Bakiak panjang atau yang sering disebut terompa galuak di Sumatera Barat adalah terompah deret dari papan bertali karet yang panjang. Sepasang bakiak minimal memiliki tiga pasang sandal atau dimainkan tiga anak. Bakiak sebenarnya permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Anak-anak dari Sumatera Barat yang dilahirkan hingga pertengahan tahun 1970-an, sering dan biasa memainkan bakiak atau terompah panjang ini.
Terompa Galuak adalah sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu yang ringan dengan pengikat kaki terbuat dari ban bekas yang dipaku dikedua sisinya. Sangat populer karena murah terutama dimasa ekonomi susah sedangkan dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air serta suhu panas dan dingin. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Bakiak
Terompa Galuak adalah sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu yang ringan dengan pengikat kaki terbuat dari ban bekas yang dipaku dikedua sisinya. Sangat populer karena murah terutama dimasa ekonomi susah sedangkan dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air serta suhu panas dan dingin. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Bakiak
Makanan khas Minangkabau yang satu ini memiliki bentuk bulat seperti bakso tetapi disajikan dengan tidak memberi kuah. Makanan sala lauak cocok dijadikan cemilan atau makanan ringan. Sala lauak jika diartikan ke bahasa Indonesia berarti sala ikan. Bahan utama membuat sala lauak menggunakan ikan laut yang telah dihaluskan kemudian dicampur dengan tepung beras. Masyarakat Minangkabau biasanya menyajikan sala lauak sebagai makaan pelengkap lontong sayur. Sumber: https://tempatwisataindonesia.id/makanan-khas-minangkabau/
Bahan untuk membuat katupek pical kapau diantaranya adalah ketupat, mie kuning, kuah kacang, kuah gulai dan kerupuk merah. Katupek pical kapau khas Minangkabau ini bisa ditemukan jika anda mampir ke Nagari Kapau. Sekali mencoba dijamin akan ketagihan. katupek pical kapau nikmat dimakan selagi udara dingin ditemani segelas teh hangat. Resep Katupek Pical Kapau Bahan: 4 Lembar Kol, 100 gram Taoge 200 gram jantung pisang 100 gram daun singkong 1 buah ketimun 250 gram mi kuning 1 1/4 sdt gula pasir 1 1/4 sdt garam 1/2 sdt cuka makan 200 ml air matang Bumbu Halus 100 gram kacang tanah goreng 3 buah cabai merah 3 buah cabai rawit 2 cm kencur 2 siung bawang putih 1 sdt gula merah Bahan Pelengkap Ketupat dipotong potong Kerupuk merah digoreng Bawang goreng renyah Cara membuat: Cara membuat saus kacang unt...
Martutu aek adalah pembaptisan , pada tradisi Batak kuno , dengan air kepada seorang anak yang baru lahir (sekitar usia tujuh hari) dengan membawanya ke homban (mata air di tengah ladang). Upacara ritual ini dimulai dengan doa yang disampaikan oleh Ulu Punguan kepada Mulajadi na Bolon. Kemudian sang Ulu Punguan membentangkan ulos ragi idup di atas pasir. Lalu Ulu Punguan meneteskan minyak kelapa ke dalam cawan yang telah berisi jeruk purut untuk memastikan bahwa tondi si bayi tersebut berada di dalam badan. Setelah itu, bayi yang hendak diberi nama dimandikan di mata air. Ulu Punguan lalu menyapukan kunyit ke tubuh bayi dan menguras bayi tersebut degan jeruk purut. Setelah diuras, Ulu Punguan mengoleskan minyak kelapa ke dahi bayi. Lalu, Ulu Punguan mencabut pisau Solam Debata yang dibawanya untuk memberkati bayi tersebut. Dengan memohon kepada Mulajadi Na Bolon, Ulu Punguan menarikan kain putih agar kain putih tersebut diberkati oleh Mulajadi Na Bolon sebagai...
Martutu aek adalah pembaptisan , pada tradisi Batak kuno , dengan air kepada seorang anak yang baru lahir (sekitar usia tujuh hari) dengan membawanya ke homban (mata air di tengah ladang). Upacara ritual ini dimulai dengan doa yang disampaikan oleh Ulu Punguan kepada Mulajadi na Bolon. Kemudian sang Ulu Punguan membentangkan ulos ragi idup di atas pasir. Lalu Ulu Punguan meneteskan minyak kelapa ke dalam cawan yang telah berisi jeruk purut untuk memastikan bahwa tondi si bayi tersebut berada di dalam badan. Setelah itu, bayi yang hendak diberi nama dimandikan di mata air. Ulu Punguan lalu menyapukan kunyit ke tubuh bayi dan menguras bayi tersebut degan jeruk purut. Setelah diuras, Ulu Punguan mengoleskan minyak kelapa ke dahi bayi. Lalu, Ulu Punguan mencabut pisau Solam Debata yang dibawanya untuk memberkati bayi tersebut. Dengan memohon kepada Mulajadi Na Bolon, Ulu Punguan menarikan kain putih agar kain putih tersebut diberkati oleh Mulajadi Na Bolon sebagai...
Ritual Sarilala atau tolak bala hampir dilakukan sepanjang tahun. Warga biasanya segera mengadakan ritual jika merasa menemukan keganjilan. Khawatir terjadi musibah, terutama karena gunung meletus, warga menaruh sesaji di tempat keramat, seperti sumber air, pohon besar, dan makam kuno. Ritual Sarilala ini juga diadakan di dekat danau Lau Kawar yang berada persis di kaki Sinabung dan di Desa Kuta Rakyat, Kecamatan Naman Teran. Seekor kambing putih dan lembu dilepaskan di kaki gunung sebagai persembahan. Guru si baso didaulat menjadi medium untuk meminta kepada roh leluhur dan memimpin ritual pemberian sesaji berupa rokok, bunga, dan hasil bumi. Puluhan warga lalu berduyun-duyun menuju jambur, tempat mereka menari-nari diiringi gendang. Aparat desa pun turut serta dalam ritual tersebut. Sumber: https://www.gobatak.com/ritual-sarilala-bangkitnya-ritual-orang-gunung/
Tradisi pembakaran mayat atau kremasi jenazah telah dikenal oleh masyarakat suku Karo yang dikenal dengan adat Sirang-sirang. Tradisi ini dilaksanakan oleh suku Karo marga Sembiring. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh Hindu dalam budaya suku Karo terutama marga Sembiring yang menurut beberapa ahli sejarah berasal dari India. Menurut Brahma Putro, menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan ( Tanah Karo ) di sekitar tahun l33l-l365 Masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. Akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini disebabkan oleh kedatangan pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus. Upacara sirang-sirang hampir mirip dengan acara kematian layaknya yang berlaku pada masyarkat suku Karo, hanya saja prosesi akhir mayat tidak dikuburkan tetapi dibakar yang dipimpin oleh seorang dukun atau guru dibantu oleh 4 orang pe...