Tari Rangkuk Alu ini awalnya merupakan sebuah permainan tradisional masyarakat Manggarai Folres. Dalam permaianan ini, bambu akan disusun dan dimainkan dengan cara diayunkan seperti menjepit oleh beberapa orang pemain. Salah satu atau dua dari pemain akan melompat-lompat menghindari jepitan dari bambu ini. Pada saat melompat-lompat menghindari jepitan, para pemain seakan melakukan gerakan tari. Dari situlah awal terbentuknya dari gerakan dasar Tari Rangkuk Alu ini. Gerakan para penari dan pemain bambu ini kemudian dipadukan dengan irama musik serta lagu daerah sehingga akan menghasilkan seni yang khas, yakni Tari Rangkuk Alu. Dahulunya, tarian ini sering ditampilkan pada saat usai panen raya dan pada saat bulan purnama. Disaat itulah para remaja berkumpul dan juga meramaikan acara ini. Fungsi Dan Makna Tari Rangkuk Alu: Tari Rangkuk Alu tidak hanya sekedar permainan biasa. Selain sebagai sarana hiburan, Tari Rangkuk Alu juga bisa menjadi sarana edukasi dan pembentukan diri. Dalam...
Kubur Nggerang terletak di Desa Ndoso Kecamatan Ndoso Kabupaten Manggarai Barat. Kubur ini merupakan peristirahatan terakhir bagi Wela Loe. Menurut penuturan masyarakat lokal, Wela Loe adalah seorang gadis di daerahnya. Kecantikannya tidak tertandingi oleh siapa pun. Dia menjadi primadona dan menjadi rebutan raja Todo dan raja Bima untuk dijadikan permaisuri. Kedua Raja tersebut tidak ada yang mau mengalah, dan jalan tengah yang diambil adalah menghabisi nyawa Wela Loe. Kulit perutnya diambil untuk dijadikan gendang yang disebut Gendang Loke Nggerang dan sampai saat ini gendang tersebut masih tersimpan baik di Rumah Adat Todo di Kecamatan Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai. Saat ini kuburan Nggerang sudah dibangun pelindung berupa rumah permanen. https://wisata.manggaraibaratkab.go.id/listing/kubur-tua-nggerang/
Rumah adat Pacar Pu’u adalah salah satu rumah adat orang manggarai yang masih eksis. Tak jauh dari rumah adat ini terdapat sebuah goa yang dulunya dijadikan benteng perang dengan nama Benteng Tinggil, dimana masih terdapat beberapa senjata kuno peninggalan masa perang dan salah satu pahlawan lokal Manggarai yang berasal dari daerah ini sangat terkenal menentang penjajahan bernama Macang Pacar, kini namanya diabadikan sebagai nama kecamatan untuk mengenang sekaligus sebagai penghargaan atas jasahnya dalam menentang penjajahan. https://wisata.manggaraibaratkab.go.id/listing/rumah-adat-pacar-puu/
Nenek moyang orang Manggarai adalah tiga orang bersaudara yang berasal dari Minangkabau. Demi cita-cita suatu hidup yang lebih pantas, mereka berani merantau ke tanah orang. Tempat pertama yang mereka singgahi ialah Bima. Dari Bima mereka meneruskan perjalanan menuju Manggarai. Di Manggarai mereka mendarat di Werloka, suatu tempat yang dewasa ini terletak di Kecamatan Komodo. Mereka menetap di Werloka untuk beberapa tahun. Pada suatu waktu timbullah wabah penyakit melanda Werloka dan daerah di sekitamya. Ke tiga bersaudara ini memutuskan untuk pindah ke suatu tempat yang lain. Mereka menginginkan daerah baru yang aman dan sehat. Setelah berembuk mereka menyetujui bahwa terpaksa mereka harus berpisah satu dari yang lain. Dalam perundingan ini mereka tetapkan pula bersama arah persebarannya masing-masing. Putra sulung menempati daerah marahari terbenam. Yang bungsu menempati daerah matahari terbit sedangkan yang tengah menetap di Manggarai. Yang dimaksud dengan daerah matahari terbena...
Kalung yang dipakai oleh Bapak Presiden tong biasa sebut manik-manik. Kalung ini menjadi hiasan adat dibadan yang dikenakan oleh orang Papua pada umumnya. Beliau diberikan benda tersebut saat tiba di Pegunungan Arfak
Tarian adat yang berasal dari Raja Ampat ini disebut Tarian Mansorada sebagai tarian adat penyambutan tamu yang dibawakan oleh remaja laki-laki dan perempuan yang merupakan penduduk asli Kabupaten Raja Ampat. sumber: Pesona Indonesia / https://twitter.com/PuBudaya
Prosesi adat meminang Nelagi (Perempuan Moi). Saudara laki-laki menggendong saudara perempuan yang hendak dipinang keluar untuk diserahkan ke mempelai pria. sumber: Petra Rhose dan https://twitter.com/PuBudaya/status/1323093757588238337
Rumah Kaki Seribu adalah rumah adat asli dari penduduk Suku Arfak yang menetap di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Rumah adat tersebut dijuluki demikian karena menggunakan banyak tiang penyangga di bawahnya, sehingga jika dilihat memiliki banyak kaki seperti hewan kaki seribu.
Suku Moskona dari teluk bintuni dalam berpakaian adat mendampingi Bapak Gubernur Provinsi Papua Barat. Sumber : Yosua Indouw Sayori dan twitter.com/PuBudaya