Brownies Tempe mungkin masih asing di telinga kita , namun bagi masyarakat Malang – Jawa Timur sudah mulai menjadi makanan yang diburu .Makanan ini termasuk jenis baru dari brownies dengan bahan utama tempe yang dikukus. Rasanya hampir mirip dengan brownies yang sering beredar di pasaran selama ini namun dengan bahan menggunakan tempe menjadi menarik perhatian. Bila ingin mencoba sendiri berikut ini resep pembuatanya Bahan : - 100 gr tempe, kukus, haluskan - 250 gr dark cooking chocolate (cokelat masak hitam), lelehkan - 150 gr margarin, lelehkan - 3 butir telur - 100 gr gula pasir - 100 gr tepung terigu - 1/2 sendok teh baking powder brownies tempe Cara Membuat : 1. Siapkan loyang brownies, alasi dengan kertas roti lalu oles dengan margarin. Sisihkan. 2. Kocok telur dan gula pasir dengan balloon whisk hingga lembut. 3. Masukkan tepung terigu, tempe, dan baking powder, aduk rata. 4. Tuang margarin dan cokelat leleh, aduk rata. T...
Sebuah cerita tentang terjadinya "pegeblug" atau epidemi di sebuah kerajaan. Legenda Calon Arang sangat populer dan menjadi dasar berbagai drama panggungm baik di Jawa maupun di Bali. Menurut cerita, Calon Arang adalah janda yang mempunyai seorang putri cantik. Tak seorang pun berani mengambilnya sebagai istri, karena ibunya dikenal sebagai praktisi ilmu hitam yang kejam. Karena kecewa, Calon Arang menyebarkan bibit penyakit ke seluruh kerajaan, dan hanya bisa ditaklukan oleh Mpu Barada, seorang pendeta dan praktisi ilmu putih.
Mangkuk berbentuk oral terbuat dari emas dengan 8 lakukan atau disebut panik ini dihias relief cerita Ramayana (cerita epik India). Isinya menceritakan satu episode ketika Sita, istri Rama (raja Ayodhya) dibawa paksa oleh Tahanan ke istananya di Alengka.
Hari bara merupakan pengambilan dewa Siwa dan Wisnu dalam satu Arca. Cuti desa Siwa dapat dilihat dari salah satu tangan kirinya (tangan kiri depan) yang memegang gada, sedangkan ciri dewa Wisnu terlihat dari salah satu tangan kanan (tangan kanan belakang) yang jari telunjuknya menopang sangkha (siput) bersayap. Letaknya di ibukota Majapahit, yaitu di daerah Trowulan Mojokerto, Jawa Timur.
Harinara merupakan penggambarann dewa Siwa dan Wisnu dalam satu Arca. Ciri Dewa Siwa dapat dilihat dari salah satu tangan kirinya (tangan kiri depan) yang memegang gada, sedangkan ciri dewa Wisnu terlihat dari salah satu tangan kanan (tangan kanan belakang) yang jari telunjuknya menopang sangkha (siput) bersayap. Letaknya di ibukota Majapahit, yaitu di daerah Trowulan Mojokerto, Jawa Timur.
Sego Cawuk Sego cawuk diambil dari bahasa Using, bahasa asli Banyuwangi. Sego artinya nasi dan cawuk artinya makan menggunakan tangan langsung, tanpa sendok garpu. Sego cawuk merupakan penganan pagi hari masyarakat Banyuwangi. Sego Cawuk terdiri dari nasi dengan campuran kuah yang terbuat dari parutan kelapa muda, jagung muda yang dibakar dan dicampur dengan timun serta dibumbui cabai, bawang merah, bawang putih dan sedikit asam sehingga rasanya pedas dan segar. Biasanya ditambahkan dengan kuah pindang khas Banyuwangi yang terbuat dari gula pasir menghasilkan kuah bening dan manis.
Rujak Cemplung Rujak cemplung terdiri dari buah-buahan rujak (nanas, bengkuang, ubi jalar, ketimun, pepaya, dll) dipotong dadu kombinasi dengan kuah cuka caur dengan garam, kacang tanah goreng, dan cabai. sangat enak dikonsumsi saat siang hari.
Barong Ider Bumi Barong Banyuwangi hampir mirip perannya dengan barong di Bali. sebagai penolak bala dalam upacara adat bersih desa. Barong diarak keliling desa sambil mengunjungi makam-makam keramat serta sumber mata air desa. Penari Barong acap kali kejiman saat berlangsungnya ider bumi. Barong diiringi musik Gamelan asli Banyuwangi.
Salah satu orang sakti bernama Ki Ageng Mangir merantau sampai ke Jawa Timur, yaitu Ngarwa. Sekarang dadi Tulungagung. Ki Ageng Mangir punya istri, namanya Roro Kijang yang ikut serta merantau. Suatu pagi, Roro kijang ingin makan sirih, dicarinya pisau untuk membelah pinang, namun dia tidak menemukan pisau sama sekali. Kemudian dia meminta pisau kepada suaminya Ki Ageng Mangir. Kemudian Ki Ageng Mangir memberikan pisau pusaka bernama Seking dan bepesan agar cepat mengembalikan pisau tersebut dan jangan pernah menaruh pisah itu di atas pangkuannya. Seking pun diterima terus digunakan untuk membelah pinang sambil makan sirih. Kemudian Roro Kijang duduk-duduk dengan enak sambil menikmati sirih dan pinangnya. Sehingga lupa dengan pesan suaminya (Mbah Sawir menghisap rokok racikannya sendiri) dia menaruh pisau itu di pangkuannya. Beberapa saat kemudian dia baru ingat dan segra mengembalikan pisau di pangkuannya tersebut kepada suaminya. Namun dia terkejut karena pisau di pangkuan...