Sundu merupakan senjata tradisional menyerupai keris, berbentuk lurus dan pegangannya menyerupai bentuk sayap burung. Ada pula motif horizontal melingkar pada sarung Sundu. Penduduk menganggapnya sebagai senjata tikam yang keramat. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2015/06/senjata-tradisional-nusa-tenggara-timur/
Senjata sejenis parang ini berasal dari pulau Sumba dengan variasi ukuran panjang 48, 50,5; 53 dan 58,5 Cm. Parang yang selalu di pinggang pria dewasa menjadi pemandangan luas di Sumba yang kini merupakan wilayah empat kabupaten, yakni Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya. Pemandangan seperti itu dijumpai mulai dari pedesaan hingga kota. Membawa parang belum tentu berhubungan dengan kebutuhan kerja. Kelengkapan busana adat Sumba sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Jawa. Kalau di Jawa busana adatnya dengan keris yang diselipkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumba, busana adatnya dengan parang yang diselipkan di pinggang bagian samping. Di Sumba, fungsi parang bisa diketahui melalui gagangnya. Kalau gagangnya dari kayu, hampir dipastikan sebagai parang kerja. Jika parangnya bergagang tanduk hewan, apalagi dari gading, dipastikan sebagai aksesori atau pelengkap busana adat pria Sumba. Di lingkungan orang Sumba, kelompok parang terakhir i...
Rumah ini cukup unik karena memiliki atap ilalang kering dan hampir mencapai tanah. Rumah Adat Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara terdapat di Desa Koanara, Kelimutu, NTT. Rumah adat ini cukup unik dan menarik perhatian karena atapnya yang khas. Atap rumah adat ini terbuat dari ilalang dan mencapai tanah. Ada tiga jenis rumah Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara, yaitu rumah baku, rumah tinggal dan lumbung padi. Rumah baku adalah rumah yang digunakan untuk menyimpan tulang belulang milik leluhur. Sudah ada 13 keturunan yang tulangnya di simpan di rumah ini. Salah satu rumah ada yang memiliki atap hingga menyentuh tanah, inilah rumah penyimpanan hasil panen sawah. Jika melihat ada kepala kerbau terpampang di depan pintu rumah, itu tandanya Anda telah berada di rumah tinggal. Secara umum, pengertian rumah menurut kamus Oxford, house is as building for people to live in, ussually for one family (rumah adalah bangunan tempat tinggal orang, biasannya untuk tinggal satu keluarga). Dari d...
Pakaian Harian di Kupang Sehari-hari masyarakat Kupang dari berbagai suku mengenakan pakaian hampir seperti busana upacara adat namun tidak menggunakan aksesori dan perhiasan. Pria mengenakan selimut dan kemeja putih dilengkapi dengan ikat pinggang besar dan dipergagah dengan pengikat bernama destar. Sedangkan wanita memakai sarung dengan teknik dua kali lipatan dan dililit pada pinggang agar sarung tidak melorot jatuh ke bawah. Untuk bagian atas dikenakan kebaya saja yang disulam menyerupai kutang atau bra. A. Suku Rote Mayoritas suku Rote mendiami Kepulauan Rote, juga disebut Pulau Roti, adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Rote merupakan wilayah paling selatan Indonesia. Pulau ini terkenal dengan kekhasan budidaya lontar, wisata alam pantai, musik sasando, dan topi adat Ti’i Langga. Rote berstatus sebagai kabupaten dengan nama Kabupaten Rote Ndao. Pulau-pulau kecil yang mengelilingi pulau Rote antara lain Pulau Ndao,Nda...
Seperti yang kita ketahui, anyaman tikar sangat populer di kalanggan masyarakat Manggarai. Tidak hanya di pelosok daerah tetapi juga di perkotaan. Banyak ibu-ibu masyarakat manggarai yang menganyaman tikar bahkan pekerjaan tersebut sebagai mata pencaharian ibu-ibu Manggarai di daerah pelosok untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu juga mereka membuat tikar untuk kebutuhan mereka sendiri karena tradisi orang manggarai mengharuskan setiap masyarakat manggarai untuk memiliki tikar, sebab disetiap upacara adat baik upacara adat kecil sampai upaCara adat yang besar sangat dibutuhkan tikar sebagai alas duduk ketika upacara berlangsung. Bahan dasar dan alat pembuatan tikar yaitu: Daun pandan Pisau Batang bambu berukuran kecil tipis Duri Sendok Jarum jahit Sumbat / kesumba (pewarna) Nggereng / gereng Cara pembuatan tikar sebagai berikut: Kita memotong daun pandan dari pohon menggunakan pisau...
Sunding Tongkeng merupakan alat musik tradisional yang ditiup yang asalnya dari NTT. Bentuk Sunding Tongkeng sangat berpengaruh dengan cara memainkannya, bentuk dari Sunding Tongkeng ini “berbuku-buku” dan pada salah satu ujung ruasnya dibiarkan saja. Ukuran dari ruas bambu dan juga buku memiliki panjang hingga 30 cm. Sumber: https://alatmusik.org/alat-musik-tradisional-yang-ditiup/
Nuren adalah alat musik yang lumayan dikenal pada daerah Solor Barat. Masyarakat di Sikka Timur tahu Nuren dengan sebutan Sason atau Sason Nuren (secara etimologi Sason : Jantang dan Nuren Perempuan). Sason Nuren adalah perwujudan dari 2 buah suling, uniknya 2 buah suling itu digunakan oleh seorang pemain saja. Selain untuk alat hiburan, sebutan “Sason Nuren” adalah sebutan keramat dan sakral. Menurut asal-usulnya, dulu ada seorang tokoh yang melegenda yaitu Edoreo, itulah orang Solor Barat. Orang Solor Barat dulu mempercayai bahwa orang itu mempunyai 2 kepala sekaligus 2 mulut, menurut 2 kepribadian yang berkecambuk pada telinga pendengarannya. Sumber: https://alatmusik.org/alat-musik-tradisional-ntt/
Thobo adalah alat musik tumbuk yang asalnya dari Kab. Ngada. Thobo dibuat dari bambu yang berbuku-buku, di bagian bawahnya dibiarkan saja sedangkan di atasnya dilubangi. Cara menggunakannya ditumbuk ke lantai/tanah. Thobo kegunaannya untuk mengiringi masuk Foy Doa. Sumber: https://alatmusik.org/alat-musik-tradisional-ntt/
Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur. Sumba Barat ini memiliki tradisi perkawinan yang unik dan khas. Dalam tradisi perkawinan, Sumba Barat memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengantin pria dan wanita. Perempuan yang sudah siap berumah tangga selain matang secara biologis, harus mempunyai ketermpilan khusus khas Sumba, seperti: Menenun kain atau sarung (matonu ingi monno ghee), pandai membuat tempat siri pinang (mawana kaleku pamama), pandai menari (nego), kerja kebun(manairo oma), sopan dan selalu berbakti kepada orang tuanya Pada zaman dahulu bua wine pria yang siap dipinang atau atau dilamar, biasa menggunakan mamoli sebagai lambang kedewasaan. Demikian halnya dengan bua mane, selain matang secara biologis mereka juga harus mempunyai keterampilan-keterampilan khusus pria Sumba, seperti: Harus pandai menari (kataga), memiliki ketangkasan dan kealihan menungg...