Kalio Campur (sumber: E-book Mahakarya 5000 Resep Makanan dan Minuman di Indonesia)
Kalio Cubadak (sumber: E-book Mahakarya 5000 Resep Makanan dan Minuman di Indonesia)
Kambing Keluak (sumber: E-book Mahakarya 5000 Resep Makanan dan Minuman di Indonesia)
Kambing Masak Hijau (sumber: E-book Mahakarya 5000 Resep Makanan dan Minuman di Indonesia)
Pucuak koa atau Pucuak Kawa adalah salah satu makanan khas dari desa Harau, pucuak koa terbuat dari kawa atau pucuk daun kopi yang digoreng. dengan tambahan bumbu khas nagari harau menjadikan pucuak koa menjadi incaran setiap pengunjung yang datang ke harau, awalnya pucuak koa dibuat orang orang saat sedang ke ladang, karena keterbatasan bahan untuk dimakan, maka dipilihlah daun kopi untuk diolah menjadi pucuak koa karena mudah didapatkan, sekarang sangat mudah untuk menemukan warga harau yang membuat pucuak koa ,bukan hanya dari orang yang pergi keladang DaftarSB19
Hai Sobat Budaya, apakah kalian sudah pernah dengar Tradisi Makan Bejamba ? Yap, pastinya kalian belum tahu kan. Nah, kali ini saya ingin memperkenalkan Tradisi Makan Bejamba kepada kalian. Makan Bejamba pertama kali berasal dari Koto Gadang, kabupaten Agam, Sumatera Barat dan keberadaannya sudah ada sejak agama Islam masuk ke Minangkabau sekitar abad ke-7. Oleh karena itu, adab-adab yang ada dalam tradisi ini umumnya didasarkan pada ajaran Islam terutama Hadits. Beberapa adab dalam tradisi ini di antaranya adalah seseorang hanya boleh mengambil apa yang ada di hadapannya setelah mendahulukan orang yang lebih tua mengambilnya. Makan bajamba atau dapat disebut makan barapak merupakan tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dengan duduk bersama-sama di dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan. Tradisi ini umumnya dilangsungkan pada hari-hari besar agama Islam dan dalam berbagai upacara adat, pesta adat, dan pertemuan penting lainnya. Makan bajamba...
Halo teman-teman pecinta kuliner! Pernah makan rendang? Pasti pernah dong. Rendang adalah salah satu makanan khas daerah Sumatera Barat yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, yang mana bahan dasarnya adalah daging sapi, santan, dan juga bumbu-bumbu dapur lainnya. Daging dimasak bersamaan dengan santan dan bumbu hingga matang dan kuahnya asat. Cita rasa yang dimiliki Rendang tentu sangat khas bukan ? Lalu, apa teman-teman tahu masakan lainnya yang mirip dengan Rendang? Ya, Kalio Daging! Kalio Daging juga memiliki bahan dasar yang sama dengan Rendang, hanya saja perbedaannya adalah Kalio Daging tidak dimasak hingga bumbunya asat. Tentunya menghasilkan daging yang lebih lembut dan kaya akan kuah. Eits, jangan khawatir kalau Kalio Daging ini belum matang. Sudah matang kok, dan teman-teman bisa menyajikannya dengan sepiring nasi hangat dan juga sayur cempedak! Hmmm nikmat sekali bukan masakan khas Sumatera Barat yang satu ini? (Image source by google)
Tari Pasambahan adalah salah satu tari yang berasal dari Daerah Sumatera Barat. Jumlah penari biasanya ganjil, lima orang atau tujuh orang. Dengan satu orang membawa carano (sebuah wadah berbentuk bulat) yang berisi sirih atau makanan ringan lainnya dan selebihnya menjadi pengiring dari si pembawa carano. Tari Pasambahan biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu penting atau petinggi di daerah tersebut. Namun saat ini Tari Pasambahan juga ditampilkan pada perhelatan resepsi pernikahan. Setelah kedua mempelai memasuki tempat resepsi, para penari akan menarikan Tari Pasambahan sebagai bentuk hiburan untuk kedua mempelai dan para tamu undangan.
Siti Baheram adalah seorang perempuan muda asal Sungai Pasak, Pariaman yang dibunuh oleh pemuda bernama Ajo Juki, pecandu judi. Aju Juki ini masih memiliki hubungan kekerabatan dengan perempuan tersebut. Baheram ditemukan meninggal pada malam Minggu 11 November, tengah malam menjelang 12 November 1916, di Batang Sungai Pasak, Pariaman setelah mengalami penganiayaan. Pada telinga kanannya terdapat luka dan lehernya memiliki bekas diikat dengan rambut dan baju. Perhiasan yang ia pakai juga raib. Pembunuhan terjadi ketika Baheram hendak pulang ke rumah usai berkunjung dari rumah mertuanya di Kota Marapak. Kala itu, perempuan berusia 20 tahun ini memakai sepasang gelang emas, sepasang anting emas, peniti perak, dan tusuk konde. Si Juki bersama temannya yang bernama si Gambuik kemudian membunuh dan merampok perhiasan yang ia kenakan untuk dipertaruhkan di lapak judi. Kedua penjudi ini dikabarkan mengalami banyak kekalahan di medan judi sehari sebelum kejadian. Peristiwa pembuhun...