Bahan-bahan : tepung beras 1 kg gula merah 1/2 kg kelapa 2 btr Bumbu-bumbu : garam 1/2 sdt Cara membuatny a: Kelapa diparut, dicampur dengan gula, tepung, dan garam. Dijerangkan dalam wajan, diaduk terus sampai masak. Dimasukkan dalam tempat yang agak cekung, diratakan. Jika sudah dingin diiris-iris persegi empat. Sumber : Buku Mustika Rasa Sukarno hlm. 967
Bahan-bahan : tepung beras 1/4 kg gula pasir 1/4 kg santan 2 gls air daun pandan 1 gls garam 1 sdm Cara membuatnya : Setengah bagian tepung beras dibuat adonan cair dengan air panas, gula, dan air daun pandan. Adonan ini dimasukkan dalam loyang, dikukus sampai masak. Untuk lapisan kedua dibuat adonan dari santan kental, garam dan sisa tepung beras. Setelah lapisan pertama masak, lapisan kedua ditaruh di atasnya sampai masak. Sumber : Buku Mustika Rasa hlm. 1029-1030
Bahan-bahan : beras 1 kg telur 3 btr daun pisang secukupnya kelapa (santan kental) 1 btr / 4 ckr Bumbu-bumbu : bawang merah 1 ons Cara membuatnya : Beras dicuci, direndam +- 15 menit. Telur dibuat dadar. Bawang merah diiris dan digoreng. Kelapa diparut, dibuat santan, dan diberi garam. Dari bahan-bahan ini dibuat semacam bongko. Diambil daun pisang, diisi satu sendok makan beras, diberi 2 iris telur dadar, dituangi 2 sendok makan santan, dibaturi bawang merah goreng, kemudian dibungkusi. Bungkusan-bungkusan dikukus sampai masak. Sumber : Buku Mustika Rasa Sukarno hlm. 1031-1032 Lokasi penjual: Warung Kembar Alamat: Jl. Pangeran Abdurrahman, Cindai Alus, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan 71213
Bahan-bahan : beras 1 kg santan kental 8 gls daun pisang 5 lbr Bumbu : garam 4 sdm Cara membuatnya : Dibuat bungkusan-bungkusan dari daun pisang. Beras yang sudah diuji dimasukkan. Ditambahkan santan yang sudah diberi garam. Dikukus sampai masak +- 4 jam. Sumber : Buku Mustika Rasa Sukarno hlm. 1041 Lokasi penjual: Warung Kembar Alamat: Jl. Pangeran Abdurrahman, Cindai Alus, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan 71213
Lampit rotan adalah kerajinan tangan khas masyarakat Kalimantan Selatan yang dibuat dengan cara mengolah jalinan batang-batang rotan menjadi sebuah tikar.Lampit rotan dibuat secara homemade di rumah-rumah penduduk di Kota Amuntai dan pengrajinnya adalah penduduk dari kota itu sendiri. Amuntai adalah kota di Kalse lyang memang dikenal sebagai sentra industri kerajinan rotan seperti lampit. Kerajinan lampit telah menjadi tradisi masyarakat Kota Amuntai yang diwariskan secara turun temurun pada setiap generasinya. Di ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara ini banyak pengrajin lampit yang sifatnya berkelompok dan individu yang banyak melibatkan para ibu-ibu dan perempuan serta anak sekolah. Tidak mudah menghasilkan lampit yang benar-benar bagus dan berkualitas yang dikerjakan oleh tangan ahli daripara pengrajin. Banyak tahap yang harus dilalui dalam proses pembuatan karya seni ini, yang bermula dari batangan rotan penuh duriyang kemudia diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebua...
Menurut versi cerita rakyat, bahwa terbentuknya sub-suku Banjar Pahuluan dan Banjar Kuala dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Kalimantan yang dikenal dengan kisah Datung Ayuh dan Bambang Siwara . Cerita rakyat ini mengisahkan tentang perbedaan pandangan antara dua orang bersaudara yang bernama Ayuh dan Bambang Siwara. Kedua orang bersaudara ini diturunkan oleh Ning Bahatara dari alam Patilarahan ke alam dunia. Konon, daerah Batu Bintihan yang terdapat di bagian sebelah Barat Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan diyakini sebagai tempat pendaratannya. Keyakinan ini diperkuat dengan sebuah batu sebesar truk gajah yang melintang di tengah Sungai Amandit yang di bagian atasnya terdapat puluhan pasang bekas telapak kaki yang masih tergurat. Di dunia, kedua orang bersaudara tersebut menjalani hidup mereka sebagai manusia di hutan belantara Kalimantan. Sebagai bekal, keduanya diberi buku yang berisi sejumlah ilmu. Lalu...
Cancang cancang 2x hubiku cancang 2x Batanglah gambir 2x batang gumbili 2x Hincang hincang 2x kandaku datang 2x Datang kamari 2x si jantung hati 2x Batang pirawas 2x bakandung buku 2x Pangalang tangga 2x dimuha lawang 2x Sudah lawas 2x kada batamu 2x Imbah batamu 2x baumpat pualang 2x Asamlah pauh 2x pidara pauh 2x Ramalah rama 2x batali banang 2x Kanda jauh 2x adinda jauh 2x Samalah sama 2x hati mangganang 2x Dua kali 2x suling maninti 2x Nang manyurapat 2x kambang durian 2x Dua kali 2x guring tamimpi 2x Mimpi badapat 2x dikaguringan 2x Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/04/ampar-ampar-pisang-banjar-kalimantan-selatan.html
Cerita Legenda Gunung Batu Hapu ~ Tidak berapa jauh dari kota Rantau, ibu kota Kabupaten Tapin Propinsi Kalimantan Selatan terdapat dua desa bernama Tambarangan dan Lawahan. Menurut cerita orang tua-tua, dahulu kala diperbatasan kedua desa itu hiduplah seorang janda miskin bersama putranya. Nama janda itu Nini Kudampai, sedangkan nama putranya Angui. Mereka tidak mempunyai keluarga dekat sehingga tidak ada yang membantu meringankan beban anaknya itu. Walaupun demikian, Nini Kudampai tidak pernah mengeluh. Ia bekerja sekuat tenaga agar kehidupannya dengan anaknya terpenuhi. Saat itu, Angui masih kecil sehingga ia masih senang bermain, belum ada kesadaran untuk menolong ibunya bekerja. Angui tidak mempunyai teman sebaya sebagai teman bermain. Sebagai gantinya, ia ditemani tiga ekor hewan kesayangannya, yaitu ayam jantan putih, babi putih, dan seekor anjing yang juga putih bulunya. Ke mana pun ia pergi, ketiga ekor hewan kesayangan itu selalu menyertainya, mereka tampak...
Cerita Legenda Ular Dandaung ~ Konon, dahulu kala ada sebuah kerajaan. Tidak disebutkan oleh pencerita apa nama kerajaan itu. Menurut cerita, kerajaan itu cukup besar. Negerinya kaya raya sehingga penghasilan rakyat melimpah ruah. Rajanya adil dan bijaksana. Kekayaan kerajaan bukan hanya dinikmati raja dan keluarganya, tetapi rakyat pun turut menikmati. Pantaslah jika kerajaan itu selalu dalam suasana tenteram dan damai. Dengan kerajaan-kerajaan lainpun, tidak pernah terjadi silang sengketa sehingga mereka dapat hidup berdampingan secara damai. Sayang, ketenteraman itu tidak bertahan lama. Tidak disangka-sangka musibah datang menimpa mereka. Mereka bukan diserang musuh yang iri pada kemakmuran dan kerukunan kerajaan, tetapi oleh burung raksasa yang tiba-tiba muncul. Langit menjadi gelap gulita kerena tubuh burung itu amat besar, kepak sayapnya memekakkan telinga. Karena serbuan burung raksasa itu demikian mendadak, rakyat kerajan panik luar biasa....