Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur. Sumba Barat ini memiliki tradisi perkawinan yang unik dan khas.
Dalam tradisi perkawinan, Sumba Barat memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengantin pria dan wanita.
Perempuan yang sudah siap berumah tangga selain matang secara biologis, harus mempunyai ketermpilan khusus khas Sumba, seperti: Menenun kain atau sarung (matonu ingi monno ghee), pandai membuat tempat siri pinang (mawana kaleku pamama), pandai menari (nego), kerja kebun(manairo oma), sopan dan selalu berbakti kepada orang tuanya
Pada zaman dahulu bua wine pria yang siap dipinang atau atau dilamar, biasa menggunakan mamoli sebagai lambang kedewasaan.
Demikian halnya dengan bua mane, selain matang secara biologis mereka juga harus mempunyai keterampilan-keterampilan khusus pria Sumba, seperti:
Harus pandai menari (kataga), memiliki ketangkasan dan kealihan menunggang kuda(kalete ndara), rajin menggembalakan ternak-ternak orang tuanya (kandi ranga), pandai bekerja di sawa(tau paba), taat dan berbakti pada kedua orang tuanya.
Melihat pria yang memiliki keterampilan seperti di atas dianggap mampu dan dapat bertanggung jawab menjaga bua wine dengan baik.
Sepertinya bua mane yang siap untuk berumah tangga biasanya selalu menggunakan parang di pinggang sebelah kiri sebagai lambang keperkasaannya.
Dalam tradisi perkawinan masyarakat Sumba, mamoli memegang peranan penting karena merupakan belis utama dan sebagai lambang perdamaian antara pihak laki-laki dan wanita.
Artinya bahwa mempelai laki-laki mempunyai tujuan dan maksud baik terhadap mempelai wanita dalam keseriusan menjadikan pendamping hidup.
Hal ini akan berpengaruh pada hubungan baik pihak laki-laki dan pihak wanita, selain itu juga dalam tatacara upacara adat perkawinan dalam pembelisan untuk meminang perempuan, diperlukan mamoli mas sebagai pengganti air susu ibu dan sebagai penghargaan jeripayah orang tua dalam membesarkan anaknya.
Mamoli ini wajib ada dan akan dikenakan di kedua telinga, yaitu:
1. Sebagai pengganti air susu ibu, dalam bahasa Sumba adalah mata kawanna (mata kanan) dipasang di telinga kanan
2. Sebagai pengganti jeripayah orang tua dalam membesarkan anak yang disebut mata wello (mata kiri) dipasang di telinga kiri
Begitu pentingnya peran mamoli dalam upacara adat perkawinan sehingga jika pihak laki-laki tidak dapat memenuhi syarat, maka atas kesepakatan kedua keluarga mamoli harus diganti dengan nilai yang setara, misalnya 1 ekor kerbau jantan.
Sesuai upacara adat perkawinan Sumba harus dipenuhi beberapa tahap berikut ini:
1. Tahap perkenalan
Perkawinan yang dilakukan biasanya melibatkan suku (kabisu). Jika ada dua suku yang masih merupakan kabisu bersaudara karena berasal dari satu leluhur, maka di antara kabisu itu tidak boleh terjadi kawin-mawin.
Selain perkawinan antara anak om dan anak tante yang sangat dianjurkan tak dapat dihindari juga perkawinan yang terjadi atas kemauan dan atas dasar cinta dari anak-anak sendiri.
Sebelum memasuki tahapan-tahapan adat, diperlukan proses perkenalan agar dari kedua pihak keluarga mengetahui dengan jelas identitas atau status dan turunan dari bua wine maupun bua mane.
2. Tahap perkenalan adat (dengi winni pare, winni watara)
Pada tahap ini utusan pria berangkat dari keluarga pria, mereka bersiap dalam satu kesatuan keluarga yang disebut doma atau klen penerimanya wanita.
Setelah sampai di rumah wanita, pembicaraan pinangan menggunakan bahasa adat yang disebut teda (sastra adat).
Pihak atau keluarga wanita akan memberikan siri pinang sebagai suguhan dan menanyakan maksud kedatangan doma, pada saat itu doma menyerahkan barang bawaan sambil meminta bibit padi (wini pare) dan bibit jagung (wini watara) sebagai tanda diterimanya pinangan
3. Tahap ikat adat (kettege)
Setelah pinangan diterima tahap selanjutnya adalah ikat adat, sebagai lambang atau simbol kedua pihak keluarga bersatu yamg haurs dipersiapkan adalah: Keluarga wanita, menyiapkan kain serta babi.
Keluarga pria, menyiapkan : hewan taguloka dan mamoli sebagai pengganti air susu ibu serta satu batang tombak dan rantai emas (lolo oma) sebagai simbolnya.
Saat tiba di rumah orang tua wanita, pria akan membawa tombak dan lolo oma yang akan diikat jadi satu, sebagai simbol kedua keluarga telah bersatu.
Lalu rombongan pria menyerahkan hewan tagu loka dan mamoli. Sebagai balasannya keluarga wanita akan memberikan kain (motif Sumba) serta satu babi yang sudah dibunuh dan satu lagi babi yang masih hidup, sebagai tanda kesepakatan jumlah belis (welli).
4. Tahap ikat pindah (kete dikki)
Jika tahap ikat adat telah selesai, maka tahap selanjutnya adalah ikat pindah atau diresmikan secara adat wanita pindah ke suku pria. Adapun persiapan-persiapan yang harus dilakukan antara lain :
a. Keluarga wanita menyiapkan : Kain sepuluh pasang yang dibawa wanita ke rumahnya untuk dibagikan pada ipar-iparnya. Lemari yang telah di isi dengan berbagai perabot rumah tangga. Babi mati dan babi hidup untuk keluarga laki-laki, babi untuk keluarga perempuan sendiri
b. Keluarga laki-laki menyiapkan hewan sebanyak yang disepakati pada tahap ikatan adat.
Saat tiba waktu yang dijanjikan, jubir dari masing-masing keluarga mewakili untuk menanyakan kesiapan keluarga.
Jika semua sudah sesuai dengan rencana, maka acara pun dimulai dengan menggunakanbahasa adat yang akan diakhiri dengan makan bersama dengan menggunakan peralatan makanan tradisional piring kayu (onga) dan piring anyaman lontar (kolaka) serta mangkok dari tempurung kelapa (koba) sesudah makan barulah anak wanita dibawah ke rumah suaminya.
Bagi keluarga pria yang bisa membawa pulang anak gadis merupakan kebanggaan tersendiri. Acara pemindahan ini akan diiringi bunyi gong, orang menari woleka, payawau dan pakalak
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...