sumber air, beras dicuci dan dibawa ke tenda p...
Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi lahir di Serang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1762. Beliau adalah putri bungsu dari Bupati Serang, Panembahan Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Purwodadi-Sragen. Setelah ayahnya wafat, Nyi Ageng Serang yang juga salah satu keturunan Sunan Kalijaga menggantikan ayahnya. Meski merupakan putri bangsawan, namun sejak kecil Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyat. Setelah dewasa dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk bangkit selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda. Yang sangat menonjol dari sejarah perilaku dan perjuangan Pahlawan Wanita ini antara lain ialah kemahirannya dalam krida perang, kepemimpinan yang arif bijaksana sehingga menjadi suri tauladan bagi penganut-p...
Dahulu, di pesisir pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah, tersebutlah sebuah desa nelayan bernama Teluk Cikal. Desa itu termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Pati yang diperintah oleh Adipati Pragolo II. Kadipaten Pati sendiri merupakan salah satu wilayah taklukan dari Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Di Teluk Cikal, hidup seorang gadis anak nelayan bernama Rara Mendut. Ia seorang gadis yang cantik dan rupawan. Rara Mendut juga dikenal sebagai seorang gadis yang teguh pendirian. Ia tidak sungkan-sungkan menolak para lelaki yang datang melamarnya sebab ia sudah memiliki calon suami, yakni seorang pemuda desa yang tampan bernama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, seorang saudagar kaya-raya. Suatu hari, berita tentang kecantikan dan kemolekan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II. Penguasa Kadipaten Pati itu pun bermaksud menjadikannya sebagai selir. Sudah berkali-kali ia membujuknya, namun Rara Mendut tetap menolak. Merasa dike...