Life in Java: with sketches of the Javanese by D'Almeida, W. Barrington (William Barrington) Publication date 1864 Topics Java (Indonesia) -- Description and travel Publisher London : Hurst and Blackett Collection cdl; americana Digitizing sponsor MSN Contributor University of California Libraries Language English Volume 1 Addeddate 2007-12-07 20:43:34 Bookplateleaf 0002 Call number SRLF:LAGE-944871 Camera 5D Collection-library SRLF Copyright-evidence Evidence reported by alyson-wieczorek for item lifeinjavawithsk01dalmiala on December 7, 2007: no visible notice of copyright; stated date is 1864. Copyright-evidence-date 20071207204255 Copyright-evidence-operator alyson-wieczorek Copyright-region US External-identifier urn:oclc:record:1048324279 Foldoutcount 0 Identifier lifeinjavawithsk01dalmiala
UU SOUTHERN REGIONAL LIBRARY hACILITY G 000 084 1 70 LETTERS OP A JAVANESE PRINCESS LETTERS OF A JAVANESE PRINCESS RADEN ADJENG KARTINI By TRANSLATED FROM THE ORIGINAL DUTCH AGNES LOUISE SYMMERS By WITH A FOREWORD BY LOUIS COUPERUS LONDON: 3 DUCKWORTH HENRIETTA ST., & CO. COVENT GARDEN First published in 1921
Bahan-bahan: Tempe bosok (kurleb tempe papan 5cm x 10cm) 10-15 buah Tahu kulit uk kecil 1/4 kg Tetelan sapi 3 buah cabe merah keriting 5 buah cabe rawit merah 7 butir bawang 5 butir bawang putih 1 ruas jari kencur 2 lbr daun salam Lengkuas 2 batang serai 5-6 lbr daun jeruk secukupnya Garam dan gula jawa Santan kara sachet 65ml Boleh pake penyedap kalo suka Langkah: Rebus tempe bosok, tetelan dan tahu, daun salam, daun jeruk, serai dan lengkuas. Krg lebih 20-30 menit, smp tetelan empuk Masukkan cabe, bawang merah, bawang putih dan kencur ke dalam rebusan sktr 5 menit, lalu angkat. Spy mudah, masukkan ke plastik tahan panas, jd ga ngambilin satu-satu dr panci. Ulek bawang merah, bawang putih, cabe dan kencur yg sudah direbus smp halus. Tumis smp wangi di tungku kompor yg satunya, setelah itu tuang ke panci yg isinya rebusan tahu dll. Bumbui dgn garam, gula, dan penyedap (royco/totole) bila suka. Cek rasa. Masukkan santan kara. Aduk. Cek rasa lagi. Setelah mantap dan kuah m...
Buncisan merupakan nama salah satu kesenian lokal setempat yang dipentaskan dalambentuk seni pertunjukan di wilayah persebaran budaya Banyumasan. Pemain seni Buncisan terdiri dari 8 orang pemain yang melakukan tarian sambil bernyanyi sekaligus menjadi musisinya. Adapun nyanyian yang dibawakan oleh para pemain adalah lagu-lagu tradisional Banyumasan. Para pemain dalam pertunjukannya membawa alat musik angklung beralas slendro, masing-masing membawa satu buah alat musik yang berisi satu jenis nada berbeda, enam orang diantaranya memegang alat bernada 2 (ro) 3 (lu) 5 (ma) 6 (nem) 1 (ji tinggi) dan 2 (ro tinggi), dua orang yang lain memegang instrumen kendhang dan gong bumbung. Dalam membangun sajian musikal masing-masing pemain menjalankan fungsi nada sesuai dengan alur balungan gending. Dari alat-alat musik yang demikian mereka mampu menyajikan gending-gending Banyumasan. Buncisan di Banyumas memiliki beberapa karakter dan salah satu karakter Buncisan tersebut dapat dijumpai di desa...
Situs Watu Guling terdapat di Desa Datar, Kec. Sumbang di sebelah selatan pemakaman umum Desa Datar. Dinamakan situs Watu Guling, menurut cerita masyarakat setempat karena batu tersebut berasal dari pegununggan daerah selatan yang ditendang oleh Bima dan jatuh berguling guling dan berhenti di daerah yang datar yang kemudian dinamakan Desa Datar. Sebenarnya situs tersebut merupakan tempat pemujaan arwah nenek moyang pada zaman prasejarah yang pada awalnya merupakan punden berundak yang berorientasi ke arah utara selatan mengarah kepada gunung Slamet, dan diyakini sebagai tempat bersemayamnya para arwah nenek moyang. Akan tetapi karena pengaruh alam dan ketidaktahuan masyarakat setempat, teras pertama dan kedua sudah tidak ada dan langsung menuju teras ketiga. Peninggalan yang terdapat pada situs tersebut antara lain: Batu Menhir 2 buah dengan ukuran masing masing tinggi 137 cm dan garis tengah 42 cm. Batu Lumpang (pecah dan hilang 1/5 bagian) 1 buah dengan ukuran tinggi 25 cm...
Situs watu gathel terletak di Desa Karangmangu Kec. Baturraden di sebelah timur jalan raya Baturraden di tengah-tengah areal pemukiman penduduk. Dinamakan watu gathel karena menurut kepercayaan masyarakat setempat bentuknya menyerupai alat kelamin laki-laki. Orang yang datang ke tempat tersebut selain ingin menyaksikan keunikan peninggalan prasejarah tersebut, juga meyakini dapat memperoleh penglaris dalam dunia perdagangan. Sebenarnya situs tersebut merupakan peninggalan prasejarah masa megalitikum sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang yang berjenis kelamin laki-laki dan berorientasi ke arah barat dan timur karena diyakini tempat bersemayamnya arwah nenek moyang tersebut berada di sebelah barat gunung Slamet. Disebelah timur situs tersebut terdapat aliran sungai Belot yang pada zaman prasejarah sudah digunakan sebagai tempat bersuci sebelum menuju tempat pemujaan arwah nenek moyang ( situs watu gathel ). Bahan dasar situs tersebut terbuat dari batu andesit yang bentuknya men...
Puri Taman Saraswati berfungsi sebagai tempat pemujaan keagamaan bagi Umat Hindu sekaligus sebagai obyek wisata, karena terletak di daerah hutan lereng utara Gunung Lawu yang sangat indah, dengan ketinggian 1.470 m di atas permukaan air laut. Titik fokus obyek wisata ini beupa keindahan Patung Dewi Saraswati, yang sengaja didatangkan langsung dari Gianyar Bali. Menurut kepercayaan umat Hindu, Dewi Saraswati adalah dewi yang berparas cantik, dengan perilaku yang lemah lembut, mengenakan busana nan indah, bersinggasana di atas Padma, kelopak bunga teratai yang diusung oleh sepasang angsa. Dewi Saraswati digambarkan bertangan 4 (empat), yang artinya meski ia seorang putri (wanita), namun dengan pengetahuannya yang berbudi luhur mampu mengemban 4 ilmu yang digambarkan dalam 4 alat yang dipegangnya, yaitu: Wina, Aksamala, Damaru dan Pustaka, yang artinya: Wina adalah simbol kekuatan yang indah, menarik, lemah lembut dan mulia, yang merupakan sifat dari ilmu pengetahuan, Damaru adalah sim...
Setiap pergantian tahun Jawa tepatnya awal bulan Suro yaitu tanggal 1 s/d 3 Suro masyarakat mengadakan kegitana ritual di Punden Jombaleko. Ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan 3 hari berturut-turut oleh masyarakat Dukuh Ngledok, Ngablak dan Talpitu. Pada malam harinya juga diadakan tirakatan sebulan penuh yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan para Peziarah dari luar daerah. Jalanya Upacara Adat Suran : Sore hari menjelang waktu Magrib pelakasanaan ritual, tokoh masayarakat dan Juru Kunci telah menyanggarkan kendi berjumlah tujuh (7) yang berisi air sumur setempat untuk di semayamkan di makam Arya Kusuma. Pagi harinya warga telah kambing di area punden, hewan yang di sembelih tidak boleh cacat dan harus Kambing kendit yaitu berbulu hitam dan begaris putih di badannya. Masakan yang untuk sesaji tidak boleh di cicipi dan yang masak tidak boleh dalam keadaan datang bulan (menstruasi). Siang hari sekitar jam 10.00 WIB, masyarakat berbondong-bondong dat...
Resep Tongseng Kambing Tanpa Santan : Porsi : 2 Orang Proses : 60 Menit Bahan bahan Tongseng Kambing 750 g daging kambing muda, iris dadu 3 sdt garam 1 sdt merica bubuk 4 sdm kecap manis 6 siung bawang putih, memarkan 5 lembar daun kol, iris-iris 5 buah cabai rawit, potong-potong 1 buah tomat, potong-potong bawang goreng, untuk taburan kuah 3 lembar daun salam 3 batang serai, memarkan 250 g tulang kambing/iga 1.5 l air bumbu halus 12 butir bawang merah 6 siung bawang putih 4 buah cabai merah 6 butir kemiri sangrai 1 sdm bumbu kari bubuk 2 – 2½ sdt garam Cara Membuat Tongseng Kambing: Kuah: Panaskan minyak dalam panci, tumis bumbu halus. Masukkan daun salam dan serai, aduk hingga harum. Masukkan tulang kambing dan air. Didihkan, kecilkan apinya dan masak hingga cairannya tinggal 1 L Angkat daun salam, sereh, dan iga. Jerangkan kembali kaldu di atas api, didihkan dan masukkan santan. Timba-timba santan hingga mendidih, angkat, sisihkan Campur daging dengan garam, merica, da...